
Izora mengambil tas dan meninggalkan selembar uang merah di mejanya. Setelah itu ia pergi dan mengemudikan mobilnya dengan segera. Ia tidak mau sampai terjadi apa-apa sama ibunya, wanita yang kini berusia lima puluh enam tahun itu sudah banyak menderita semenjak meninggalnya Saira.
Pria itu menatap kepergian Izora sambil mendesah. Baru lima belas menit tapi dia diabaikan lima kali. Sungguh luar biasa. Ia tersenyum dan mulai sekarang ia akan mendapatkan hati Izora sepenuhnya.
Ia sampai di rumah dan segera ke kamar Ibunya. Wanita itu sedang terbaring lemah di ranjangnya. Ia terus memanggil-manggil nama Saira. Hal itu membuat Izora sangat sakit. Ia menangis melihat kondisi ibunya. Ditambah sang ayah sedang keluar kota karena pekerjaan.
"Ma, ini Izora, kita ke rumah sakit ya."
Wawa membuka matanya dan melihat Izora, "Sayang, anaknya Mama, Mama jangen sama kamu."
"Ma, ini Izora bukan Saira, Saira kita sudah tenang di sana. Kita doakan supaya Saira selalu bahagia ya."
Wawa kembali menangis dan pingsan. Izora segera menelpon seorang dokter yang sudah lama bekerja sebagai dokter pribadinya. Selang beberapa puluh menit,dokter tersebut sampai ke rumahnya. Ia mebuka pintu dan kaget karena yang datang bukan dokter yang dia kenal.
"Maaf, Anda siapa?" tanya Izora bingung. Pria itu bahkan menajdi ngilu karena tidak dikenali sama sekali.
"Saya Alvin, saya dikirim Pak Dito ke rumah ini untuk menggantikan beliau," ucapnya sambil tersenyum.
"Oh, silakan masuk Dok, ibu saya ada di kamar, mari."
__ADS_1
Setelah sampai Alvin segera memeriksa kondisi Wawa dan tersenyum. "Kondisi beliau baik-baik saja, dia hanya sedang merindukan seseorang. Kalau bisa pertemukan mereka supaya kondisi beliau membaik."
Izora mendesah pelan dan menatap Alvin serius. "Seandainya dia masih hidup."
Setelah mengatakan hal itu, Izora pergi dari sana menuju kamarnya. Sedangkan Alvin segera pulang dan di antar oleh pembantunya sampai ke depan pintu.
"Bik, nanti obatnya kasih teratur ya, saya pulang dulu." Alvin segera beranjak dari sana.
"Baik, Dokter."
"Non, makan dulu, Bibik sudah siapkan di bawah."
"Jangan sampai nggak makan Non, nanti ikutan sakit Bibik galau Non."
"Iya Bik."
Izora menghapus air matanya. "Saira, andai kamu masih hidup, keluarga kita tidak akan seperti ini. Andai juga aku mau mengalah, kamu tidak akan menderita. Maafkan Kakak Saira, sudah banyak salah sama kamu."
Di lain tempat, Aksa segera menuju tempat tempat pembangunan yang sempat roboh bagian tiangnya. Di duga terjadi kesalahan teknis dan menyebabkan satu pekerjanya harus dilarikan ke rumah sakit.
__ADS_1
"Jadi gimana Gas," ucap Aksa serius.
"Kondisinya nggak fatal banget cuma harus banyak istirahat kata dokternya."
"Syukurlah, aku akan menyelidiki semua ini, kesalahannya terletak di mana."
"Ya udah, gue bantu pantau mereka ya selagi lo sediki."
Aksa menganguk dan segera menyelidiki hal ini. Jika pondasinya dari barang yang bagus, mustahil bisa roboh hanya karena angin yang nggak seberapa kencang. Kalau dibiarkan seperti ini bisa-bisa proyeknya gagal total dan mereka akan mengalami kerugian parah.
Hal ini sudah terdengar ke telinga Saira. Ia tidak suka ada kecacatan dalam pembangunan ini. Jika banyak kendala maka kepulangannya akan semakin diundur. Ia tidak mau sampai semua itu terjadi.
"Alyne, ayo kita ke tempat pak Aksa."
Alyne menganguk dan segera mengambil kunci mobilnya. Mereka segera pergi ke sana untuk menenemui Aksa dan membahas semuanya.
-----------
Note : Kalau sampai 100k dalam dua hari, aku akan update empat bab. kalau tidak hanya update dua bab kayaknya.
__ADS_1