
Aksa menatap lekat wajah yang memiliki daya pikat luar biasa. Entahlah, ia pun bingung memikirkannya. Bagaimana bisa ia sangat betah melihat wajah wanita dingin yang kini berada di hadapannya. Ia sedikit kecewa saat uluran tangannya disambut oleh sekretaris dari gadis ini. Namun, ia menyembunyikannya.
"Ada apa lagi Pak Aksa?"
Sebuah suara yang mampu menggetarkan jiwa Aksa. Ada sesuatu yang meraung di dalam dirinya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Aksa langsung pada tujuannya. Saira tampak sedikit kaget mendengar ucapan Alsa. Tapi sebisa mungkin ia mengatur raut wajahnya agar tidak kentara.
"Mohon maaf, Pak. Ini pertama kalinya kita bertemu!"
"Entah kenapa, aku seolah sudah bertemu denganmu sejak dulu." Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Aksa. Saira sedikit merasa khawatir, ia takut jika Alsa mengenali dirinya. Tapi bagaimana mungkin, pria itu tidak pernah mencintainya.
"Kamu memang benar, ini adalah pertemuan kita yang pertama. Maaf karena sudah bersikap lancang."
__ADS_1
Wajah Aksa terlihat sangat sedih. Saira belum sempat menyusuri detail setiap ruangan. Matanya dengan pelan menjamah setiap lekuk sampai ia terpaku pada sebuah foto berukuran sedang, menggantung kokoh di dinding. Ia mengenali siapa sosok yang ada di sana. Aksa menyadari tatapannya dan tersenyum.
"Dia adalah istriku," ucapnya dengan penuh cinta. Bahkan Saira bisa merasakannya.
"Anda pasti sangat mencintai beliau," ucap Saira datar.
Aksa menggeleng, hal itu membuat perasaan Saira terluka. Namun, jawaban Aksa membuat Saira tampak sedikit merasakan kesedihan pria itu.
"Kata sangat belum cukup menggambarkan betapa aku mencintainya. Dia istri yang baik dan selalu memenuhi tanggung jawabnya. Tapi sebagai suami, aku tidak pernah pantas untuknya." kalimat yang sarat mengandung duka.
"Setiap hari aku selalu memberinya bunga."
Saira tampak kaget mendengarnya. Apa selama ini Aksa mendatangi makamnya. Pertanyaan yang hanya bisa terjawab jika ia melihatnya secara langsung. Ia sedikit menyunggingkan senyum tipis.
__ADS_1
"Maaf, karena menceritakan hal ini padamu. Entah kenapa ada dorongan yang membuatku melakukannya." Aksa tampak mengusap sedikit ujung matanya dan Saira menyadari hal itu.
Ia sendiri tidak ingin mengomentari hal lebih, karena baginya Saira dan Aksa adalah masa lalu yang menyakitkan. Ia harus mampu mengubur semuanya dalam-dalam. Ia teringat akan keluarganya. Ada banyak rindu yang tersimpan di sebuah sudut dalam hatinya. Namun, hatinya selalu merasa sakit saat lagi-lagi mengingat semuanya. Betapa menyakitkan berjuang seorang diri si tengah ramainya sanak saudara. Sakitnya menyembuhkan luka di saat suami berbarung di sampingnya. Betapa menyiksanya saat kehadirannya selalu tidak dianggap ada oleh siapa pun.
Emosinya menjadi tidak stabil karena hal itu, Saira segera permisi dan keluar dari sana dengan perasaan campur aduk. Alyne menghampirinya dan mereka segera turun. Denyut menyakitkan itu masih bergema, kembali luka itu menyerbunya tanpa henti.
"Alyne, temani aku ke makam seseorang."
Meski Alyne merasa heran. Ia tidak menanyakan apa pun pada Saira. Ia tetap mengikuti ke manapun gadis itu membawanya. Saira mengunjungi sebuah makam tempat tubuhnya disemayamkan untuk terakhir kalinya. Kenapa ia bisa mengetahu makamnya sendiri, selama ini ia menghubungi seseorang untuk mencari mengenai hal ini. Saira sudah sampai di depan pemakaman umum, ia memberi perintah pada Alyne agar tetap menunggunya di dalam mobil. Ia pergi sendiri ke sana. Jaraknya juga tidak terlalu jauh.
Alyne melihat dari kejauhan sosok Saira yang terlihat mengunjungi salah satu makam yang dipenuhi bunga segar. Saira sendiri menatap sendu sebuah makam yang ia hampiri. Dipenuhi bunga segar. Dengan tangan gemetar, ia menyentuh batu nisan bertuliskan namanya. Air mata lolos begitu saja, ia tidak menyangka Tuhan masih memberinya kehidupan melalui tubuh orang lain. Bahkan, mereka tidak pernah bertemu sebelumnya.
"Kamu sangat menderita Saira, bahkan selama kamu menikah, tidak pernah sedikit pun kamu merasa bahagia. Aku janji sama kamu, aku akan membuatmu bahagia Saira."
__ADS_1
-------