Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Makan Bersama


__ADS_3

"Ya sudah, aku akan mengantarmu oulang, ayo!"


Mereka berdua segera keluar dari kantor tersebut. Aksa berharap ia masih bisa melihat sosok wanita dingin nan angkuh. Evellyn Ophelia.


Setelah di lantai dasar, Saira segera menghampiri Alyne ke mobil dan mereka segera pergi dari sana. Selang beberapa menit, Aksa sampai di lantai dasar dan matanya liar mencari sosok yang ia cari. Namun, tidak ia temukan.


"Kamu lagi nyari siapa?" tanya Izora penasaran. Pasalnya Aksa tampak sedang melihat ke segala sisi dengan mata tidak fokus.


"Enggak, aku lagi nyari OB tapi sepertinya dia tidak masuk. Mungkin karena sakit. Izora mengangguk dan mereka segera pergi dari sana.


"Apa kita jadi pergi ke Mall, Bu?" tanya Alyne.


"Jadi Alyne, aku sungguh sangat bosan dengan semuanya."


Alyne segera menuju mall yang ditunjukkan oleh gps. Setelah berada di depan gedung besar itu, Saira dan Alyne segera menuju parkiran. Mereka keluar dari mobil dan menuju lantai perbelanjaan. Sudah lama rasanya Saira tidak datang kemari. Terakhir saat ia belum menikah. Alyne dengan setia menemani Saira ke mana pun gadis itu pergi.


Tidak bisa diragukan, bahwa Saira sangat beruntung memiliki sekretaris yang seperti Alyne. Mereka sudah seperti dua saudara yang bertolak belakang. Jika Saira sosok yang dingin dan cuek, maka Alyne sebaliknya. Ia sangat ramah dan perhatian. Jika Saira diajak bicara oleh seseorang maka Alyne yang akan menjawabnya.


"Kamu kalau mau beli apa pun, ambil saja nanti aku yang bayar."

__ADS_1


"Saya tidak ingin membeli apa pun, Bu."


"Kita lagi sedang tidak bekerja, panggil Saira saja."


Alyne menganguk patuh, ia tidak suka membantah ucapan atasannya.


Mereka berjalan-jalan ke lantai berikutnya. Saira bernostalgia saat dulu ia dan teman-tannya menghabiskan waktu di sini dengan canda tawa. Bahkan seolah dunia ini milik mereka.


"Alyne, kamu tahu nggak, bagaimana rasanya kalau ada teman yang meninggalkanmy hanya karena sebuah kesalahan. Mungkin memang besar. Tapi apa semua pertemanan seperti itu?" tanya Saira penasaran dengan jawaban apa yang akan diberikan oleh Alyne.


"Menurut saya, pertemanan tidak bisa diukur dari seberapa banyak kesalahan yang diperbuat seorang teman. Sebagai teman, kita harus terus memberinya dukungan. Itulah fungsinya seorang teman."


"Lalu, kalau ada teman yang meninggalkan temannya di saat terpuruk, bagaimana?" tanya Saira sangat penasaran.


Saira menganguk paham sekarang, teman-temannya hanya ingin kesenangan darinya, saat Saira sedih mereka akan menghilang tanpa jejak. Bukankah selama ini dia sudah berteman dengan manusia munafik.


"Terima kasih Alyne," ucap Saira dengan tulus. Bagi Alyne, Saira adalah atasannya yang paling bisa dia abdikan hidupnya. Karena gafis itu selalu mengutamakan pekerjaan tanpa perasaan pribadi seperti atasannya yang sebelumnya.


"Alyne, kamu belum pernah coba makanan Indonesia kan?"

__ADS_1


"Belum Ra," ucapnya sedikit keki.


"Kalau begitu kita akan makan masakan Indonesia sepuasnya."


Untuk pertama kalinya Alyne melihat Saira tertawa, untuk pertama kalinya juga Alyne melihat Saira tersenyum tulus. Ia tidak tahu apa yang sudah dialami oleh gafis itu. Tapi Alyne berjanji, apa pun yang terjadi ia akan selalu setia berdiri di samoing Saira. Meski sosoknya terlihat sangat cuek dan dingin. Nyatanya, saat ini Alyne melihat sosok yang lain sedang tertawa lepas.


"Alyne ayo," ucap Saira dan mereka segera menuji sebuah restoran yang menyediakan berbagai macam jenis makanan. Mulai dari makana khas Indonesia sampai western food.


Setelah mereka menunghu lebih dari dua uluh menit, akhirnya makanan sampai juga, di restoran tempat mereka sedang menyantap makanan khas Indonesia memang selalu ramai. Itu semenjak Saira sering datang kemari. Bukan karena kemewahannya. Tapi karena cita rasa uang disajikan sangat berbeda demgan restoran lainnya. Mereka memesan sate kambing, ayam goreng cobek ijo, sup iga, cumi oseng cabe ijo, gurame penyet.


Sudah lama Saira merindukan makanan kesukaannya. Mereka berdua makan dengan lahap.


"Ini pertama kalinya aku mencicipi masakan Indonesia dan rasanya sangat enak." puji Alyne.


"Apa yang paling kamu sukai dari semua ini?" tanya Saira sambil mencomot minumanya.


"Gurame penyet dan sup Iga. Aku menyukai keduanya, terus porsinya juga banyak," ucap Alyne dengan jujur. Saira tertawa mendengar ucapan Alyne yang terlalu jujur mengenai porsi.


Andai Saira memiliki teman seperti Alyne, mungkin gadis itu bisa bertahan dari semua kesedihannya. Namun, dia benar-benar seorang diri.

__ADS_1


-------


kalau sampai 40k view dalam dua hari, saya akan update 8 bab sekaligus 🤣🤣🤣


__ADS_2