
Saira dan Romeo sudah siap dengan pakaian kasualnya. Hari ini mereka akan pergi ke suatu tempat untuk mengambil sesuatu.
"Sayang, kamu udah siap?" tanya Romeo.
"Sebentar!" teriak Saira lalu keluar dari kamar dan mendatangi Romeo.
"Ayo!" ajaknya dam Romeo memandang sejenak wajah Saira yang selalu membuatnya mabuk kepayang.
"Kamu selalu cantik seperti biasanya dan aku sangat mencintaimu."
"Aku tahu fakta itu, sekarang kita harus pergi."
Romeo terkekeh dan mereka segera berangkat dengan mengendarai mobil fortune milik Romeo. Ia sengaja memilih mobil tersebut yang lebih luas dari pada mobil mininya yang hanya muat mereka berdua dan susah untuk bergerak.
"Kau yakin dia akan ada di sana?" tanya Saira sambil melihat jalanan Jakarta yang tidak pernah tidur.
"Aku yakin sayang," ucap Romeo.
"Baiklah kalau begitu, kita harus menyelesaikan urusan dengan segera dan bisa kembali ke Autralia."
__ADS_1
Romeo melajukan kecepatan mobilnya dan membelah jalanan menuju lokasi yang mereka tuju. Ia hanya berharap orang itu masih berada di sana dan menunggu mereka sampai. Saira melihat ada dua mobil mewah berada di depan rumah tersebut. Ia mencium hal yang tidak baik, dan turun dengan segera.
"Parkirkan mobilnya sedikit jauh dari sini."
Romeo segera menuruti perintah Saira saat gadis itu sudah turun terlebih dahulu dari mobil. Ia berjalan sambil mengendap pelan dan merekam semua yang ia lihat. Di sana ia bisa melihat Wali dan Wira sedang menyerahkan dua kantung besar yang dia yakini berisi uang. Saira merasa ini menjadi bukti yang selama ini ia inginkan. Dengan satu umpan, ia bisa menangkap tiga mangsa sekaligus.
"Bagaimana?" tanya Romeo datang dari belakang.
"Kau benar, pria itu tidak akan pernah menempati janjinya saat melihat banyaknya uang yang berada di hadapannya. Aku sangat benci hakim yang berbuat semena-mena."
"Kita juga akan ikut menyeretnya sayang."
"Tentu saja, dia sudah menciptakan kerugian bagi semua orang dan garus diberi pelajaran. Bahkan penjara saja tidak akan pernah cukup."
"Penjara saja tidak akan pernah cukup, aku akan menghancurkan semua yang dia pernah raih termasuk mencabut penghargaannya."
"Kekasihku sangat buas," kekeh Romeo dan Saira menatapnya dengan tersenyum.
"Aku memang buas, kau juga bisa kuterkam kapan saja."
__ADS_1
Mereka tertawa sejenak, sebelum mengalihkan kembali perhatian pada kegiatan mereka. Saira memasang alat untuk bisa mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan.
"Anda harus bisa menutup mulut Pak Hakim, kami berdua benar-benar sedang berada dalam masalah. Anda harus membantu kami."
"Benar, Pak Hakim. Uang ini belum seberapa, kami akan kembali memberimu setengahnya saat posisi kami mulai aman."
Pria tua itu tersenyum dan menatap uang tersebut. "Semua bisa saya atur dan kalian tidak perlu khawatir."
"Terima kasih, Pak Hakim. Kami tahu kalau Anda sangat bisa diandalkan."
"Selagi ada uang, semua orang bisa diandalkan."
Mereka bertiga tertawa dan kembali saling menjamu. Saira terus mengambil setiap detil yang ia lihat. Kali ini riwayat mereka akan segera tamat.
"Ayo!" ayak Saira saat sudah mendapatkan semuanya.
Pergerakan mereka disaksikan oleh mata-mata Wira dan mereka segera memberitahu pria itu. Wira kaget bukan main dan menyuruh mereka untuk segera menangkap mereka dan mengambil benda tersebut.
"Tangkap dan ambil buktinya!" teriak Wira. Ia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengepung Saira.
__ADS_1
-----
Halo gais maaf banget aku gk update. Aku jatuh cinta, bukan wkwkwkwkw. Aku jatuh sakit 🥺🥺