
Lalu mereka kembali diam saat Romeo datang dan menyapa mereka semua. Saira berjalan cepat agar tidak perlu bertemu dengan Romeo tapi naas, saat kaki kanan tanpa sengaja menyalip kaki kirinya. Alhasil, tubuhnya oleng dan hampir menyentuh lantai. Romeo yang melihat hal tersebut dengan sigap berlari ke arahnya dan menangkap pinggang Saira.
"Sayang, kau hampir membuat jantungku copot. Bagaimana kalau kau keguguran." bisik Romeo.
"Hamil? Siapa yang hamil?" tanya Saira setelah ia berdiri kembali.
"Tadi malam katanya lagi hamil, " ucap Romeo sambil menggodanya.
"Itu hanya supaya si Aksa tidak mengangguku lagi."
"Tidak mau beneran hamil?" tanya Romeo setelah mereka memasuki lift.
"Mau, kalau sudah menikah!"
Kepergian keduanya di tatap benci oleh satu orang yang mengepalkan tangan geram. Ia pasti akan memberi pelajaran untuk gadis yang sudah merebut Romeo darinya. Setidaknya itulah yang selama ini dia tanamkan.
"Nanti mau pakai baju apa kalau kita menikah?" tanya Romeo.
"Yang jelas bukan pakai baju tidur." sarkas Saira dan berlalu keluar dari lift.
Romeo tersenyum, dan melambai pelan ke arah Saira meski gadis itu tidak melihatnya sama sekali. Suasana hatinya selalu berbunga jika bersama Saira. Bahkan luka beberapa tahun yang lalu, sembuh begitu saja semenjak kehadiran Saira dalam hidupnya. Sebentar lagi mereka akan menikah, tinggal menunggu sedikit lagi.
__ADS_1
Di lain tempat, Izora sangat bahagia karena kondisi ibunya sudah mulai membaik. Bahkan kabar tersebut sudah sampai kepada Saira. Gadis itu tersenyum senang. Alyne yang melihat hal itu sedikit penasaran lalu mendekat dengan pelan.
"Pesan dari siapa? Apa dari Pak Romeo?" tanya Alyne sambil menggodanya.
"Lanjutkan pekerjaanmu, atau nanti kutinggal pulang."
Alyne kembali dengan wajah masam tapi tidak bertahan lama karena dia segera kembali tersenyum. Perlahan raut senyum sudah sering muncul di wajah Saira. Itu saja sudah cukup bagi Alyne.
"Syukurlah, Mama sembuh." Saira sangat berterima kasih karena Tuhan masih menjawab doanya dan membuat ibunya sembuh. Meski tidak lagi bisa memeluknya seperti dulu, setidaknya Saira sudah bahagia sekarang.
Saira kembali merasakan ponselnya bergetar. Senyumnya mengembang saat melihat nama yang tertera di sana, dengan segera ia mengangkat panggilan tersebut.
"Iya, Mama. Ada apa?" tanya Saira lembut.
"Minggu ini? Kenapa baru memberitahuku sekarang," ucap Saira sedikit merajuk.
"Baiklah, Mamaku sayang. Aku juga sangat merindukanmu."
"Dari siapa?" tanya Alyne.
"Mama, katanya mau datang ke Indonesia dalam minggu ini."
__ADS_1
"Apa Nyonya bekerja sama dengan takdir, mereka datang di saat yang tepat." kekeh Alyne membuat Saira menghardiknya karena kesal. Alyne puas menggodanya.
"Kapan lagi kakimu cek?" tanya Alyne.
"Seharusnya nanti sore."
"Biar kutemani nanti."
Saira mengangguk.
Di ruangannya Romeo sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya yang ingin dia selesaikan sebelum nanti memutuskan menemui keluarga Evellyn dan mengutarakan niatnya. Meski seratus persen yakin akan diterima, tetap saja, ia harus totalitas tanpa terganggu oleh pekerjaannya.
Romeo lalu teringat kembali dengan sosok Aksa. Pria yang sudah menelantarkan istrinya sampai akhir hayat. Sejujurnya Romeo tidak sedang menghakimi pria itu hanya saja sangat menyayangkan atas apa yang dia lakukan. Seandainya dia bisa sedikit menerima kehadiran Saira, kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi. Namun, mungkin dia tidak akan pernah bertemu dengan Saira jika gadis itu masih hidup. Permainan takdir sungguh misteri.
"Nanti sore biar kuantar ke rumah sakit." Romeo mengirim pesan kepada Saira.
"Aku pergi bersama Alyne."
Romeo mengirim pesan kepada Alyne dan tersenyum. "Alyne tidak bisa mengantarmu sayang, pergi sama kekasihmu saja. Nanti kalau tiba-tiba suami di masa lalu menganggumu bagaimana?"
Saira mendengkus kecil sambil tersenyum. "Baiklah, Tuan pemaksa. Aku akan pergi denganmu."
__ADS_1
-------
Pengen hamil juga tapi masih tingting 🤣🤣🤣🤣