
"Apa liat-liat!" hardiknya pada beberapa karyawan yang lalu lalang.
Alyne menatap ke arah Viya dengan tatapan sinis. Ia bahkan dengan berani menyenggol wanita itu hingga jatuh ke lantai. Saira menggeleng melihat kelakuan temannya. Terlihat sekali dendam membara di matanya. Viya terlihat sangat marah dengan apa yang dilakukan gadis itu.
"Berani kau menyenggolku!" teriaknya marah sampai memenuhi lantai satu.
"Ups, apa? Mau mengancam lagi?" ejek Alyne sambil menendang baskom berisi air dan berhamburan di lantai.
Saira tertawa dalam diam melihat pembalasan Alyne. Selama ini ia sudah sangat menahan diri, karena Saira tidak ingin memcari masalah. Tapi sekarang identitasnya sebagai Evellyn sudah diketahui oleh Romeo. Mereka berdua juga menjadi tontonan opera di pagi hari.
"Kau!" teriaknya marah.
"Ada apa ini? Kenapa lantainya masih digenangi air!" Romeo datang dan melihat keduanya sedang bersitegang.
"Maaf, Pak. Tadi dia yang mulai duluan!" teriak Viya menatap Alyne dengan wajah membara. Alyne sendiri tetap diam tidak membalas. Sebagai karyawan, dia harus bisa menghormati atasan dan harus melawan wanita itu dengan cara elegan.
"Lihat, Pak. Dia diam karena tahu sudah salah." kesal Viya.
__ADS_1
Romeo melihat ke arah Alyne yang masih sangat tenang. Bahkan tidak ada pembelaan sama sekali. Lalu matanya menatap Saira yang terlihat sangat santai. Ia hendak mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi lantaran Alyne.
"Bapak bisa menilai siapa yang salah di sini, saya atau Bu Viya. Apa salah jika saya menegur karena dia tidak bekerja dengan baik."
Semua yang menjadi saksi tidak ingin memberikan bantahan atas argumen Alyne. Karena bagi mereka, turunnya kedudukan wanita itu menjadi sebuah berkah bagi mereka semua. Selama menduduki jabatan sebagai kepala seksi kreatif. Ia selalu berbuat semena-mena kepada seluruh karyawan atasan. Sedang bersama atasan, dengan lihai menjilat dan seolah dia sudah menjadi kepala seksi yang baik.
"Kau, kenapa berbohong. Kalian semua kenapa tidak berkomentar!" teriak Viya merasa diperlakukan tidak adil. Jelas-jelas mereka yang menjadi saksi.
"Pak, apa yang dikatakan oleh Bu Ae semuanya benar, beliau hanya berniat untuk menegur Bu Viya. Tapi beliau marah karena merasa diperintah. Padahal maksud Bu Ae bukan seperti itu."
Seseorang maju ke depan dan menjelaskan semuanya. Hal itu kembali memojokkan Viya yang mulai membuatnya marah.
"Cukup!"
"Tapi, Pak."
"Saya bilang cukup!" Romeo terlihat menekan suaranya. Terlihat sangat geram dengan apa yang dilakukan oleh wanita yang kini berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Jika masih ingin bekerja di sini, tuntaskan pekerjaanmu dan jangan mengulangi lagi."
Romeo berjalan meninggalkan mereka semua menuju ruang kerjanya. Dari jauh, ia menatap Saira yang tampak menggeleng dan tersenyum melihat ke arah Alyne.
"Mereka berdua saling melengkapi ternyata." kekeh Romeo pelan.
"Kerja yang benar! Jangan selalu melihat dari atas, sesekali lihat lah dari bawah supaya kamu tidak bersikap semena-mena."
Alyne dan Saira kembali berjalan ke ruangannya.
"Wah, aku terkesan tadi."
Alyne tersenyum menyombong. "Siapa suruh dia semena-mena pada atasanku."
"Ya, ya. Kau memang malaikat pelindung."
Keduanya tertawa dan segera bekerja seperti biasa. Sedangkan Viya tampak menggenggam erat ganggang pel. Ia akan membalas semua perlakuan Alyne kepadanya hari ini. Gadis itu akan dia buat menyesal.
__ADS_1
--------
Alyne idaman banget yakkk. pengen punya temen kayak dia.