
"Sayang, jangan menyiksaku." bisik Romeo lirih saat tangan Saira dengan nakal menyelinap masuk dan mengelus keperkasaannya yang mengeras.
"Kau seperti tahu akan kugoda sampai memakai celana yang mudah dimasuki." bisik Saira membuat Romeo terkekeh.
Saira bisa merasakan sesuatu mendesak keluar dari bagian bawahnya. Semua itu perbuatan Romeo. Ia bahkan sudah mendesah beberapa kali tapi Romeo belum sama sekali. Saira dengan segera melepas celananya dan hanya menyisakan ****** *****. Ia memberi ruang untuk keperkasaan Romeo membelai bagian sensitifnya. Seperti biasa hal itu selalu berhasil membuat tubuh Romeo mengelinjang nikmat. Ia mencengkram seprei saat merasakan sensasi luar biasa saat Saira meremas dan membelainya.
"Apa kau menyukainya?" tanya Saira dengan menggoda.
"Kamu selalu tahu bagian mana kelemahanku, sayang."
Melihat kepasrahan di wajah Romeo, Saira tertawa girang. Ia melepas celana beserta ****** ***** yang membungkus milik Romeo. Benda itu kini mengacung dengan sempurna dan siap memangsa milik Saira. Tapi sebelum hal itu terjadi, Saira mengubah posisi mereka. Kini Romeo yang berada di bawah dan saira yang menjadi pemimpin.
Ia membelai lihai dada Romeo membuat pria itu kegelian dengan sensasi luar biasa.
"Apa kau menyukainya?" tanya Saira.
__ADS_1
"Apa pun yang membuatmu senang, aku sangat menyukainya sayang."
Saira tersenyum mendengarnya. Bersama Romeo ia bisa merasakan berbagai emosi dan ia sangat mencintai pria itu. Saira tersenyum bahagia, tapi ia kaget saat tubuh Romeo menghilang. Tidak ada siapa pun di sana, selain dirinya.
Saira bangun dengan napas memburu. Melihat sekitar kamar, tidak ada siapa pun di sana. Ia hanya bersama kekosongan dan sepi yang mengisi hati dan hidupnya. Kembali, Saira menangis. Entah kenapa dia memimpikan Romeo. Kini ia sangat merindukan Alyne. Malam itu ia memutuskan menelpon Alyne dan gadis itu mengangkat panggilan dengan suara serak.
"Halo," ucap Alyne masih belum menyadari siapa yang menelponnya.
Suara tangis Saira membuat mata Alyne terbuka lebar. Ia melihat nama pemanggil dan segera bangun.
"Alyne, hatiku sangat sakit, hidupku sekarang tidak ada lagi gunanya."
Mendengar kalimat itu, tentu saja membuat Alyne panik. Ia dengan segera memberondongi Saira dengan pertanyaan beruntun.
"Sekarang kamu di mana? Aku akan datang dan menemanimu."
__ADS_1
"Apa kamu baik-baik saja?"
"Tolong, jangan melakukan tindakan yang tidak kuinginkan, aku akan ikut mati jika kamu melakukannya, Eve."
Saira terkekeh di sela tangis mendengar pertanyaan dan ancaman Alyne barusan. Ia mengusap air matanya.
"Aku di apartemen Anne Garden-AG, lantai 20."
Tanpa menunggu lama, Alyne segera menuju lokasi yang tidak begitu jauh dari tempatnya kini berada. Ia segera menuju lantai 20 dan menekan bel. Saira yang memang mengira jika itu Alyne, segera membuka pintu. Ia pun segera dibekap oleh orang yang tidak pernah dikenalnya.
Saira pingsan dan segera dibawa menuju sebuah tangga. Begitu mereka menghilang dari sana, Alyne sampai ke lantai 20 dan membunyikan bel. Alyne yang tidak kunjung mendapat balasan, hendak menelpon Saira. Sampai matanya melihat secarik kertas bertuliskan sandi.
Alyne merasa aneh, ia memeriksa apartemen itu dan tidak mendapati Saira di mana pun. Alyne yang merasa panik, segera menelpon Romeo dan mengatakan apa yang terjadi. Perasaannya juga tidak menentu, ia yakin telah terjadi sesuatu pada Saira.
__ADS_1
Waduh, siapa yang nyulik Saira????