
Kisah Tasma telah berakhir. Kini tugas Saira sudah selesai. Ia akan segera menyelesaikan urusannya di Indonesia. Saira menarik napas lega, ia berharap Evellyn akan tenang di sana. Meski William masih terluka dengan insiden yang terjadi.
"Ma, Eve akan kembali ke Indonesia lusa. Pekerjaan Eve belum selesai."
"Mau ninggalin Mama lagi?" tanya Halena dengan sedih.
"Tidak, Ma. Eve hanya menyelesaikan pekerjaan kemarin. Kasihan juga partner kerjanya karena dilepas begitu saja."
"Tapi janji sama Mama, kamu akan segera kembali."
Saira menganguk dan tersenyum menenangkan wanita yang sudah tidak lagi muda, tapi masih terlihat cantik dan menawan.
"Ma, Papa di mana?"
"Papa ada di ruang kerjanya, coba kamu hibur Papamu ya sayang. Sejak tadi pagi mengurung diri di ruang kerjanya.
"Ya sudah, Eve akan membujuk Papa."
"Terima kasih sayang."
Saira segera menuju ke ruang kerja ayahnya untuk membicarakan hal penting mengenai kepulangannya ke Indonesia. Ia mengetuk pintu sampai tiga kali. Ia hendak beranjak, tapi pintunya dibuka oleh William yang tampak sangat murung dan tidak bergairah. Penampilannya tampak sangat kacau.
"Pa, ada yang mau Saira sampaikan ini mengenai masalah penting."
__ADS_1
"Katakan saja," ucap William dngan wajah kusut masai.
Saira tahu, pria dihadapannya saat ini sedang sangat terluka dan terpukul atas kejadian yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Ia harus berkata jujur pada pria itu.
"Apa Papa marah dengan kenyataan yang baru Papa ketahui?" tanya Saira lembut.
"Papa merasa tidak berguna sebagai seorang ayah. Bahkan kecelakaan yang menimpa kamu saja, Papa tidak tahu sama sekali. Lalu sekarang, adik yang Papa percayai ternyata yang menyebabkan semua ini terjadi."
Banyak raut sesal terlihat di wajahnya yang masih tampan di usinya yang sudah senja. Saira menatap serius.
"Bagaimana jika Eve sudah mati! Apa Papa masih sedih karena Bibi Tasma masuk penjara!"
William mengalihkan tatapannya pada Saira yang terlihat tidak berkedip sama sekali. Tatapannya juga tampak datar dan tidak ada raut candaan di sana.
"Gadis yang saat ini sedang berdiri di hadapanmu saat ini bukanlah Eve."
"Eve kenapa kamu mengatakan hal seperti ini?"
"Itulah faktanya Tuan William. Saya bukan putri Anda."
"Kalau kamu bukan putri saya, lalu kenapa wajahmu sangat mirip dengannya. Lalu di mana putri saya sekarang."
Saira tersenyum dan kembali menatap William. "Putrimu ada dihadapan mu Pa."
__ADS_1
"Eve kenapa kamu mempermainkan Papa."
"Bukan mempermainkan, hanya memberi contoh jika putrimu benar-benar meninggal dunia. Apa Papa masih akan sedih atas apa yang menimpa Bibi Tasma."
William tampak sedang berpikir. Apa benar jika putrinya meninggal akibat kecelakaan tersebut, ia masih akan sedih atas Tasma? Bukankah sudah seharusnya ia membenci wanita yang sudah menyebabkan segalanya menjadi hancur.
"Papa tidak akan bersedih lagi, Papa sudah membuat keputusan."
"Syukurlah, Pa. Kalau begitu Eve ke kamar dulu."
Saira segera bangun dan berjalan beberapa langkah. Ia melupakan sesuatu karena pembahasan yang baru saja mereka selesaikan.
"Pa, Eve akan kembali ke Indonesia dalam waktu dekat."
"Berapa lama?"
"Mungkin lebih lama dari kemarin Pa. Tapi jangan memberitahu hal ini pada Mama."
"Memangnya kenapa?" tanya William heran. Tidak biasa putrinya ingin menyembunyikan sesuatu dari istrinya
Jangan lupa terus dukung saya ya guys. terima kasih.
__ADS_1