Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Cerita Masa Lalu


__ADS_3

Saira mengembuskan napas lalu membuangnya. Menikmati setiap embusan angin yang membelai wajahnya dengan menutup perlahan kedua matanya.


"Gadis yang kau lihat tadi, dia adalah kakakku, Romeo. Lalu pasien yang bernama Wawa adalah Mamaku."


Romeo terkejut mendengarnya, "Bukankah Mamamu ada di Australia? Kenapa bisa kau memiliki dua Mama."


"Karena aku bukan lah Evellyn!"


Romeo hendak memutar tubuhnya. Namun, Saira melarang.


"Tolong, jangan berbalik. Biarkan seperti ini saja, aku akan jauh lebih nyaman."


"Baiklah," ucap Romeo mengalah. Ia membiarkan tubuhnya dijadikan sandaran oleh gadis yang sudah mencuri hatinya.


"Lalu siapa dirimu?" tanya Romeo, entah mengapa ia berharap Saira hanya sedang mengajaknya untuk bercanda atau semacamnya.

__ADS_1


"Saira, itulah namaku, aku anak bungsu dari tiga bersaudara. Kisahku terlalu panjang untuk diceritakan, tapi kau akan merecokiku jika tidak menceritakan semuanya," kekeh Saira mencoba menahan air mata yang hendak jatuh menuruni pipi.


Romeo tertawa renyah. "Sekarang kau mulai mengetahui bagaimana diriku."


"Awalnya semua baik-baik saja, keluargaku sangat mencintaiku, apa yang aku inginkan selalu mereka berikan. Lalu kakakku memperkenalkan seorang pria sebagai kekasihnya. Kau tahu, aku jatuh cinta kepadanya dalam pandangan pertama." Saira tersenyum pilu mengingat hal tersebut. Sedangkan Romeo tampak diam dan mendengar dengan seksama.


"Kakakku sangat pintar, saat hari kelulusannya kami liburan ke puncak dan kau tahu apa yang kulakukan? Aku menjebak kekasihnya agar bisa kumiliki." Napasnya mulai terasa sesak, tapi ia kembali melanjutkan.


"Mungkin kau akan menilaiku sebagai wanita yang menjijikkan dan itu semua benar, aku memang sangat menjijikkan."


"Papa mengetahui semuanya dan sejak malam itu semua cinta berubah menjadi kebencian. Aku membuat semuanya berantakan, kupikir kebencian mereka hanya sebentar saja. Tapi perkiraanku sangat salah. Kebencian itu bertahan untuk selamanya."


"Lalu bagaimana dengan suamimu?" tanya Romeo pada akhirnya.


"Dia tidak sudi menatapku sama sekali, setiap mata kami bertemu, hanya kebencian yang ia tampakkan. Berbeda saat menatap kakakku. Semua penuh dengan cinta. Begitu pun dengan semua keluarganya. Hanya ada satu wanita yang tidak ikut menghakimiku."

__ADS_1


Napas Saira terputus, hancur sudah pertahanan Romeo. Ia segera memeluk tubuh gadis itu yang terlihat sangat rapuh.


"Sudah, jangan diceritakan jika sangat menyakitkan."


Saira menggeleng, "Aku akan melanjutkannya."


Kembali menarik napas lalu membuangnya. Mata keduanya bertemu dan Romeo sangat tidak menyukai kerapuhan yang tersaji di mata Saira. Semakin ia menyelam, semakin ikut merasakan duka yang sudah dia alami.


"Setiap hari aku menerima semua hinaan dari semua sisi. Tidak ada yang bisa kujadikan sandaran, aku lelah dan putus asa. Tapi batinku terus menguatkan agar tetap bertahan meski sangat menyakitkan. Lalu Kakak sepupuku meminta untuk pergi meninggalkan semuanya tapi aku menolak dengan halus."


"Sampai suatu saat, Kakakku kecelakaan dan membutuhkan donor ginjal secepatnya. Kau tahu, saat itu aku mengidap penyakit jantung akut dan usiaku memang tidak akan lama lagi. Aku memutuskan untuk berkorban pertama kali demi kebahagiaan semua orang. Terakhir suamiku memohon dan kukabulkan, aku memang mencintainya, tapi tidak bisa membiarkan ia menangis apalagi sampai memohon.


---------


Pelan-pelan Saira mulai menceritakan masa lalunya, akhirnya dia bisa jatuh cinta juga.

__ADS_1


__ADS_2