Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Melihat dari Kejauhan


__ADS_3

Romeo segera mengeluarkan kursi roda yang dia beli khusus untuk Saira. Awalnya gadis itu keheranan, tapi ia tidak membantah Romeo dan leboh menuruti pria itu. Lebih cepat dia sampai maka akan lebih baik. Romeo mendorong kursi rodanya pelan dan menuju ruangan tempat biasa Saira cek.


"Bukan ke ruangan itu, kita harus ke lantai tiga."


"Ada apa di sana?" tanya Romeo bingung.


"Jangan tanyak dulu, kita harus ke sana pokoknya, ayo Romeo, aku tidak mau sampai terlambat."


Romeo segera menuju sebuah lift dan menekan angka tiga. Banyak pertanyaan yang melayang di benaknya mengenai kenapa Saira sangat ngotot menuju lantai tiga. Ada apa di sana? Beberapa detik kemudian, mereka audah sampai di lantai tersebut dan keluar. Saira masih duduk di kursi roda, terakhir dia ingat sang ibu dirawat di kamar 305 lorong melati 1, ia menyelusuri area sekita dan matanya menangkap nama tersebut.


"Di sana!" tunjuknya, Romeo segera membawa ke sana.


Di depan sebuah pintu, duduk seorang gadis yang sedang terlihat putus asa. Saira melihat air mata jatuh perlahan di pipinya meski ia tutupi dengan kedua tangan. Rasanya sangat sakit dan terenyuh melihat kondisi kakaknya yang sangat memprihatinkan.


"Gadis itu, dia sedang putus asa."


Romeo melihat gadis tersebut dan menganguk tapi satu hal yang membuatnya bingung. Ada urusan apa Saira dengan hal itu.

__ADS_1


"Lalu apa urusannya dengan keberadaan kita di sini?"


"Nanti akan kuceritakan, ayo kita ke bagian administrasi." ajak Saira.


Romeo menurut, tapi nanti ia meminta penjelasan agar kebingungannya terjawab. Gadis yang ia temui tadi memang sangat menyedihkan. Ia yakin banyak masalah berat yang sedang dia hadapi. Pikirannya yang melalang buana segera disadarkan oleh suara Saira.


"Romeo, tolong bantu aku untuk berdiri."


Romeo melakukan apa yang diminta Saira, dengan penuh kelembutan dan kehati-hatian. Tidak ingin membuat gadis itu merasa kesakitan atau tidak nyaman sedikit pun.


"Terima kasih," ucap Saira.


Saira menyerahkan sebuah kartu hitam ke pada perawat tersebut.


"Baik, Bu."


"Terima kasih, pembayarannya sudah lunas, saya akan mengabari segera kepada pasien." Perawat tersebut tersenyum senang karena akhirnya pasien atas nama Wawa bisa segera di operasi.

__ADS_1


Saira segera pergi dari sana dan meminta Romeo untuk membawanya ke suatu tempat. Sejak tadi pria itu selalu merecokinya dengan segunung pertanyaan. Mungkin ini saatnya pria itu tahu siapa dia yang sebenarnya. Setelah menempuh sekitar dua puluh menit, mereka akhirnya sampai di sebuah padang rumput hijau yang sangat indah.


Di sinilah mereka berada, Saira menyandarkan tubuhnya ke bahu Romeo yang sudah menunggu penjelasan sejak tadi. Rasa penasaran itu sangat membunuhnya, apalagi uang yang dikeluarkan oleh Saira bukan jumlah yang sedikit.


"Katakan Eve, apa yang kau lakukan dengan membayar biaya operasinya. Bahkan kita tidak mengenal mereka sama sekali."


"Aku mengenalnya, bahkan jauh sebelum kita berdua berkenalan."


Mendengar hal itu, alis Romeo menukik tajam. Apa sebelumnya gadis itu pernah tinggal di Indonesia sampai mengenalnya.


"Kau pasti bingung kan? Apa kau akan percaya dengan apa yang akan kukatakan nanti."


"Jika masih bisa diterima akal, aku pasti akan percaya," ucapnya.


"Bagaimana kalau ini tidak masuk logika, apa kau akan tetap mempercayainya?" tanya Saira meyakinkan agar dirinya tidak sia-sia bercerita panjang.


"Akan kupertimbangkan," putus Romeo pada akhirnya.

__ADS_1


---


__ADS_2