Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Ketakutan William


__ADS_3

William sudah membuat keputusan, ia akan merendahkan egonya agar Saira tidak melaksanakan ancamannya. Halena juga sudah berada di ruang kerja suaminya.


"Lena, di mana Eve?" tanya William sambil membolak-balik dokumennya.


"Aku sudah menyuruh Bibi memanggilnya."


Selang beberapa menit, seorang asisten rumah tangga datang dengan wajah khawatir. Halena dan William sedikit heran melihat kearahnya.


"Ada apa?" tanya William tegas.


"Itu Tuan, Nona Evellyn tidak ada di kamarnya."


William sedikit terkejut sedangkan Halena sudah panik. Mereka segera menuju kamar Saira, yang pertama kali Halena lakukan adalah mengecek lemari pakaian. Jantung Halena melemas saat tidak menemukan sepotong pakaian pun di sana. William juga tampak terperanjat melihatnya. Sedangkan Tasma dan Chloe juga datang ke sana dan mereka tersenyum. Mereka yakin bahkwa Saira sudah meninggalkan rumah ini.


"Will, bagaimana ini! Aku tidak mau kehilangan Eve lagi!" teriak Halena histeris.


"Lena, tenanglah! Aku yakin Eve tidak pergi jauh. Kita akan mencarinya."


"Em, Will apa kami bisa ikut mencarinya?" tanya Tasma yang mendapat anggukan dari William.

__ADS_1


"Rico! Rico! Teriak William dari lantai dua. Pria yang terlihat mash tamoan di usia empat puluh tahun itu lari tergopoh-gopoh menghampiri William.


"Ada apa Tuan?"


"Siapkan mobil sekarang!" William berujar tegas.


"Baik, Tuan."


Rico segera menyiapkan mobil. Sedangkan Halena sudah menangis di tempatnya. Putrinya sudah berjanji tidak akan meninggalkan dia. Lalu apa sekarang, ia bahkan ditinggalkan tanpa pamitan.


"Will, bagaimana ini! Aku akan mati jika kehilangan Eve lagi."


"Sayang, jangan berkata seperti itu, putri kita pasti akan ditemukan. Aku yakin dia hanya merajuk."


"Will, coba telpon Alyne mungkin gadia itu tahu kemana Eve."


"Iya sebentar," ucap William sembari mengeluarkan ponselnya dari saku dan mencari nama Alyne.


Alyne kaget melihat ayah dari bosnya menelponnya. Apa yang harus ia katakan mengenai Saira yang tidak ingin diketahui keberadaannya. Alyne mengambil ponselnya dengan tangan gemetar.

__ADS_1


"Selamat Pagi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Alyne dengan sopan.


"Alyne, apa Evellyn ada di rumahmu atau sedang bersamamu."


Bibir Lyne bergetar hebat antara harus mengatakan yang sebenarnya atau harus berbohong. Jika dia berkata jujur maka Saira akan membencinya. Namun, kalau dia berkata bohong maka Bos besarnya akan murka. Ia seperti sedang disuruh menelan buah simalakama. Alyne mencoba menetralkan jantungnya yang berdetak dengan ritme tak beraturan.


"Maaf, Tuan. Saya tidak tahu menahu soal Nona Evellyn."


"Apa kamu yakin?" tanya William kembali memastikan.


"Saya sangat yakin, Tuan." Alyne memegang jantungnya yang meronta.


"Baik, terima kasih."


Alyne mengembuskan napas lega setelah panggilan berakhir. Rasanya ia baru saja diteror malaikat pencabut nyawa. Saira keluar dari kamar mandi dan menatap Alyne dengan wajah bertanya.


"Eve, barusan bos besar menelpon dan menanyakanmu padaku."


"Lalu apa yang kau katakan padanya?" tanya Saira penasaran.

__ADS_1


"Aku mengatakan sesuai dengan apa yang kamu suruh. Tapi jantungku berdetak dengan menggilan dan aku jadi merasa bersalah Eve."


 


__ADS_2