
Saira terus menghabisi anggota Angelina tanpa ampun. Wajahnya semakin tidak memiliki ekspresi saat mendengar teriak kesakitan yang mereka rasakan. Mata Saira terpaku pada satu kotak besar. Ia membuka pengatupnya dan menemukan banyak gadis terkurung di sana.
Saira marah melihat kondisi mereka semua. Angelina adalah manusia paling tidak berprikemanusiaan. Saira mengepalkan tangan dan menyuruh mereka untuk tetap di sana tanpa mengunci ruangannya. Tujuannya agar mereka tidak tertangkap. Ia kembali menyusuri tempat tersebut. Banyak ruangan yang ia temukan dan setiap ruangan tersebut diisi oleh beberapa anggota.
Saira melihat pelayan membawa makanan ke sana dan meletakkannya di depan pintu. Saira memukul tengkuknya sampai pria itu pingsan. Saira segera memasukkan arsenik ke dalam makanan lalu mengaduknya. Saira mengetuk pintu dan mereka segera mengambil makanan.
"Hai," sapa Saira sambil menunjukkan botol arsenik dan mereka segera memuntahkan makanannya. Tapi semua sia-sia karena racun tersebut sudah bekerja.
Saira menyaksikan mereka mengalami Gangguan pada otak, sakit kepala, kejang, dan delirium. Wajahnya masih datar menyaksikan semua itu. Kini ia menutup pintunya lalu segera mencari keberadaan Izora. Napasnya memburu saat melihat satu ruangan di ujung lorong. Ia mendekat dan membuka pintu dan dia disambut dengan pemandangan menyakitkan. Di sana Izora tergeletak tidak berdaya dengan keadaan tanpa sehelai kain.
Saira menangis melihat kondisi kakaknya. Ia mendekat dan Izora teriak histeris. Melempar semua benda yang bisa diraihnya. Hati Saira terenyuh melihatnya. Di belakang tampak Alyne sudah masuk dan ikut terenyuh melihat keadaan Izora. Saira memukul tengkuk Izora dan gadis itu jatuh pingsan.
"Alyne, segera bawa dia ke rumah sakit." perintah Saira dingin.
"Bagaimana denganmu?" tanya Alyne khawatir.
__ADS_1
"Dia sudah menghancurkan hidup kakakku, apalagi yang akan kuperbuat kepadanya."
Tawa Saira membahana di ruangan tersebut. Ia sudah mirip psikopat gila yang sangat menikmati siksaan pada korbannya. Alyne tidak berani lagi bertanya. Ia segera keluar membawa tubuh Izora dengan dibantu oleh Zakof yang menyusul belakangan.
"Zakof, bawa juga wanita yang berada di kamar 202."
"Baik," ucapnya.
Saira menghapus air matanya, ia berdiam diri sejenak sampai memastikan Alyne pergi sampai ke tujuan. Menarik napas panjang untuk menghilangkan semua emosinya. Menghilangkan semua amarahnya dan mengganti menjadi kesenangan.
"Halo," ucap Angelina dengan senyum sumringah.
"Di mana Romeo!"
"Apa kau mau melihatnya?"
__ADS_1
"Dia sedang kuikat di ranjang, kau tahu dia sangat menggoda. Apalagi jika kami melakukan penyatuan. Erangannya membuatku sangat bergairah. Miliknya sangat membuatku puas."
Saira tersenyum miring mendengar penuturan Angelina barusan. Baginya semua ucapan gadis itu hanya bualas. Ia sangat tahu bagaimana Romeo.
"Kau tertawa? Apa sedepresi itu?" tanya Angelina dengan nada mengejek.
"Kau benar, aku sangat depresi setelah membantai semua anak buahmu."
Angelina kaget bukan main, tapi mengingat kekuatan anak buahnya. Ia yakin semua itu hanya bualan semata. Ia tertawa terbahak mendengar Saira mengoceh mengenai anak buahnya.
"Jangan bermimpi, kau tahu? Mereka sangat terlatih dan kau hanya gadis sialan!"
----
Maaf gais, sebenarnya ada yang terpotong karena tertolak wkwkwkw, makanya kulompati. Intinya bab itu isinya masih sama seperti bab sebelumnya. Ini bab seriusnya.Paham yakkk
__ADS_1