
"Ada apa kau memanggilku kemari?" tanya Saira saat sudah duduk di sofa dengan bantuan Romeo. Pria itu juga ikut duduk dan menatapnya.
"Ada yang ingin kukatakan padamu?"
"Memangnya tidak bisa sambil pulang."
"Auranya akan beda, sekarang kamu tutup mata."
"Jangan bilang kau ingin mengerjaiku!" tuduh Saira dengan penuh curiga.
"Tidak, sudah tutup matamu, tunggu biar kubantu." Romeo mengambil seutas kain hitam dan menutup mata Saira menggunakan itu.
Romeo segera mengambil sepotong kue besar dilengkapi lilin berupa angka. Ia juga sengaja mematikan lampu yang berperan penting menerangi ruangannya dan diganti oleh cahaya yang lebih minim. Setelah semuanya siap, ia mengizinkan Saira membuka penutup mata.
"Kau boleh membukanya sekarang."
Saira terkejut saat melihat apa yang tersaji di hadapannya saat ini. Terakhir kali ia merayakan ulang tahunnya adalah saat menduduki bangku kuliah. Setelah menikah, jangankan merayakan, bahkan hari ulang tahun nya pun terkadang ia lupa. Tidak ada yang spesial sama sekali.
__ADS_1
"Apa ini semua," ucap Saira dengan terharu.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Romeo lembut.
"Terima kasih, ini sangat indah."
"Kado indah untuk orang terindah, aku senang kalau kau menyukai kejutan kecilku."
Sungguh, Saira sangat terharu dengan apa yang dilakukan Romeo padanya. Pria yang sedang menatapnya dengan lembut, selalu bisa melambungkan dirinya ke bintang.
"Sekarang ucapkan doamu lalu potong kuenya."
"Terima kasih," ucap Saira sambil menerima pisau tersebut.
Dengan pelan ia mengiris kuenya dan memberikannya pada Romeo berupa suapan pertama. Kemudian suapan kedua Romeo yang menyuapinya. Keduanya tertawa sambil berbincang ringan. Beberapa potong kue pun berhasil mereka lahap dengan nikmat.
"Romeo tunggu, ada sisa kue di bibirmu." beritahu Saira.
__ADS_1
"Apa kamu tidak ingin membantuku menghilangkannya?"
"Kau ini manja sekali, untung baik."
Saira menggambil selembar tisu dan hendak mengusapnya tapi tangan Romeo menghentikan. "Kamu mau apa?"
"Kau bilang ingin menghilangkan sisa kuenya."
"Bukan begitu caranya," bisik Romeo tiba-tiba membuat Saira salah tingkah. Wajah pria itu bahkan sangat dekat dengannya dan setiap jengkal dari ketampanannya bisa di jelajahi oleh Saira tanpa terlewatkan. Hidung mancung, rahang tegas dan kokoh serta mata yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil dengan warna sebiru samudera. Alis sehitam bulu burung gagak dan bibirnya tercipta sangat seksi.
"Sudah puas menikmatinya?" bisik Romeo dan Saira hanya mampu membeku di tempatnya saat ini.
Perlahan ia bisa merasakan benda kenyal dengan wangian kue yang sangat menggoda. Tengkuknya juga dikuasai oleh tangan kekar milik Romeo. Pria itu ******* setiap jengkal bibirnya dengan sensual dan lembut. Tidak ada sedikit pun paksaan terlihat di setiap gerakannya. Kenyamanan yang diberi Romeo mampu membuat Saira membalas setiap ******* menjadi erangan ringan dan memenuhi ruang.
Remang cahaya lampu semakin membawa keromantisan tiada dua. Tangan kekar Romeo perlahan menjamah kemeja kebesaran milik Saira dan menemukan dua gundukan yang tidak begitu besar tapi sangat kenyal. Kewarasan mulai menghilang dari pikiran Saira, ia mempermudah pria itu untuk menembus kemejanya.
__ADS_1
Jangan dibayangkan, anggap aja lagi baca lagu nina bobok. 🤣🤣🤣