Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Elca ... Elca


__ADS_3

Hari yang ditunggu oleh mereka semua sudah tiba. Kini saatnya Saira menyerahkan bukti tersebut kepada orang yang ia percayai. Tidak sembarangan, Saira juga sudah menyelidiki latar belakang pria tersebut untuk memastikan apakah dia pelindung penjahat atau pembasmi. Gadis itu berjalan menuju ruangannya untuk mengambil berkas tersebut. Namun, ia dikagetkan oleh ketidakberadaan berkas tersebut.


"Terkahir aku meletakkanya di sini? Kemana berkasnya?" tanya Saira bingung.


Ia terus mencari dengan teliti ke seluruh ruangan. Namun, tidak juga menemukannya. Saira keluar dan menemui mereka semua yang berada di ruang tamu.


"Apa kalian ada masuk ke ruangan pribadiku?" tanya Saira dengan wajah serius.


Mereka semua menggeleng. "Aku tidak pernah berani masuk ke ruanganmu."


Alyne menjawab dengan tenang dan penuh kepastian. Saira percaya pada apa yang dikatakan oleh Alyne karena dia tahu bagaimana gadis itu. Ia menatap wajah Elca yang terlihat sedikit gugup saat mata mereka saling bertemu pandang.


"Elca, bagaimana denganmu?" tanya Saira dengan penuh selidik.


"Aku tidak pernah masuk ke dalam ruanganmu," ucapnya sedikit gugup.

__ADS_1


Saira kini menatap Izora dan ia sangat tahu bagaimana kakaknya. Tidak pernah dalam sejarah gadis itu akan melakukan tindakan seperti ini. Saira menatap mereka dengan tajam bahkan Alyne sekali pun terlihat gentar melihatnya.


"Penghuni rumah ini hanya kita berempat!" tekan Saira terdengar mendesis tajam.


Mereka bertiga menunduk ketakutan melihat kobaran tidak kasat mata tersebut. Saira terus memperhatikan gerak gerik ketiganya dan hanya Elca yang menunjukkan gerik sebaliknya. Gadis itu terlihat gemetar dan perlahan terisak tanpa dia sadari.


"Kenapa kau menangis?" tanya Alyne bingung.


Gadis itu hanya menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Alyne. Saira mengepalkan tangan dan mengambil sebuah pot kaca dari meja lalu menghantam ke dinding hingga isinya pecah berai memenuhi permukaan lantai. Mereka bertiga kaget akan hal itu dan Elca segera berlutut dan menangis dengan kencang.


Saira menatap gadis itu dengan bengis seolah tidak ada ampunan baginya karena sudah menghianati Saira.


"Jelaskan!" perintah Saira dengan intonasi sedingin antartika. "Kau tahu, aku tidak suka dikhianati."


"Yudi mengancam akan membunuh adikku jika aku tidak menyerahkan bukti kejahatan ayahnya." Elca mengatakan hal tersebut dngan suara bergetar hebat.

__ADS_1


"Lalu, apa menurutmu dia akan menepati janjinya? Tanya Saira dengan kesal. Ia tidak tahu gadis macam apa yang sudah ia selamatkan ini.


"Tentu saja, iya kan?" Elca bahkan berkata dengan penuh keraguan.


"Gadis bodoh! Kau pikir siapa Yudi? Apa kau tidak bisa membedakan setan dengan iblis?"


Saira kembali melempar pot bunga ke dinding hingga menimbulkan suara nyaring yang mampu membuat jantung mereka bertiga seolah copot. Izora menatap Saira dengan takut, ia tidak tahu jika gadis itu, selain memiliki tatapan dingin andalannya, ia juga sangat mengerikan saat marah.


"Kau tahu? Aku bisa membuatmu seperti pot itu!"desisnya.


"Maafkan aku Eve, aku berjanji akan menebus semuanya."


"Dengan cara apa kau menebusnya? Kau bahkan dengan mudah digoyahkan oleh sebuah ancaman. Apa kau pikir Yudi lebih hebat dariku? Sampai kau melakukan semua ini!" teriak Sara membelah kesunyian ruang tamu tersebut.


"Aku sudah salah padamu," ucap Elca dengan wajah penuh penyesalan.

__ADS_1


"Aku tidak pernah membutuhkan maaf atau kalimat menyebalkan yang keluar dari mulutmu!"


-----


__ADS_2