Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Sahabat Sejati


__ADS_3

"Aku mengerti semuanya, tapi Eve juga anakmu, mereka berdua tidak bisa kamu bedakan karena porsinya sama-sama orang yang kamu sayangi bukan? Bagaimana kalau kamu mendengar dulu dari sisi putri kita." saran Halena dan William tampak berpikir sebelum akhirnya menganguk.


"Lagi pula, siapa yang akan menjalankan perusahaanmu jika putri kita memilih pergi? Apa kamu akan memberikannya pada Chloe? Kamu tahu kan bagaimana dia, bahkan mengerjakan pekerjaan mudah saja tidak mudah baginya. Bagaimana kalau nanti harus mengemban perusahaan, nasib semua karyawan bergantung pada atasan."


William membenarkan ucapan istrinya, ia harus mengalah kali ini. Nasib perusahaannya bergantung pada putrinya. Jika harus mengalihkan pada orang selain Evellyn, rasanya tidak etis mengingat Chloe seperti yang dikatakan Halena.


"Bukankah lebih baik menyadarinya dari sekarang, aku tidak mau kamu menyesal Will," ucap Halena lembut.


"Terima kasih, Halena. Kamu adalah istriku yang selalu memiliki solusi dan saran."


"Itulah gunanya seorang istri bagi suaminya." William tersenyum.


Saira menelpon Alyne untuk mengabari kedatangannya. Ia akan meminta bantuan pada sekretaris yang sudah ia anggap sebagai teman. Alyne awalnya syok. Namun, ia senang menerima kedatangan Saira di rumahnya. Ia segera menyiapkan tempat untuk Saira tidur.


Saira sendiri segera pergi dari rumahnya dengan menyimpan semua bajunya di sebuah tempat rahasia di kamar dan itu hanya dia yang mengetahuinya. Ia akan berperan sesuai keinginan Tasma, bukankah untuk mengelabui lawan kita harus terlihat kalah. Setelah mereka lengah barulah, kita beraksi.

__ADS_1


"Bibi Tasma, kamu akan melihat lawanmu yang sebenarnya." ia tersenyum setan saat menyelinap dari belakang.


Saira segera pergi bersama taksi pesanannya yang sudah menunggu di tempat yang dia janjikan. Mobil dengan warna hitam itu melaju menunggu kediaman Alyne yang sudah menunggu di depan rumahnya. Saira oun telah sampai ke sana dan seperti biasa, Alyne penasaran dengan kedatangan Saira ke rumahnya.


"Ada apa Eve, tumben minta bermalam di sini?" tanya Alyne.


"Apa aku tidak boleh kemari, kalau begitu aku akan pergi!" Saira menatap Alyne datar dan hal itu sudah biasa bagi Alyne.


"Kamu ini suka sekali begitu, ayo masuklah aku sudah menyiapkan istana tempat tidurmu."


"Maaf, rumahku tidak sebesar kamarmu Eve," ucap Alyne pelan.


"Memangnya sebesar apa kamarmu," ucap Saira kesal dan Alyne terkekeh pelan.


"Apa kamu sudah makan, aku ada masak makanan sederhana."

__ADS_1


"Kalau diijinkan aku akan makan," ucap Saira datar.


Alyne teryawa mendengarnya, "Atas namamu, semua yang kamu inginkan akan selalu kuijinkan."


"Termasuk merebut suamimu kelak?" tanya Saira datar. Mereka menuju ke dapur dan Alyne segera menyajikan makanannya ke atas meja makan yang muat dua orang.


"Memangnya kamu mau dengan pria yang kunikaho, mana tahu bobirnya sumbing."


Saira tertawa mendengarnya. Menurutnya Alyne bisa dijadikan sahabat untuk menghibur jiwanya yang renta dan dia juga bisa membantu Alyne menyelesaikan masalahnya dengan sang paman yang sudah berlaku kurang ajar. Terkadang kekuatan hanya bisa datang di saat jiwa sudah terjebak dalam sebuah kubang bernama penderitaan.


"Alyne, telah terjadi sesuatu di rumah, untuk itu kamu harus membantuku!"


"Apa pun itu, aku selalu bersamamu Evellyn."


Saira tersenyum senang, kalimat itulah yang ingin dia dengar.

__ADS_1


 


__ADS_2