
Izora seolah mendapat angin segar saat mengetahui bahwa uang operasi untuk ibunya sudah dilunasi oleh seseorang yang tidak ingin disebutkan namanya. Ia sangat berterima kasih karena Tuhan masih baik kepadanya setelah apa yang sudah ia lakukan.
"Papa, Mama akan segera di operasi," ucapnya dalam sebuah panggilan.
Andri yang berada di seberang telpon pun dibuat kaget sekaligus bersyukur. Ia mengucapkan terima kasiheski tidak mengetahui siapa dermawan yang sudah membantunya. Ia sedikit heran dan was-was, bagaimana jika ternyata itu adalah jebakan. Tapi kembali pikirannya terpusat pada kesehatan sang istri.
"Papa akan segera ke sana."
"Zora tunggu ya Pa."
"Suster terima kasih sekali lagi."
Ia menemui Alvin yang baru keluar dari ruang rawat pasien. Senyumnya kengembang melihat kedatangan gadis yang sudah lama membekas di hatinya.
"Ada apa? Wajahmu tampak berseri sekarang, apa ada kabar gembira."
"Kamu benar Alvin, aku lagi bahagia sekarang, ada seorang dermawan yang membayar biaya operasi untuk Mama."
__ADS_1
Perasaan Alvin mendadak tidak enak, jangan-jangan dia seorang pria yang akan merebut gadis itu darinya. Izora memahami arti tatapan tersebut dan seketika tertawa.
"Dia seorang wanita muda dan kata suster beliau duduk di kursi roda."
"Syukurlah," ucapnya membuat Izora terkekeh.
"Aku ikut senang mendengarnya Zora, semoga Tante segera sembuh ya."
"Amin, makasih ya doanya. Aku ke ruangan Mama dulu. Dah ... Alvin," ucapnya dengan senyum mengembang.
Sudah lama rasanya Izora tidak pernah tersenyum selepas tadi. Alvin juga ikut berterima kasih dengan wanita yang sudah membantu meski tidak ingin diketahui namanya. Yang paling penting sekarang adalah kesehatan ibu dari gadis yang dia cintai dan senyum lepas itu, sungguh membuatnya damai.
"Semua orang sangat menyayangi kakakku, karena dia memang wanita yang baik jadi tidak heran kalau suamiku sangat mencintai dirinya. Saat nyawanya terancam, semua orang sangat sedih dan Mama terpuruk. Keluarga suamiku bahkan menyalahkanku atas semua yang terjadi."
Saira menepuk dadanya karena rasa sesak itu kembali hadir tanpa diundamg sama sekali. Suaranya bahkan mulai berubah sedikit demi sedikit karena terlalu banyak menahan perih.
"Terakhir yang aku lalukan sebelum membulatkan tekad adalah menginginkan satu pelukan saja, aku hanya meminta satu pelukan dari kedua orang tuaku tapi tidak pernah tercapai hingga maut membawaku pergi."
__ADS_1
Cukup sudah bagi Romeo, ia ikut meneteskan air mata dan membawa tubuh Saira ke dalam pelukannya. Tubuh gadis itu terguncang menahan tangis yang tidak kunjung reda.
"Kenapa kau melakukan semua itu Saira, kenapa?" tanya Romeo dengan suara serak.
"Karena kalau kakak meninggal, semua orang akan sedih sedangkan jika aku yang meninggal, tidak akan ada yang menangisiku."
Jantung Romeo terenyuh mendengarnya, apakah ada kisah semenyakitkan yang dialami gadis yang berada dalam dekapannya.
"Lalu aku dinyatakan meninggal dunia, dan kau tahu aku terbangun di tubuh gadis yang memiliki nasib mengenaskan yaitu Evellyn."
Saira cukup lama berada dalam pelukan Romeo sampai emosinya mereda. Setelah selesai mereka memutuskan pergi dari sana karena matahari sudah tergelincir jauh. Mereka segera menuju mobil dan berdiam untuk sejenak.
"Apa kau sudah baik-baik saja sekarang?" tanya Romeo Saira mengangguk.
"Lalu aku harus memanggilmu Saira atau Eve?"
"Panggil saja Eve, jangan sampai menyebutkan nama yang sudah lama terkubur."
__ADS_1
"Baiklah," ucap Romeo.
-------