Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Tangisan Penuh Luka


__ADS_3

Saira terbangun dari tidurnya dengan napas ngos-ngosan. Ia telah megalmi mimpi buruk yang tidak pernah bisa ia bayangkan sebelumnya.


"Romeo ...," ucapnya pelan. Ia kembali menangis.


Ia tidak akan pernah sanggup jika mimpinya terjadi di dunia nyata. Mungkin kematian akan segera menjemputnya jika hal itu sampai terjadi. Ia berharap kali ini Tuhan mau membantunya untuk tidak membuat hal tersebut menjadi nyata.


"Aku mencintai kamu Romeo, jangan membuatku kehilangan arah seperti ini."


Gadis itu meraup wajahnya beberapa kali berharap semua bisa kembali seperti semula. Di mana ia bahagia bersama Romeo tanpa ada siapa pun yang memisahkan mereka berdua. Ia ingin kembali ke masa itu.


"Eve, apa kamu butuh sesuatu?" tanya seseorang dari balik pintu. Saira melihat jam yang sudah menunjukkan pukul lima pagi.


"Tidak Alyne."


"Baiklah kalau begitu," ucapnya dan segera pergi dari sana.


Saira menghela napas pelan dan segera bangkit menuju kamar mandi. Hari ini ia harus mengurus sesuatu yang sangat penting yakni menemui Yudi untuk membuat perhitungan.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Alyne saat melihat mata Saira sedikit sembab.


"Jika aku mengatakan baik-baik saja, apa kau akan percaya?" Tanya Saira sambil menarik kursi makan.


"Tidak," ucapnya.


"Lalu untuk apa dipertanyakan lagi, mana sarapannya."


"Sebentar."


Alyne segera menuju dapur dan mengambil nasi goreng yang selalu menjadi kegemarannya di pagi hari. Saira juga sangat menyukai racikannya sangat khas dan memiliki cita rasa yang berbeda dari racikan biasanya.


"Hari ini kemana?" tanya Alyne serius.


"Menemui Yudi dan memberinya perhitungan. Kita akan ikut membawanya ke gudang dan dia akan melihat ayahnya dalam kondisi yang mengenaskan."


"Idemu bagus juga, aku menyukainya. Rasanya tidak sabar membuat pria itu jungkir balik karena sudah berani membuatmu terluka."


Saira terkekeh pelan mendengar kalimat Alyne yang sangat menggelitik telinganya. Gadis itu selalu menyukai sisi iblis dalam dirinya. Apa pun bentuknya, ia selalu mendukung dengan setia. Untuk itu ia sangat menyayangi gadis itu. Selesai makan keduanya segera menuju target berikutnya.


"Siapa ini?" tanya Yudi saat mengangkat panggilan tanpa nama.


"Kalau kau ingin ayahmu selamat, datang ke lokasi yang saya sebutkan!"

__ADS_1


"Hei, siapa kau! Jangan main-main dengan saya." teriaknya.


Suara di telpon terdengar tertawa mengerikan. "Baiklah jika kamu tidak mengindahkan ucapan saya."


Panggilan tersebut langsung dimatikan dan Yudi seperti cacing kepanasan yang kehilangan setengah dari ekornya. Apalagi saat sebuah poto masuk ke ponselnya. Tangannya bergetar menahan gejolan yang tidak bisa ia ekspresikan.


"Sialan! Siapa dia? Beraninya melakukan hal itu kepada ayahku!"


Panghilan kembali menggema dan segera ia angkat. "Bagaimana? Apa masih kurang? Saya bisa kirim yang lebih ekslusif," kekeh suara tersebut membuat Yudi geram.


"Ah, sepertinya kau belum membaca berita ya. Sayang sekali, padahal wartawan sudah mengerumuni rumahmu. Apa kau tidak ingin menyambut mereka?"


"Wartawan? Berita? Apa yang sedang kau bicarakan sialan!"


"Kau ini bodoh sekali," ucap Saira lalu mematikan panggilannya.


Yudi yang masih merasa kesal segera mengambil remot tv dan alangkah kagetnya ia saat melihat berita mengenai ayahnya sudah jadi perbincangan di mana-mana. Bagaimana bisa semua itu terjadi. Setahunya mereka sangat teliti dan tidak meninggalkan bukti sama sekali.


"Sialqn! Siapa pun orang dibalik telpon itu, aku akan membunuhnya!" teriak Yudi sambil membanting remot tv nya.


