Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Turun Jabatan


__ADS_3

"Pak, saya mohon jangan pecat mereka."


Romeo menatap Saira dengan tatapan bertanya. Mata keduanya saling bertanya dan menjawab satu sama lain.


"Kalian lihat, karena Lyn memaafkan kalian, saya juga memaafkan kelakuan kalian. Tapi sebagai hukumannya, kalian berdua akan diturunkan jabatan menjadi pegawai biasa."


Mendengar hal itu mereka menjadi sangat panik dan kembali memohon, mereka bahkan memegang kaki Saira, alhasil gadis itu meringis kesakitan dan Romeo kembali marah.


"Apa kalian sudah tuli! Masih untung saya tidak memecat kalian, tapi jika kalian menginginkannya akan saya berikan. Tapi nama kalian berdua akan di black list dari semua perusahaan."


Keduanya tampak bergetar dan menerima semua keputusan Romeo dengan lapang dada meski sebenarnya mereka tidak ikhlas. Tapi dari pada jadi pengangguran, lebih baik jadi pegawai biasa. Di Jakarta tingkat pengangguran sangat tinggi, jika mereka menjadi salah satunya maka tamat sudah perekonomian keluarga keduanya.


"Kalau sudah selesai, silakan keluar!" usir Romeo dengan tatapan datar. Ia sangat tidak menyukai kepribadian yang semena-mena kepada orang lain. Apalagi korbannya adalah Saira, ia sangat tidak menerimanya.


Mereka segera keluar dengan wajah hampa, jabatan yang dibanggakan hilang dalam sekejap. Orang yang pernah ditundas pasti akan menyumpahi keduanya jika tahu akan hal ini.


Romeo masih kesal menatap kepergian keduanya. "Masih kesal?"

__ADS_1


"Masih," ucap Romeo. Ia lalu melihat kembali ke arah Saira.


"Bagaimana kondisi kakimu? Apa masih sakit? Apa kita ke rumah sakit aja?" tanya Romeo khawatir.


"Nggak perlu, sekarang udah baikan. Kan sudah diobati tadi. Itu sudah lebih dari cukup. Terima kasih." ucapan itunterdengar sangat tulus di telinga Romeo.


Ia memanggil Raya dan menyuruhnya mengantantar Saira sampai ke ruangannya. Gadis itu muncul dengan sopan dan tersenyum menatap Saira.


"Mari, Nona Lyn," ucapnya dan segera permisi.


Saira sebenarnya tidak enak karena sudah merepotkan Raya atas kondisinya. Ia juga sempat protes melalui tatapannya. Namun, pria itu terlihat mengabaikan ucapannya.


"Terima kasih atas bantuannya," ucap Saira tulus. Ia memberikan sebuah senyuman dan akan mengingat selalu dengan apa yang sudah dilakukan oleh Raya. Ia tahu gadis itu sangat baik dan selalu bersikap profesional.


"Apa kamu baik-baik saja?" Alyne dan Elca segera mendekati Saira dengan cemas.


"Tenang saja, bos kita sangat adil."

__ADS_1


Keduanya menghela napas lega dan bersyukur karena Saira kembali dengan selamat. Mungkin mereka terkesan lebai dan terlalu drama. Tapi itulah kenyataannya. Lalu mata Alyne membulat dengan sempurna saat ia teringat satu hal.


"Apa Pak Asthon tahu kalau kamu ini Evellyn?" tanyanya sambil berbisik pelan.


Anggukan Saira membuat jantung Alyne berdegup kencang. Ia seperti mencium bau yang tidak sedap antara keduanya.


"Apa kita akan dipecat?"


"Tenang saja, kau dan aku alias kita berdua akan aman di sini."


"Syukurlah." desah Alyne lega.


"Lalu bagaimana dengan kabar mereka berdua?"


"Besok juga kau akan tahi jawabannya. Yang harus kau lakukan sekarang adalah update."


Mendengar kalimat Saira yang membuatnya sangat penasaran, ia mendengkus kesal. Tapi setelah itu ia tersenyum. Ada baiknya ia mengetahui besok saja, sekaligus memberi keduanya ucapan selamat karena sudah berani macam-macam dengan atasannya.

__ADS_1


------------


Kasian deh lo. makanya jangan belagu wkwkwkkw


__ADS_2