Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Memuncaknya Sebuah Amarah


__ADS_3

Saira tiba-tiba ingin mengunjungi pemakaman, ia izin kepada Alyne yang saat itu sedang mengerjakan beberapa tugas yang tidak bisa ia tinggalkan. Ia pergi dengan mengendarai mobil audi keluaran terbaru yang sengaja disediakan oleh ayahnya. Di perjalanan Saira melihat kedai bunga dan memutuskan berhenti untuk membeli beberapa bunga kesukaannya, selesai dengan itu, ia segera pergi.


Saira kembali bertemu dengan Wawa yang saat itu sedang menabur bunga di makamnya. Dia terlihat tidak menyukai hal itu. Namun, untuk berlari, tidak akan dia lakukan, menghadapi masa lalunya memang menyakitkan, tapi harus dilalui.


"Saira, kenapa Mama berharap kalau kamu masih hidup."


"Maaf, apa Anda sudah selesai?" tanya Saira datar.


Wawa mengalihkan tatapannya dan manik mereka bertemu. Naluri keibuannya seolah bergetar. Ia berdiri dan menatap Saira dalam.


"Kamu siapa, Nak?" tanya Wawa lembut.


Saira sangat benci melihat semuanya. Kemana kelembutan itu saat ia masih bersama mereka. Kemana perginya kalimat pedas yang menusuk hatinya, kemana umpatan dan hinaan itu. Kenapa yang tersisa hanya kelembutan. Seolah ia sangat disayangi.

__ADS_1


"Maaf, saya ingin berjiarah ke makam sahabat saya," ucapnya tanpa menjawab pertanyaan.


Wawa tersenyum melihat sahabat dari putrinya sedang berjiarah. Ia menemani Saira di sana tanpa berniat beranjak sedikit pun. Selama ini, Wawa tidak mengetahui jika putrinya memiliki sahabat. Awalnya Saira merasa risih. Namun, ia tersenyum mengejek.


"Saira, kamu pergi dengan membawa kesedihan. Aku tahu bagaimana perihnya hidup yang dulu kamu jalani. Aku berharap sekarang kamu sudah bahagia, karena tidak akan ada lagi yang bersikap buruk padamu."


Mendengar kalimat itu, Wawa menangis dalam diam. Semua itu kembali mengingatkan betapa jahatnya ia sebagai seorang ibu. Bahkan seekor hewan, tidak akan mmebiarkan anaknya dilukai. Saira melihat ke arah Wawa. Hatinya ingin menjerit dan memeluk tapi akalnya menolak. Semua memori menyakitkan selalu memenuhi kepalanya.


"Bibi, jangan melakukan hal yang sia-sia dengan menangisi kepergian putrimu. Bukankah kepergiannya lebih baik dari pada ia hidup."


"Saat Bibi membuat keputusan untuk membencinya, maka pertahankan rasa itu. Karena apa yang Bibi tanam bersama keluarga, itulah yang akan Bibi tuai hasilnya."


"Siapa kau beraninya berkata seperti itu kepada ibuku!"

__ADS_1


Izora datang dengan murka saat melihat ibunya menangis. Ia juga mendengar kalimat menyakitkan yang barusan ia katakan. Saira melihat ke arah Izora dan tersenyum mengejek.


"Saya heran, kenapa kalian masih berkeliaran di makam Saira, apa kematiannya belum cukup? Kamu kakaknya kan?" tanya Saira dengan tajam.


"Memangnya kau siapa? Mengatur kami, hah! Saira adalah keluarga kami, tidak ada alasan kami tidak datang kemari!"


"Keluarga? Anda baru saja mengatakan Saira sebagai anggota keluarga?" Saira menggeleng dan tertawa mendengar ucapan Izora.


"Saudara mana yang menyakiti saudaranya sendiri. Keluarga mana yang mengasingkan anggotanya sendiri. Apa kalian tidak malu menyebutnya sebagai bagian dari keluarga! Sungguh memuakkan sekali." dengkus Saira dan meletakkan bunganya. Ia menyingkirkan bunga yang tadi dibawa oleh Wawa.


"Apa yang kau lakukan? Letakkan kembali bunga itu!" teriak Izora saat gadis yang tidak ia kenal dengan lancang membuang bunga pemberian dari ibunya.


Wawa terisak dan bersimpuh di tanah. Ia memang jahat sebagai ibu. Ia tidak merasa pantas disebut ibu. Demi kebahagiaan putrinya, Saira menjadi korban dari kejahatannya. Ia menangis memeluk makan Saira.

__ADS_1


-----


__ADS_2