Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Rindu yang Mematikan


__ADS_3

Romeo yang mendengar kalimat Alyne spontan tertawa. Tapi ia tidak ingin wibawanya jatuh begitu saja. Untuk itu ia akan menundanya sampai kakinya tiba di ruangan.


"Selamat siang, Pak Asthon." gadis itu bangun dari kursinya dan berdiri.


"Siang, Raya. Bagaimana dengan tugas yang tadi pagi kuberikan padamu."


"Sudah saya laksanakan Pak. Beliau sudah menunggu di dalam ruangan."


"Terima kasih, kamu selalu bisa diandalkan."


"Makanya Bapak memilih saya."


"Kau benar, lanjutkan pekerjaanmu."


"Siap, Pak."


Gadis itu kembali duduk dan melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda beberapa detik yang lalu.


Viya menunggu dengan cemas di dalam ruangan dengan interior mewah yang ada di hadapannya saat ini. Romeo datang dengan tatapan tajam mematikan, bahkan wanita itu tidak berani berkutik sedikit pun.


"Ada apa dengan dandananmu?" tanya Romeo.


"Saya habis disiksa sama karyawan, Pak."

__ADS_1


"Sebutkan namanya agar saya bisa memberinya hukuman yang setimpal."


"Ae, Pak."


Romo menekan tombol telpon. "Raya, tolong panggil Ae ke ruagan saya sekarang." setelah selesai, ia segera mematikan panggilan dan menatap dengan iba.


Tatapan itu akan menajadi senjata untuk Viya menendang Alyne dari perusahaan ini. Itulah tujuannya, ia yakin Alyne tidak akan berani berkutik jika berhadapan dengan atasan langsung. Tidak lama kemudian sebuah ketukan membuyarkan lamunan Viya. Ia yakin itu adalah gadis itu.


"Bapak memanggil saya?" tanya Alyne dengan nada sopan.


"Benar, silakan duduk."


Mereka bertiga saling menghadap satu sama lain, dan persidangan pun dimulai. Viya terlebih dahulu menjelaskan asal usul tampilannya kusut dan bau seperti sekarang. Sedangkan Alyne tampak santai menanggapi ocehan Viya yang menurutnya terlihat dibuat-buat.


"Ae, bagaimana tanggapan kamu mengenai tuduhan Viya terhadapmu?" tanya Romeo dengan wajah serius.


Romeo hampir tertawa mendengar kalimat panjang dengan sekali tarikan napas. Tapi ia harus menahan sampai mereka berdua keluar dari ruangannya. Hari ini banyak stok tawa yang harus di keluarkan.


"Bohong! Itu semua bohong Pak." hardik Viya tidak terima.


"Bapak lihat! Dia sangat arogan padahal statusnya dengan saya jauh berbeda tapi beraninya bersikap kurang ajar."


"Diam kamu!"

__ADS_1


"Kamu yang diam, ini ruangan saya, bukan taman binatang apalagi hutan. Jangan bersikap kurang ajar."


Lama-lama Romeo dibuat jengah dengan kelakuan Viya yang jauh dari kata sopan. Bahkan caranya berbicara selalu dengan intonasi kasar dan keras.


"Tapi Pak, saya benar-benar ...," ucapannya langsung dipotong oleh Alyne.


"Saya ada buktinya Pak, kalau saya tidak pernah melakukan hal yang dituduhkan oleh Viya." ia menyerahkan ponselnya.


"Viya, apa kamu ada bantahan soal bukti ini?"


Wanita itu diam tanpa menjawab dan Romeo sudah mendapat jawaban.


"Saya sudah mendapat kesimpulan bahwa di sini Viya sudah melakukan banyak kesalahan termasuk berbohong, bertindak kasar, menuduh orang lain dan tadi pagi mencelakai salah satu karyawan. Dengan hati yang ikhlas, saya memutuskan untuk memberhentikan karyawan yang tidak berkompeten sama sekali."


Kalimat itu bagai ultimatum mematikan untuk Viya. Ia memohon dan menangis agar tidak dikeluarkan. Namun, Romeo sangat malas berurusan dengan tipe manusia seperti itu. Terlalu banyak drama memuakkan. Ia lebih baik membayangkan wajah Saira saat pertama kali bibir keduanya saling bersentuhan.


Tanpa sadar Romeo tersenyum menatap kepergian Viya. Sedangkan Alyne masih berada di sana.


"Pak, apa saya sudah boleh pergi?"


"Titip salam untuk Evellyn."


"Baik, Pak." Alyne segera pergi dengan bulu kuduk merinding. Perasaan baru saja mereka bertemu kini pria itu sudah mengirim salam.

__ADS_1


-------


Ya elah Romeo, baru aja aing pergi ente udah rindu. 😎😎😎 Tuh bonus buat guling-guling sambilan terbang. Senang ya kalian, minta di tendang satu-satu. Siapa yang mau jadi yang pertama ditendang ke Brankas


__ADS_2