Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Kasih Seorang Ibu


__ADS_3

Wira kembali menunjukkan kesombongannya dengan mengejek mereka berdua dan mengatainya dengan bodoh.


"Ampuni kami dan lepaskan, kami tidak akan menganggumu lagi." pinta Alyne dengan wajah takut. Hal itu semakin membuat Wira senang bukan main.


"Mana bisa aku melepaskan kalian," ucapnya. "Tangkap mereka dan beri pelajaran!" perintahnya pada anak buahnya.


Tapi tidak ada yang melakukan satu pun. Bahkan mereka perlahan mengarahkan pistol menuju ke arahnya. Lalu mendengar tawa Saira membahana di ruangan tersebut.


"Kau ini seorang penjahat, tapi bodoh sekali tidak bisa membedakan mana anak buahmu sama yang bukan." Saira tertawa melihat kebodohan yang tersaji di hadapannya. Ia pikir pria itu sangat jeli ternyata tidak sama sekali.


"Kurang ajar, aku akan membalasmu!" marahnya.


"Kau! Mau membalasku? Kau bahkan tidak bisa membedakan mana anak buah sama yang bukan," ucap Saira sarkastik membuat pria itu sangat marah tapi pembalasannya baru saja akan dimulai.


"Bawa dia!" perintahnya.


Sedangkan dia bersama Alyne segera mencari tempat keluarganya di sekap. Di sana terlihat sang ibu sangat ketakutan dan ayahnya yang sudah tua pun tidak luput dari pengamatannya. Sang kakak juga terlihat sangat berantakan. Ia berjalan dengan wajah datar dan segera membawa mereka pergi dari sana.


Tidak ada satu pun di antara mereka yang membuka suara. Kedua orang tuanya mengalami syok atas penculikan sedangkan Izora masih merasa kaku dengan Saira yang memiliki wajah orang lain. Ia belum begitu terbiasa dengan semua itu. Dulu bahkan ia menghardiknya tanpa mengetahui apa pun, bagaikan orang bodoh.


"Terima kasih!" Kedua orang tuanya mengucapka terima kasih. Saira menatap mereka lama lalu memeluk mereka sambil mengusap punggung keduanya lembut.


"Tidak perlu berterima kasih," ucap Saira tersenyum lembut. Ia kemudian segera pergi meninggalkan yempat tersebut.


"Antar mereka bertiga dengan selamat!" perintahnya kepada salah satu anak buahnya. Sedangkan ia akan menuntaskan urusannya dengan pria bernama Wira.


"Kau, ikut denganku!"


Gadis itu segera membawa Wira menuju gudang kosong yang sudah ia persiapkan tempo hari. Pria itu akan mendapat balasannya di sana. Satu persatu akan ia tumpas dan yang terakhir yang akan menjadi hidangan penutup harus dilakukan dengan spesial.


"Yudi! Dia akan jadi hidangan penutup, bagaimana menurutmu?" kekeh Saira sambil menendang tubuh pria itu hingga tersungkur.


"Jangan berani-beraninya kau menyentuh putraku! Kalau tidak aku akan ...."

__ADS_1


"Atau apa? Kau bahkan tidak sanggup berdiri, ah! Apa kau ingat Romeo? Kekasih yang sangat aku cintai, tapi kau merenggutnya bukan? Maka saksikan lah saat semua yang kau cintai kurenggut satu persatu."


"Jangan menyentuh keluargaku sialan!"


"Hoho, aku tidak akan menyentuh mereka seinci pun tapi kau yang akan melakukannya!"


Pria itu menatap tajam manik kebiruan milik Saira dengan marah. Ia kini tidak berdaya sama sekali. Terlalu meremehkan seorang wanita ternyata menjadi sebuah kesalahan baginya. Tapi apa pun itu, ia bersumpah akan membalas wanita itu bagaimana pun caranya.


"Kau tidak akan perah bisa membalasku, kau tahu kenapa?" tanya Saira sambil tersenyum misterius. "Karena kau tidak akan pernah bisa melakukan apa pun lagi."


Saira memutar sesuatu di tangannya, "sebelum itu, tentu saja aku harus menghancurkanmu terlebih dahulu. Karirmu dan semua yang kau bangun dengan kecurangan, akan segera berakhir dalam hitungan detik."


