
Aksa terus memikirkan soal Saira, apalagi saat melihat senyuman yang dia berikan pada Sairaโputri dari kakak sepupunya yang sangat akrab dengannya. Ia sengaja memberikan nama Saira untuk mengingatkannya selalu pada istri yang belum sempat ia cintai selama hidupnya. Namun, senyuman itu, mengingatkan Aksa pada senyum Saira yang sudah lama tidak ia lihat.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Lena sambil membawa secangkir teh dan menyodorkannya ke arah Aksa.
"Siapa yang senyum-senyum," ucapnya sambil menerima cangkir tersebut dan meletakkan ke meja.
"Itu tadi, kamu senyam senyum sendirian." goda Lena sambil mencomot cemilan yang berada di dalam toples.
"Sok tahu," ucap Aksa. Ia mengambil cangkir dan menyesapnya pelan.
Mereka berdua diam sejenak menikmati rasa yang coba mereka selami. Lena melirik ke arah Aksa yang tampak sedang merebahkan badannya ke badan sofa. Ia memejamkan mata dan terlihat banyak gurat yang tercipta. Lena tahu setiap Aksa melakukan hal tersebut, pikirannya sedang berkelana pada Saira.
__ADS_1
"Sampai kapan kamu mau seperti ini terus?" tanya Lena pelan dan menatap Aksa dengan serius. Ia tidak mau melihat adiknya seperti tidak bernyawa. Fisiknya memang tertawa tapi Lena tahu ada sebuah luka yang tersimpan di dalam sana.
Aksa bangkit dari badan sofa dan mengembuskan napas pelan.
"Aku oulang dulu, kapan-kapan kalau butuh pengasuh lagi telpon aja."
Aksa segera berdiri dan berlalu dari sana. Lena melihat punggung Aksa dan mendesah pelan. "Setidaknya carilah wanita yang bisa mengurangi lukamu."
Aksa melambaikan tangan dan segera menghilang dibalik pintu. Ia segera menjalankan audi putih menuju kediamannya. Di tengah perjalanan ia teringat dengan ucapan Lena. Apa bisa ia move on dari kesedihannya. Bahkan rasa itu tampak tidak berujung sama sekali, ia hadie untuk menyiksanya.
Aksa sudah sampai di depan kediamannya yang bernuansa putih. Rumah besar yang sebelumnya ia huni bersama Saira. Dulu rumahnya sangat hidup dan bersinar terang, tapi sekarang semua sirna semenjak kepergian Saira. Rumah itu juga ikut kehilangan sang pemilik yang dengan ikhlas merawatnya. Ia menekan sebuah remot untuk membuka gerbangnya dan masuk setelah menutu kembali. Ia segera masuk ke dalam garasi.
__ADS_1
"Hari ini sangat melelahkan, tapi juga sangat menyenangkan."
Ia membuka pintu dan masuk, ia selalu disambut kekosongan dan kesunyian. Jika dulu, Saira selalu berdiri dan tersenyum menyambutnya. Kini, hanya embusan angin malam yang datang dan mengelus bulu halus di tangannya.
"Sayang, rumah ini akan teras hidup saat kamu berada di sini, mungkin rumah ini juga akan dipenuhi oleh suara tawa anak kita."
Aksa jatuh terduduk di sofa, selalu dan berulang, hal inilah menjadi rutinitasnya setelah pulang bekerja. Tangisnya selalu mengisi ruangan tersebut. Setiap kali matanya menelisik seluruh ruangan, bayangan Saira diacuhkan dan diabaikan olehnya tergambar jelas berputar. Tangisan Saira, ajakan Saira penuh permohonan yang selalu dia abaikan, sekarang tidak ada yang bisa ia rasakan selain rasa penyesalan.
Sebuah panggilan membuyarkan lamunanya atas kejadian di masa lalu, ia merogoh saku dan melihat nama si pemanggil.
"Ada apa?" tanya Aksa pelan.
__ADS_1
-----
Jangan lupa tinggalkan jejak. cmiw ๐๐๐๐