Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Masuk Jeratan


__ADS_3

Kedekatan antara Saira dan Aksa mulai terjalin. Hal itu membuat Aksa senang dan selalu membayangkan senyuman Evellyn. Gadis itu selalu bisa membuat jantungnya berdebar lebih kencang. Ia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.


"Evellyn, kamu sedang apa?" Senyuman masih melekat di wajahnya yang tampan.


Di seberang telpon, Saira sedang tersenyum sinis mendengar pertanyaan pria itu. Ia yakin saat ini Aksa sedang dimabuk asmara dan itu hal yang bagus.


"Sedang menonton, kamu sendiri?" tanya Saira basa basi. sejujurnya ia malas mengangkat panggilan Aksa. Namun, demi misinya ia harus mau melakukan apa pun.


"Aku sedang memikirkan dirimu!"


"Dasar gombal," ucap Saira sambil tertawa kecil.


"Aku tidak sedang menggombalimu, tapi ini seriusan. Kamu sudah memberi warna pada kehidupanku yang suram."


Wajah Saira mendadak datar mendengar penuturan darinya. Seolah dirinya yang dulu tidak begitu dikenang. Melihat kesedihan di mata Aksa, pria itu seperti tidak bisa hidup tanpanya. Namun, semua hanya sebuah kebohongan. Saira semakin yakin untuk membalaskan rasa sakitnya.

__ADS_1


"Apa posisi kekasihmu sudah bergeser dari hatimu?" tanya Saira datar.


"Entahlah, Eve, yang aku tahu semenjak bertemu denganmu jantungku seolah berdetak lebih cepat. Aku seperti siap berpacu dengan waktu. Selalu kualami."


"Itu artinya, secara tidak langsung aku sudah mengganti posisi kekasihmu Aksa. Bagaimana itu, aku tidak mau disebut sebagai perebut kekasih orang. Ya meskipun kekasihmu sudah tiada."


"Tidak, itu tidak akan pernah terjadi, aku tidak akan membiarkan dirimu dicap sebagai wanita seperti itu." Aksa terdengar berucap dengan penuh keyakinan. Tidak ada keraguan sedikit pun di setiap kalimatnya.


"Baiklah kalau begitu," ucap Saira penuh syukur. Ia akan melihat sejauh mana pria itu mampu ia permainkan.


"Aksa, sudah dulu, Alyne memanggilku. Mungkin ada hal penting yang mau dikatakan." Saira segera mengakhiri perbincangan mereka. Ia membuang ponselnya ke ranjang dan tersenyum sinis.


Saira bersumpah demi dirinya di masa lalu, ia baru akan tenang jika sudah membalaskan dendamnya kepada Aksa. Pria yang ia cintai dengan seluruh hidupnya. Namun, memberinya berjuta luka tanpa jeda. Bahkan pria itu dengan mudah memalingkan hatinya pada wanita lain. Jika pria itu melakukannya pada sang Kakak, ia tidak pernah mempermasalahkannya.


"Aksa, sebentar lagi kamu akan merasakan betapa pedihnya mencintai orang yang tidak pernah membalas perasaanmu. Bahkan kamu akan belajar hal yang paling menyakitkan."

__ADS_1


Saira tertawa pelan, ia akan segera memulai aksinya untuk menakhlukkan Aksa. Semakin cepat maka akan semakin baik. Sebuah ketukan membuat ia mengalihkan atensinya. Ia segera membuka pintu dan melihat Alyne berdiri di sana sambil membawa teh hangat.


"Ada apa?" tanya Saira sambil melebarkan pintunya dan mempersilakan Alyne masuk.


"Ada yang mau kutanyakan mengenai kasus pencemaran nama baikku kemarin."


"Oh soal itu, semua sudah beres. Pengacaraku sudah menjobloskan pamanmu ke dalam penjara. Semua kejahatannya terkuak dan dijatuhi hukuman lima belas tahun penjara. Pamanmu juga terlibat pembunuhan yang sudah ia sembunyikan selama tiga tahun terakhir."


Penjelasan Saira membuat gadis itu sedikit syok. Ia tidak menyangka jika pamannya sampai melenyapkan nyawa manusia demi apa yang dia inginkan. Kenapa dia bisa terikat tali persaudaraan dengan pria jahat seperti itu.


"Sejujurnya aku sangat terkejut, tapi terima kasih untuk semuanya Ev. Tanpa kamu, mungkin semua kejahatannya tidak akan terbongkar."


 


Buah mangga Buah kedondong

__ADS_1


jangan lupa sogokannya dong


Wah pantunku makin muantap bikin nabok ya wkwkakw.


__ADS_2