Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Keganasan Alyne


__ADS_3

Kabar mengenai jatuhnya Saira sudah sampai ke telinga Alyne. Tangan gadis itu mengepal erat dan giginya tampak bergemeletuk menahan amarah. Cukup sudah, ia tidak bisa terus membiarkan wanita itu melenggang di perusahaan itu. Dengan tekat sebulat planet bumi, Alyne mendatangi Viya yang saat itu sedang istirahat di ruangan khusus OB. Baginya tidak ada lagi yang namanya basa basi dan toleransi. Mungkin balasan dia tempo lalu kurang berkesan.


"Apa kalian melihat Viya?" tanya Alyne pada pegawai yang biasa berinteraksi dengan wanita itu.


"Ada di ruang OB." beritahu salah satu dari OB yang kebetulan baru selesai mengganti pel nya.


Alyne segera mendatangi Viya, bahkan dengan kasar dia membuka pintu dan menendangnya kasar. Viya yang sedang makan pun terlihat kaget dan hampir tersedak.


"Nggak punya sopan santun ya!" pekiknya.


Tanpa basa basi, Alyne segera mengambil bekas air pel dan menuangkan ke seluruh badan wanita itu hingga terpekik jijik.


"Apa yang kau lakukan!" teriaknya marah. Bau cairan pengepel sangat menyengat dan menusuk hidungnya sampai Viya merasa sedikit pusing.

__ADS_1


"Tentu saja menyirammu dengan bekas air pel. Kenapa? Mau protes?" sinis Alyne.


Karena amarah sudah memenuhi kepala Viya, tanpa berpikir panjang ia segera menggeser kursi dan menghampiri Alyne yang terlihat sedang melipat kedua tangan dengan gaya sombong elegan. Namun, satu hal yang tidak diketahui Viya, bahwa Alyne sudah menetesi lantai dengan cairan pembersih dan dicampur dengan sedikit air. Tubuh Viya jatuh terpeleset dan terlihat kesakitan. Ia menyumpahi Alyne dengan berbagai nama jenis hewan di kebun binatang.


"Sakit?" ejek Alyne dan pergi meninggalkannya yang menangis di sana. Itulah pembalasan Alyne jika berani melukai bosnya. Gadis yang sudah ia anggap sebagai temannya, begitu pun sebaliknya.


"Aku akan melaporkanmu kepada Pak Asthon. Awas saja kau!" teriaknya yang masih bisa di dengar oleh Alyne.


"Kita lihat saja nanti, *****!"


"Dari siapa?" tanya Saira saat kakinya sudah selesai diperban oleh dokter dengan perban elastis.


"Dari Raya, katanya Alyne menyerang Viya, gadis itu sungguh luar biasa." kekeh Romeo. Ia tidak menyangka gadis dengan tampang sepolos itu bisa berubah mengerikan saat orang terdekatnya diganggu dan disakiti.

__ADS_1


"Astaga gadis itu!" Saira menggeleng tidak habis pikir dengan apa yang sudah dilakukan Alyne pada wanita itu. Kalau sudah begini, ia tidak perlu lagi repot-repot untuk membalas wanita itu.


"Apa kamu bisa berjalan?"


"Menurutmu?" dengkus Saira berhasil membuat pria itu tertawa lebar.


"Biar ku gendong ...."


"Jangan lakukan itu!" mata Saira terlihat melotot.


"Baiklah, aku akan meminta perawat menyediakan kursi roda agar kamu tidak perlu digendong." Romeo mengedipkan mata kanannya.


"Cukup pakai kruk aja, kalau pakai kursi roda kesannya dramatis."

__ADS_1


----


__ADS_2