Ia kembali mendapat panggilaan dati nomor yang sama. "Bagaimana? Bukankah sangat indah?"


"Siapa kau sialan? Beraninya main-main denganku!"


"Sialan!" teriak Yudi frustrasi mendengar kalimat Penelpon barusan. Ia bersumpah akan membunuh siapa pun orang itu.


"Bagaimana?" tanya Alyne.


"Dia sangat marah dan kau tahu, kebodohannya melebihi limit rata-rata."


"Aku tahu dia sangat bodoh dan arogan." kekeh Alyne.


"Selanjutnya bagaimana?"


"Biarkan dia datang ke sana, kita harus lihat semua pergerakannya. Dia datang bersama siapa agar bisa kita antisipasi."


"Benar juga, baiklah aku akan bersiaga bersama mereka bertiga." tunjuk Alyne pada pria dengan badan kekar yang memiliki wajah tampan.


"Hati-hati, pertempuran kita kali ini mungkin akan lebih buruk dari yang kita duga."


"Aku mengerti," ucap Alyne.

__ADS_1


Alyne selalu sigap memantau pergerakan Yudi. Ia tidak bisa mempercayai pria selicik itu. Mulutnya bisa berkata iya tapi tidak dengan hatinya. Dia begitu picik.


"Begitu kalian melihat ada celah, langsung sergap dan bawa dia ke gudang tempat ayahnya dikurung."


"Baik Nona Alyne."


Mereka adalah orang-orang pilihan yang sengaja dipilih oleh Saira untuk misi kali ini. Bagaimana pun caranya ia tidak akan memberi celah seinci pun. Kali ini semua harus berjalan dengan benar dan tanpa halangan.


"Nona, dia datang bersama anak buahnya. Diperkirakan sekitar dua puluh orang, kita kalah jumlah." lapor seseorang yang biasa disapa Roy.


Alyne mengambil teropong tersebut dan melihat langsung, ia berdecih karena Yudi tidak mengindahkan pesan dari Saira. Gadis itu memasang senyum yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapa pun sebelumnya.


"Ini hal yang baik, kita bisa mengecoh mereka."


Meski kening Roy terlihat berkerut tidak mengerti tapi ia tetap mematuhi perintah Alyne.


"Kalian, pergilah ke sisi utara dan kecoh anak buahnya, lalu kau pergi ke sisi selatan dan kecoh juga beberapa anak buahnya. Dan kau Roy, gunakan kesempatan ini untuk menculiknya."


"Baik, Nona." Mereka semua segera pergi untuk menjalankan perintah dari Alyne.


Sedangkan Saira sengaja menunggu di gudang kosong sambil memainkan pisau tajamnya yang selalu ia gunakan akhir-akhir ini. Membuat Wira ketakutan adalah hobinya. Pria itu seperti keong yang takut diambil cangkangnya.


"Hei Pak Tua, kau tahu, putramu akan segera datang kemari. Dia membawa banyak sekali anak buah."


Wira tersenyum sinis melihat Saira meski pandangannya sedikit mengabur. "Kau lihat sekarang kan? Putraku akan selalu menolongku."


Saira tertawa terbahak, "Siapa bilang dia mau menolongmu? Faktanya dia ke sini untuk kutangkap dan ya, aku akan membuat kalian berdua menjadi santapan ular! Bagaimana menurutmu?" kekeh Saira.


"Sialan kau! Jangan sentuh putraku!" teriaknya meski terdengar lemah.


"Ayolah, kau biasanya tidak seperti ini." Saira memainkan pisaunya di wajah pria itu membuat keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya.


"Bagaimana jika pisau ini mengiris kulitmu sedikit demi sedikit, ditambah sedikit garam sepertinya bukan masalah besar. Atau cabe rawit? Aku jadi bingung mau memilih yang mana."


Mendengar kalimat tersebut, membuat seluruh sendi-sendinya bergetar ketakutan. Bahkan membayangkannya saja sudah membuat Wira ketakutan setengah mati.


"Tapi sebelum itu, ada baiknya kau menyapa keluargamu dulu."


Saira segera merogoh ponsel Wira yang ada di saku celananya. Beruntunglah ponsel tersebut bisa dibuka dengan pengenalan wajah.


"Ayo kita lihat apa kata keluargamu setelah melihat berita kemarin." bisik Saira yang terdengar seperti bisikan iblis.

__ADS_1


------


__ADS_2