
"Pulangnya kita ke rumah sakit, ya." ajak Alyne karena khawatir dengan kondisi kaki Saira. Bagaimana jika terjadi infeksi atau yang paling buruknya kaki indah itu harus di amputasi. Bukankah banyak kasus yang terjadi seperti itu.
"Tidak perlu," ucap Saira pelan.
"Tapi tetap saja, kita akan ke sana. Jangan membantah!"
"Kalau begitu buat apa mengajakku ke sana, jika pada akhirnya tetap memaksaku pergi."
"Itu hanya formalitas belaka, jadi tidak perlu di protes."
"Ya, kau menang Alyne, bawalah aku kemana pun kau mau."
Alyne sangat senang mendengar kalimat yang diucapkan oleh Saira, jarang-jarang gadis itu akan mengalah ke padanya. Sesampai di rumah sakit, Alyne segera membawa Saira menuju ruangan dokter yang sudah ia telpon sebelumnya.
"Kenapa kita tidak antri?" tanya Saira mengernyit heran.
"Karena aku sudah memesannya sebelum aku mengajakmu kemari."
__ADS_1
Saira mendengus kesal mendengarnya. Ia heran kenapa gadis seperti Alyne yang menyebalkan malah menjadi temannya. Meski posisi keduanya seperti atasan dan bawahan, tapi tidak ada jurang pemisah di antara mereka. Jika keduanya berjalan, maka orang lain akan mengira mereka sebagai saudara.
"Boleh saya lihat lukanya?" wanita itu tersenyum kepada keduanya.
Saira segera menunjukkan lukanya yang tidak begitu parah dan dokter itu tersenyum.
"Lukanya ringan dan cukup oleskan saja krim ini ke area sekitar. Dua hari juga akan kelihatan perubahannya. Wanita itu mencatat sesuatu di kertasnya. Selang beberapa detik, menyerahkan kepada Alyne.
"Tapi apa tidak akan infeksi?" tanya Alyne berlebihan.
"Tidak," ucap dokter tersebut tertawa kecil. Ia melanjutkan kalimatnya. "Tebus obatnya di apotek."
Mereka menuju sebuah apotek dan tanpa direncanakan sebelumnya. Izora juga berada di sana sedang antri giliran. Karena melihat antrian yang cukup panjang Alyne menyuruh Saira agar tetap di dalam mobil. Mata Saira kemudian terpaku pada sebuah tubuh yang kini terlihat sangat kurus. Dulu tubuh itu sangat berisi dan montok.
"Kak Izora," bisik Saira pelan. Perlahan rasa amarah dan dendamnya sirna diganti oleh rasa kasihan. Apa keluarga mereka begitu berantakan sampai tidak bisa menjaga diri sendiri.
Saira terus memperhatikan saat giliran gadis itu yang maju ke depan dan segera menyerahkan kertas tersebut. Wajahnya tampak sangat pucat, ia yakin gadis itu tidak tidur dengan baik.
__ADS_1
Saat hendak berbalik, tubuh Izora bertabrakan dengan seseorang hingga terjatuh ke lantai. Hidungnya sampai berdarah. Beberapa orang terlihat menjadi panik termasuk Saira yang hanya melihat dari mobil. Alyne berjalan mendekat dan segera membantunya berdiri.
"Hati-hati ya, jangan sampai jatuh lagi," ucapnya sambil tersenyum.
Izora mengucapkan terima kasih lalu segera pergi dari sana. Perasaan Saira menjadi tidak karuan setelah melihat kondisinya. Apa mungkin ibunya masih berada di rumah sakit. Lalu kemana kakak lelakinya, sehingga hanya Izora yang mengurus semua sendiri.
"Kau sudah selesai?" tanya Saira tanpa sadar. Ia sejak tadi sibuk memandangi tubuh Izora yang menghilang di balik lorong bangunan. Ia mendesah pelan.
"Sudah, apa kamu mau membeli sesuatu?" tanyanya.
Saira menggelengkan kepala dan Alyne segera melajukan mobil menuju kediaman mereka.
...
Izora menangis di sudut ruangan sambil meringkuk. Dari semua hal buruk yang ia lakukan kepada Saira. Inilah balasan dari Tuhan untuknya. Kebahagiaan keluarga yang dulu sangat ia agungkan sampai menimbulkan sebuah kesombongan. Kini perlahan lenyap, kedua orang tuanya sakit dan ia harus berjuang sendirian. Belum lagi perusahaan tempat ayahnya bekerja mengalami kebangkrutan. Alhasil, pria payuh baya itu harus ikut kena PHK.
-------
__ADS_1
Kasian Kakak hikkk,