Tawa Saira memenuhi ruangan pengap tersebut sehingga membuat Wira merasa sudah bertemu dengan malaikat pencabut nyawa dalam sosok perempuan. Ia menggigil ketakutan.


"Kenapa, hm?" kekeh Saira.


"Hancurkan karirnya!" perintah Saira pada Alyne. Gadis itu segera mengirim sesuatu ke pada seorang wartawan dan pemilik televisi yang sangat ingin membongkar kedok Wira.


"Roy, buka berita terhangat malam ini." perintah Saira pada pria berbadan kekar.


"Baik, Nona."


"Bagaimana menurutmu? Menarik bukan? Sekarang kau tahu bagaimana rasanya kehilangan segalanya bukan?"


Saira menarik kerah baju Wira dan mentapanya dengan tajam. Matanya seolah mampu membelah siapa pun menjadi bagian kecil.


"Kau melakukannya dengan tergesa-gesa, maka aku akan melakukannya dengan perlahan sampai kau tidak mampu lagi bernapa. Bahkan kematian akan sangat berharga bagimu!"


"Ikat dia!" perintah Saira setelah melepaskan tangannya dengan kasar.


Malam itu mereka meninggalkannya sendirian di dalam gudang yang dipenuhi berbagai macam jenis makhluk hidup. Pria itu tanpa sadar sudah mengusik iblis yang sedang tidur dalam diri Saira. Malam itu ia menyadari semuanya kekeliruannya karena sudah mencari masalah dengannya.


"Tolong ... tolong ... tolong," ucapnya tanpa bisa didengar oleh siapa pun.

__ADS_1


"Jangan sampai biarkan dia mati, karena aku harus menyerahkannya kepada Riko."


"Baik, Nona."


Malam itu Alyne dan Saira kembali ke kediamannya dan kembali gadis itu menangis saat malam menjelang. Semua sentuhan Romeo seolah masih membekas di ingatannya. Ia masih bisa merasakan deru napas yang membara saat keduanya menyatu dalam kabut gairah bernama cinta.


"Kau di mana?" tanya Saira pada belaian angin yang menyelinap masuk menerpa wajahnya.


Lagi-lagi setitik air mata jatuh membasahi pipi mulusnya. Ia rindu dekapan Romeo yang selalu bisa membuatnya tenang dan nyaman. Ia tidak akan pernah sanggup hidup tanpa kekasihnya. Tuhan begitu kejam membuat mereka berpisah dengan cara seperti ini.


"Kau pernah berjanji kan, akan selalu bersamaku, kemana janjimu?" isaknya.


Saira pun tidur dalam genangan air mata yang tidak mampu ia bendung dengan cara apa pun. Ia terlihat kuat di siang hari tapi tidak di malam hari. Pikirannya terus berkelana tanpa tujuan. Bahkan tidak ada kabar sedikit pun dari anak buahnya.


Jemarinya perlahan bergerak dan suster yang bertugas menjaganya segera memanggil dokter.


"Dok, pasien sudah mampu menggerakkan jarinya."


"Itu perkembangan yang bagus, dia berhasil melewati koma dan masa kritisnya." dokter tersebut tampak tersenyum mengetahuinya.


"Syukurlah, keluarganya sudah menunggu kabar baik ini Dok."


Mereka berdua segera menemui kedua orang tua Romeo untuk memberikan kabar gembira mengenai kondisi putra mereka.


"Pak, putera Anda sudah berhasil melewati koma dan masa kritisnya. Dal beberapa hari dia akan bisa membuka matanya."


Kabar baik yang disampaikan oleh dokter tersebut membuat wanita itu sangat senang. Ia sudah lama menunggu momen di mana putranya akan bangun.


"Terima kasih, Dok."


"Jenguklah pasien dua hari lagi, untuk saat ini dia harus istirahat."


Mereka menganguk patuh dan segera kembali, kabar baik ini tidak boleh sampai terdengar ke telinga seseorang. Ia belum bisa memaafkan Saira atas apa yang menimpa putranya. Jika bisa, ia akan memisahkan mereka berdua secepatnya.

__ADS_1


"Maafkan Mama sayang, tapi ini yang terbaik buat kamu, Mama tidak sanggup jika harus kehilangan kamu hanya untuk Evellyn."


----------


__ADS_2