Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Mengenang setelah Pergi


__ADS_3

Seperti biasa—Aksa menghampiri makam istrinya sambil membawa sebuket bunga mawar. Ia bahkan sampai memiliki langganan. Bunga yang ia bawa juga segar karena langsung dipetik dari batangnya. Kali ini sebuket mawar putih ia letakkan di samping kanan makam istrinya. Rasa rindu seketika menyeruak memenuhi relungnya. Terkadang ia berpikir, mengapa Tuhan ia harus menyadari perasaan saat Tuhan mengambil istrinya.


Raganya yang belum siap kehilangan, seolah dipaksa menerima semuanya. Setiap kesana air mata selalu setia menemani.


"Sayang, kamu pasti sangat bahagia di sana ya kan? Apa kamu pernah sekali saja merindukanku?" ia mengusap pelan air mata yang mulai membasahi pipi.


"Maaf karena aku cengeng, kamu pasti tidak suka melihatnya." ia tertawa pelan.


"Sayang, aku pulang dulu, besok akan ada pertemuan penting denggan tamu penting perusahaan. Aku sangat mencintaimu."


Ia pergi meninggalkan tanah pusara itu menuju sebuah panti asuhan yang ia beri nama Rumah Kasih Saira. Sudah lama ia tidak mengunjungi panti tersebut. Di sana ia seperti merasa sangat damai dan tentram. Semenjak kepergian Saira, ia membangun rumah panti untuk mengenang istri kesayangannya.


"Papa Aksa!" teriak beberapa anak dan berhamburan memeluknya.


Ia tersenyum senang dan melihat mereka semua menghampirinya dngan wajah ceria. Seorang wanita datang dari dalam dan menyambut kedatangan Aksa.


"Anak-anak, Papa Aksa pasti lelah, ayo biarkan beliau istirahat dulu."

__ADS_1


Mereka tampak sedih. Namun, langsung senyum kembali saat mendengar kalimat Aksa.


"Tidak apa-apa Bu Azty, saya senang mereka bergelayut manja dan menyerbuku seperti tadi."


"Anak-anak, sekarang ayo kita main bersama." Aksa mengeluarkan sesuatu dari dalam mobil.


"Yey, kita main bola, terima kasih Papa Aksa!" teriak mereka dengan gembira.


Aksa memberikan bolanya dan membiarkan mereka bermain di sana. Pengurus panti menghampiri dirinya.


Aksa tersenyum dan kembali mengedarkan tatapannya pada sekumpulan anak-anak yang bermain dengan gembira.


"Mereka terlihat sangat gembira, dengan hanya memainkan bola itu." Azty tersenyum menatap mereka semuanya.


"Iya, Pak. Saya senang karena mereka sangat nyaman di panti ini. Mungkin karena panti ini didirikan untuk mengenang Bu Saira."


Aksa menatap langit yang mulai berubah jingga, "Ibu benar, mereka semua bisa merasakan kasih sayang yang tidak kasat mata."

__ADS_1


"Bu Azty, saya harus kembali karena besok akan ada pertemuan penting." ia pergi dari sana dan memghampiri mereka yang sedang bermain.


"Anak-anak, Papa Aksa harus kembali. Kalian lanjutkan saja bermainnya, ya."


"Papa, terima kasih karena selalu menyempatkan waktu bersama kami. Papa hati-hati di jalan. Kami menyayangi Papa."


Aksa memeluk mereka dengan sayang, "Papa juga sangat menyayangi kalian semuanya. Kalian harus jadi anak yang baik, supaya Papa selalu bersama kalian."


"Siap kapten, Papa harus berjanji, nanti bawakan Mama kemari." salah satu dari mereka mengatakan hal tersebut.


Aksa menatap anak itu dan memegang pundaknya dengan sayang. "Mama pasti akan datang, asal kamu menjadi anak yang baik."


"Ya sudah, Papa kembali dulu ya."


Aksa menjalankan mobilnya keluar dari panti asuhan menuju kediamannya.


-----

__ADS_1


__ADS_2