
Saira masih berada di kantor saat jam menunjukkan pukul delapan malam. Tumpukan map itu sangat menguras waktunya. Namun, ia bersyukur karena Aksa selalu mengajaknya untuk makan malam. Saira mengusap tengkuknya yang terasa pegal. Sesekali ia merenggangkan ototnya dari rasa nyeri. Alyne sendiri sudah pulang atas perintahnya.
Satu hal yang tidak ia ketahui bahwa Romeo juga lembur. Setelah selesai, ia segera mengemasi barangnya dan mengambil kunci mobil dan berlalu menuju lobi. Ia menekan lift dan memasukinya. Bertepatan dengan Romeo yang juga akan masuk. Ia menghentikan lift yang sedikit lagi akan menutup. Hal itu membuat Saira kaget. Ia berteriak kencang dan memukul wajah Romeo sampai pria itu mengaduh kesakitan.
"Hei, hei hentikan! Apa yang kau lakukan!" teriak Romeo kesal.
Saira sadar dan segera membuka matanya. Ia menundukkan kepala saat sepasang mata itu menatapnya tajam.
"Kenapa malam-malam masih di sini?" tanya Romeo tajam.
"Maaf, Pak. Saya lembur."
Pria itu menghela napas pelan sambil melihat jam hublot melingkar di tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Selama di dalam lift, mereka diam dan tidak berbicara sepatah kata pun. Saira segera keluar setelah sampai di lobi. Pakaian yang ia kenakan tampak familiar dan Romeo terkejut mengetahui hal itu.
Ia menepuk pipinya karena kesal, bagaimana bisa dia menyia-nyiakan waktu bersama saat di lift. Harusnya ia bertanya banyak agar rasa penasarannya sirna.
"Tunggu!" teriaknya, ia segera menyusul langkah Saira menuju parkiran.
__ADS_1
"Siapa namamu?" tanyanya penasaran.
Langkah Saira berhenti sejenak, ia tidak berbalik badan sama sekali. "Saya Lyn, saya pulang duluan, Pak."
Romeo menatap kepergian Saira dengan wajah bingung. Ia tidak tahu harus berkata apa dan bereaksi bagaimana. Bukankah seharusnya gadis itu merasa senang? Karena ia menanyakan namanya. Bahkan, gadis itu tidak menanyakan namanya balik. Pada akhirnya Romeo tersenyum kecil.
"Sungguh, wanita yang menarik!" Ia juga segera pergi menuju kediamannya.
Aksa sendiri mendadak galau karena Saira tidak menjawab panggilannya. Padahal hubungan mereka baru saja dekat. Ia berencana untuk mengajaknya makan malam agar bisa mengungkapkan isi hatinya. Bayangan Saira perlahan memudar darinya. Itulah yang ia yakini semenjak kedatangan Saira yang ia ketahui sebagai Evellyn.
"Halo, Aksa! Ada apa?" tanya Saira sambil mengemudikan mobilnya.
Saira mendesah malas mendengar suara Aksa. "Jam berapa?"
Pria itu tampak tersenyum senang di seberang telpon. "Jam tujuh malam kujemput."
"Baiklah," ucapnya dan segera mematikan panggilan.
__ADS_1
"Cih, cinta mati pada Saira, tapi nyatanya dia dengan mudah bisa melupakanku. Awalnya aku berniat memaafkan Aksa, tapi semuanya perlu ditata ulang!"
Saira melajukan kecepatan mobilnya hingga tiba ke rumahnya. Di luar lagi-lagi Alyne menunggunya dengan cemas. Gadis itu selalu membuatnya merasa sangat berharga.
"Akhirnya kamu pulang juga, aku sangat khawatir." Ia segera menghampiri Saira dan mengambil tas serta memasukkan mobil ke dalam garasi.
"Kau ini terlalu mengkhawatirkanku, kenapa tidak cemas sama atasan kita di kantor."
"Jangan bilang si bos tampan."
"Lihatlah wajahmu saat membicarakan dia? Apa kau jatuh cinta padanya?" selidik Saira sambil memicingkan mata.
"Aku sudah menyiapkan makan malam, ayo makan bersama!" Alyne mengalihkan pembicaraan membuat Saira semakin yakin.
"Jangan mengalihkan topik pembicaraan Alyne, ah kau benar-benar sudah terjerat rupanya." ejek Saira.
-------
__ADS_1
Banjiri sana komennya, awas ya kalau nggak kalian banjiri, ntar kupanggil bendungan buat menghanyutkan kalian ke bank 😏😏😏