
Pertanyaan itu membuat Saira mengangkat alis dengan tinggi. Bukankah pria itu sudah menghianatinya? Lalu apa lagi yang dia inginkan saat ini. Daira tidak habis pikir dengan jalan pikiran pria itu.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Saira datar.
"Aku ingin kita bertemu."
"Untuk apa?" tanya Saira dingin.
Pria itu tampak menghela napas kecil. "Ada yang harus kujelaskan kepadamu."
"Temui aku di taman kota pukul lima sore."
Setelah mengatakan semua itu, Saira mematikan panggilan dan melempar ponselnya dengan asal. Di kamar ia kembali memikirkan Romeo. Pria yang selalu bisa membuatnya merasakan segalanya. Merasa dihargai, dicintai, disayangi dan dimanjakan.
"Romeo," bisiknya pelan.
Beberapa dokter dengan sibuk mengontrol keadaan seorang pria yang dinyatakan mengalami koma setelah kecelakaan.
"Bagaimana kondisinya?" tanya dokter yang terbilang senior di antara mereka semuanya.
"Masih belum ada kemajuan, otaknya belum bisa merespon apa pun. Denyut jantungnya masih berfungsi karena alat bantu. Kondisinya sangat memprihatinkan."
__ADS_1
Beberapa dari mereka terlihat mengehala napas. Lalu kembali melanjutkan aktivitas mereka.
Saira segera menemui Riko di taman kota. Di sana terlihat pria itu memakai pakaian santai dan terkesan sangat tampan. Wajahnya terlihat segar dan otot-otot yang menghiasi tubuhnya terlihat terbentuk dengan sempurna. Ia tersenyum melihat kedatangan Saira dan segera menyuruhnya duduk.
"Ada apa kau menyuruhku kemari!"
"Mengenai Wira," ucapnya.
"Ada apa dengan bos mu? Apa dia sekarang sangat bahagia?" sindir Saira sarkastik.
"Bos? Apa maksudmu?" Riko dibuat bingung oleh statemen Saira.
"Bukankah kau ini anak buah dari Wali yang berteman baik dngan Wira, lalu hakim ketua?" Saira masih menyindir pria tersebut.
"Salah paham di bagian mana lagi? Aku sudah melihatnya dengan jelas. Kau bahkan tidak memasukkan mereka ke dalam penjara!"
"Aku sengaja melakukannya karena menunggumu bangun. Karena di sini kau lah yang menyingkap kejahatan mereka, jika aku yang maju maka mereka bisa saja menghabisimu."
Saira kembali memikirkan ucapan Riko yang baru mampu ia cerna.
"Jadi kau tidak berkhianat sama sekali?"
__ADS_1
"Tentu saja tidak Eve, apa yang kau pikirkan tentangku. Aku bahkan sudah berjanji pada ibuku jika apa yang aku raih akan selalu kugunakan untuk kebaikan."
"Syukurlah, lalu kenapa kau bisa bersama dengan mereka?" Saira menyodorkan sebua poto ke padanya.
"Ini adalah unsur kesengajaan. Saat itu Wali sengaja membawaku serta dan dia tidak tahu jika selama ini gerak geriknya selalu kupantau. Dia mengajakku bekerja sama dan aku menyetujuinya untuk mengumpulkan beberapa bukti penting."
"Apa kau yakin?" tanya Saira masih dengan was-was.
"Bukankah dekat dengan musuh bisa jadi alat paling ampuh?" tanya Riko sambil membenarkan letak topinya.
"Kau memang benar."
"Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Riko.
"Aku akan mengurusnya, setelah itu baru akan kuserahkan kepadamu."
"Jangan menyerahkan jasadnya."
"Tidak akan, aku ingin melihat mereka semua menderita dan kau tidak akan kubiarkan menghalangi jalanku. Jika kau berani melakukannya, kau akan kuhabisi dan ya kekasihmu akan melihat jasadmu!"
Ancaman Saira tentu saja membuat bulu kuduknya merinding. Gadis gila mana yang berani mengancam seorang polisi sepertinya. Hanya gadis yang kini sedang menatapnya dengan tajam. Maniknya dipenuhi amarah, kerinduan dan kesedihan yang mendalam. Ia juga turut sedih atas kehilangan yang dirasakan oleh Saira.
__ADS_1
--------