Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Balas Dendam Dimulai


__ADS_3

Satu minggu kemudian, kondisi Saira sudah kembali membaik. Tidak ada senyuman bahkan ia sangat mengirit suaranya. Hal itu membuat Alyne sangat putus asa. Gadis itu hanya menghabiskan waktu berdiam diri di kamar dan hanya tidur saat matanya benar-benar mengantuk.


Kenangannya bersama Romeo selalu membawanya pada kerinduan yang mendalam. Sentuhan dan kecupan pria itu terus membayanginya dan kadang Saira menangis saat merasakan semuanya begitu nyata. Namun, kembali menghilang.


"Sayang, kamu di mana? Aku sangat merindukanmu!" bisik Saira sambil menangis.


Bahunya bergetar hebat menahan semua gejolak yang membelitnya. Rasanya untuk bernapas saja sangat sulit dan menyakitkan. Ia kembali ditarik saat ketukan terdengar dari luar. Saira menghapus air matanya dan berjalan mendekati pintu.


"Ada apa?" tanyanya datar.


"Kamu belum makan sejak tadi pagi."


Saira melihat nampan yang berada di tangan Alyne dan mengambilnya.


"Terima kasih!" Saira segera menutup pintu dan meletakkan nampan tersebut di atas meja. Ia mencoba memasukkan ke dalam mulutnya. Namun, tidak bisa ia telan.


"Bagaimana aku bisa makan kalau nasinya tidak bisa kutelan."


Saira kembali menangis dan melihat poto Romeo yang berada di ponselnya.

__ADS_1


"Sayang, kamu tidak mengasihaniku? Aku tidak bisa makan."


Harinya hanya dihabiskan menangis, dan Alyne kembali mengetuk kamarnya. Gadis itu sudah sangat kesal melihat kondisi Saira yang belum stabil. Ia tidak suka melihatnya seperti ini. Membalas dendam dan menjadi iblis lebih baik bagi Alyne.


"Sampai kapan kamu mau seperti ini? Sampai kapan HAH!" teriak Alyne.


"Aku tidak berminat berdebat denganmu." Saira berkata dengan dingin.


"Kamu pikir aku sedang mengajakmu berdebat? Sadarlah Evellyn! Mereka sudah merenggut semuanya darimu. Kalau kamu terus seperti ini, kamu mau memberi mereka ruang bebas untuk bernapas? Bahkan aku lebih suka berteman dengan sisi iblismu!"


Gadis itu terduduk di lantai dan menangis. "Apa yang harus aku lakukan, aku sangat terluka."


Alyne ikut menangis, tetapi matanya nenatap manik Saira dengan tajam.


Saira menatap manik Alyne yang memanfaatkan segala kemarahan. Ia mengusap air mata.


"Aku akan membalas setiap rasa sakit yang mereka sebabkan!"


"Inilah Evellyn ku. Inilah gadis yang kukenal."

__ADS_1


Saira mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Ia mulai memaksa makanan masuk untuk menambah staminanya. Sudah satu minggu ia berleha-leha dengan kesedihannya sampai melupakan orang yang bertanggung jawab atas semua yang menimpanya.


Alyne menunjukkan sebuah video dan di sana Riko, Wira, Wali beserta hakim terlihat sedang tertawa bersama. Saira tidak menyangka jika Riko—pria yang dia percayai tega menghianatinya.


"Kamu masih mau memperpanjang kebahagiaan mereka?" tanya Alyne.


"Tidak akan lagi Alyne! Aku akan membalas setiap rasa sakit yang aku rasakan!"


"Dengan memasukkan mereka ke dalam penjara?" tanya Alyne.


"Itu terlalu mudah Alyne," ucap Saira tertawa dengan menyeramkan. "Mereka akan menerima lebih dari sekadar penjara."


Alyne tersenyum mendengar Saira sudah kembali bangkit. Sudah ia katakan bahwa sisi iblis dari Saira lebih dia sukai. Dengan begitu, tidak akan ada lagi yang bisa menyakiti Saira.


"Alyne siapkan semuanya yang sudah kita kumpulkan. Aku akan menghubungi seseorang."


Alyne segera menjalankan perintah Saira dan mempersiapkan semuanya. Seseorang tampak menelpon dan alis Saira yerangkat saat melihat nama si pemanggil.


"Riko, untuk apa lagi dia menelpon!" desis Saira kesal. Tapi ia tetap mengangkatnya.

__ADS_1


"Halo, Eve. Apa kamu sudah pulih?"


------


__ADS_2