Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Perlahan-lahan


__ADS_3

"Mama sudah berbohong padaku, apa sebelumnya Mama juga berbohong mengenai nama panggilanku. Aku merasa sangat asing dengan Dom. tapi gadia itu pernah memanggilku dengan nama Romeo. Apa sebenarnya itu namaku?"


Pertanyaan itu kerap hadir menghantuinya. Ia kembali mengingat beberapa ingatan samar. Seorang gadis yang sedang tertawa dengannya. Terlihat juga ia tampak sangat mencintainya tapi wajah itu sangat samar.


"Perasaan macam apa ini?" tanya Romeo saat ia seperti sangat dekat dengan gadis itu. Ia seolah tidak bisa kehilangan.


"Selamat pagi, Dominic." sapa Angelina saat memasuki ruangnya.


"Pagi," ucap Romeo tersenyum tipis.


Ia menatap Angelina dengan saksama sampai gadis itu tersipu malu. Romeo bangun dari kursi kebesarannya dan menghampiri Angelina di sofa.


"Aku ingin kenanyakan sesuatu Angel," ucap Romeo lembut.


"Menanyakan apa?"


"Apa yang terjadi satu minggu yang lalu setelah aku pingsan?"


"Maksudmu?" tanya Angel pura-pura tidak mengerti.

__ADS_1


"Ayolah Angel, aku tahu kamu paham maksud dari pertanyaanku, jangan begitu polos nanti aku bisa menerkammu." kekeh Romeo pura-pura tertarik dengannya.


"Ah, aku akan sangat senang jika kamu menerkamku," kekeh Angelina sebelum ia menjawab pertanyaan Romeo.


"Jadi, Apa yang terjadi?"


"Gadis itu pergi karena malu dan menghilang selama satu minggu."


Mendengar jawaban dari Angelina sama persis dengan jawaban ibunya. Satu hal yang bisa disimpulkan olehnya yakni mereka berdua telah bekerja sama. Romeo jadi yakin jika dia ada hubungan dengan gadis yang selalu berusaha dijauhkan oleh ibunya.


"Baiklah kalau begitu," ucap Romeo tersenyum lalu kembali ke kursinya dan melanjutkan pekerjaannya. Ia harus melakukan sesuatu sebelum semuanya menjadi runyam. Kembali, sekelibat bayangan buram menyelinap di kepalanya. Ia merasakan kepalanya dicengkam dengan kuat dan meringid kesakitan. Angelina segera membawanya ke rumah sakit.


Di hotel, Saira sedang bersiap-siap pergi bersama Alyne. Tiba-tiba kepala Saira mengalami sakit yang luar biasa. Ia jatuh begitu saja membuat Alyne ketakutan.


Ia segera meminta bantuan pada pihak hotel dan segera membawa Saira ke rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari dari sana.


"Dokter, apa yang terjadi dengan teman saya?" tanya Alyne ketar ketir. Apalagi wajah dokter terlihat sedih.


"Kondisinya sangat lemah, dia mengalami pembengkakan di kepala. Apa sebelumnya dia ada kecelakaan atau terbentur?" tanya dokter dengan serius.

__ADS_1


"Ada dokter, tapi itu sudah lama. Kira-kira enam bulan yang lalu."


"Efeknya baru terasa sekarang. Dia harus segera di operasi jika ingin menyelamatkan nyawanya."


"Lakukan apa pun, dokter."


Dokter tersebut menganguk, kini Alyne terdiam di tempatnya. Sekarang apa lagi yang ingin Tuhan tunjukkan kepadanya. Ia sudah banyak kehilangan orang yang dia sayangi. Jika Tuhan kembali melakukannya, ia akan ikut mati. Namun, pikiran Alyne kembali jernih saat mengingat orang tua Saira. Mereka harus tahu kondisi terkini dari putrinya. Ia segera menghubungi mereka.


"Halo, Lyn. Ada apa? Di mana Evellyn?" tanya William beruntun.


"Tuan Will, Nona Evellyn mengalami pembengkakan di kepala dan harus segera di operasi."


"Apa yang terjadi padanys?" tanya William dengan khawatir.


"Kecelakaan dulu menyebabkan pembengkakan itu yang baru bereaksi sekarang."


"Kamu jaga Eve sebelum kami sampai ke sana."


"Baik, Tuan."

__ADS_1


Di sudut lorong Romeo melihat Alyne sedang tampak murung di depan sebuah ruangan. Ia segera mendekat dan disambut tatapan tajam dari Alyne.


------


__ADS_2