
Abaikan bagian akhirnya, nanti kalian pengen juga. nggak boleh ya. Tutup mata pokoknya, jangan tutup hidung, nakal itu namanya.
***
Beberapa temannya menggeleng melihat kelakuan gadis itu. Di benak mereka, bagaimana mungkin pria setampan itu bisa jatuh cinta gadis seperti mereka. Sedangkan gadis yang bersama pria itu sangat elegan dan mereka yakin wajahnya sangat cantik.
"Apa yang kau lihat?" tanya Saira saat mata tajam Romeo menembus dirinya.
"Tidak ada, hanya sedikit gangguan." kekehnya dan mereka kembali melanjutkan makan malam.
Selesai makan Romeo dan Saira segera meninggalkan restoran tersebut. Jumlah yang dikeluarkan Romeo untuk malam ini fantastis. Tapi bagi pria itu, uang bukan masalah baginya. Yang penting adalah Saira merasa senang.
"Kita langsung pulang?" tanya Saira dengan alis terangkat sebelah.
"Apa kamu ingin ke suatu tempat?"
Saira menganguk. "Itu juga kalau kau mau menemaniku ke sana."
__ADS_1
"Jangankan ke sana, ke mana pun aku mau asal itu bersamamu."
Saira kembali tertawa mendengar ucapan pria itu. Meski kesannya gombalan tapi Romeo serius mengatakan hal itu. Bahkan tidak ada raut jenaka terpatri di sana.
Di sinilah keduanya, di tempat wisata malam Kemang dan Senopati. Dihiasi lampu gemerlap dengan berbagai warna mampu membuat perasaan siapa pun akan menjadi damai. Belum lagi udaranya yang sejuk memberi sentuhan khusus bagi penikmat. Romeo segera melepas jasnya dan menutup bahu Saira dengan itu. Bukan karena ingin mencari kesempatan. Namun, ada beberapa mata nakal yang menatap tidak sopan.
"Pakai saja, jangan diprotes."
Saira mengangguk tanpa bantahan. Lagi pula udaranya sedikit dingin. Dulu untuk mengajak Aksa ke sini sangat sulit sekali. Ia bahkan sampai harus memohon beberapa kali. Terakhir mereka ke sini, pria itu meninggalkannya seorang diri dan pergi bersama Izora. Saira yang saat itu tidak membawa uang pun, kebingungan bagaimana caranya pulang. Bahkan ponselnya tertinggal di mobil Aksa.
Ia duduk dengan tatapan melamun di sebuah kursi sampai mendengar suara seseorang memanggilnya.
"Bisakah kamu mengantarku pulang." tatapannya sangat mengiba dan bersyukur karena Tuhan mengirim pria ini.
"Tentu saja, ayo!" ajaknya lembut.
Perlahan air mata jatuh membasahi pipi Saira. Ia dengan cepat mengusapnya sebelum Romeo menyadari itu.
__ADS_1
"Romeo, ayo kita pulang! Aku sedikit lelah."
"Ayo! Apa kugendong saja?"
Saira memukul bahu tegap pria itu dengan kesal. "Aku hanya sedikit merasa lelah, bukan berarti tidak bisa berjalan."
"Mana tahu, kamu ingin merasakan kekuatan dari tangan kekarku." godanya berhasil membuat Saira kembali tertawa. Ia bahkan melupakan hal yang sempat membuatnya sedih.
Bersama Romeo, hatinya selalu damai dan pria itu dengan sigap bisa membuatnya tertawa. Saira bersyukur karena Tuhan pernah mempertemukan mereka berdua meski dalam tubuh yang berbeda. Romeo menatap lekat wajah Saira di mobil, suasana parkir yang masih lenggang dengan pencahayaan yang tidak begitu terang. Pria itu memajukan wajahnya sampai keduanya saling bertatapan. Degup jatung memompa dengan cepat, embusan napas keduanya menyatu membelah malam.
"Biar kupasangkan." Romeo memasangkan sabuk pengaman. Saira masih memperhatikan Romeo yang sudah berhasil membuat jantungnya lari maraton. Ia pikir pria itu akan menciumnya. Tapi ia sedikit kecewa. Entahlah!
Lalu tanpa sengaja, ponsel Romeo jatuh. Dengan refleks keduanya mengambil dan tangannya saling menggenggam. Seolah ada sengatan listrik yang mengaliri setiap syaraf.
"Maaf, aku tidak bermaksud," ucapan Saira terhenti oleh sebuah benda kenyal yang menempel di bibirnya. Romeo mengecup bibirnya. Setelah itu, wajah mereka sama-sama memerah dan saling membuang pandangan.
"Eve, maaf. Aku hanya gemas melihat bibirmu."
__ADS_1