Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Alyne Malaikat Berhati Keji


__ADS_3

Alyne menangis saat hendak menceritakan kelanjutannya. Ia menepuk dadanya yang terasa sangat sesak.


"Mereka berdua memojokkan dirinya saat pria itu jatuh pingsan. Sekretarisnya sampai menolaknya sampai mengalami keguguran. Ia harus dirawat satu minggu karena kondisinya tidak stabil."


Entah mengapa air mata Romeo mengalir dengan pelan. Ia kini mulai paham siapa yang ada di dalam ruang operasi.


"Seolah hal itu belum cukup memukulnya. Dia harus dihadapkan dengan penghinaan langsung dari pria yang dulu memberinya kebahagiaan."


"Aku memang bodoh, aku pria paling bodoh di muka bumi ini."


Alyne melihat ke arahnya dan mengernyit bingung.


"Aku tahu kalau pria itu adalah diriku," ucap Romeo kesal. Kesal pada dirinya sendiri.


"Syukurlah jika kau sudah sadar! Tapi aku akan membalas sekretarismu."


"Apa yang akan kau lakukan dengannya?" tanya Romeo penasaran.


"Sama seperti dia yang mengambil sesuatu yang sangat dicintai temanku, aku juga akan mengambil apa yang sangat dia cintai di dunia ini."

__ADS_1


"Apa itu?"


"Harta!"


Senyuman Alyne terlihat sangat mengganggu Romeo yang merinding. Ia bisa merasakan setiap kelicikan yang bersarang di wajah Alyne.


"Kau tahu? Aku selalu akan membalas semua yang berbuat jahat kepada atasanku. Aku pernah membunuh seorang pria yang menyakitinya. Mungkin kau akan jadi sasaran berikutnya."


"Ti ... tidak, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Sekarang aku menyadari kalau dia orang paling berharga dalam hidupku meski masih hilang ingatan. Tapi aku yakin dari sikap ibuku yang berbohong."


"Kau tahu, ibumu yang menjodohkanmu dengan Eve, tapi sekarang dia dengan arogan ingin menjauhkan kalian berdua," ucap Alyne sarkas. Ia tidak peduli jika dikatakan tidak sopan. Karena baginya hanya yang pantas yang bisa mendapatkan rasa sopan dan hormatnya.


"Sekarang apa yang akan kau lakukan?" tanya Romeo.


"Mana bisa begitu."


"Kenapa tidak? Eve memiliki perasaan yang elastis. Ia akan mencintai pria yang bisa menjaganya. Tapi jika ia dilukai sekali, ia bisa membuang perasaanya jauh dan membangun benteng dirinya."


Alyne menatap ke arah Romeo yang terlihat tidak senang dengan perkataannya barusan.

__ADS_1


"Apa kau pikir dia tidak bisa melakukannya? Kau mungkin akan menjadi pria kedua yang menjadi gila!"


Setelah selesai mengatakan hal itu, Alyne segera pergi dari sana. Meninggalkan kegalauan di hati Romeo. Ia tidak ingin sampai mengalami hal tersebut. Bagaimana jika ia mendadak gila karena ditinggal pergi oleh Saira.


Romeo menggelengkan kepala, ia tidak bisa membiarkan hal ini sampai terjadi.


"Apa yang harus kulakukan agar tidak mengalami hal yang sama."


"Temukan jawabannya melalui hatimu."


Setelahnya Alyne segera pergi dari sana meninggalkan kebingungan sangat kentara di wajah Romeo dan hal itu membuat Alyne tersenyum miring. Romeo harus masuk dalam perangkapnya agar ia bisa membalas Angelina.


"Apa yang hatiku inginkan." desah Romeo yang masih mencoba mencari jawabannya.


Dia pun teringat dengan Angelina yang masih berada di parkiran. Dngan segera Romeo pergi dari sana menuju tempat gadis itu berada. Untuk mewujudkan semuanya ia harus membantu Alyne membalas kematian bayi itu. Romeo kemudian berpikir sejanak lalu jantungnya berdenyut nyeri saat menyadari sesuatu.


"Bayi itu, bayi itu adalah bayiku."


Romeo ingat saat pertama kali menatap Saira, ia tidak bisa mengalihkan tatapan dari perut buncit itu.

__ADS_1


"Bayi itu adalah bayiku," Romeo jatuh terduduk tanpa sempat berlalu.


 


__ADS_2