
Pagi itu, Saira bersiap-siap berangkat ke kantor Aksa untuk melanjutkan meeting mereka tempo lalu. Ia sudah bersiap bersama Alyne yang menunggunya di ruang tamu. Sebuah deringan menghentikan langkah kakinya, ia mengambil benda pipih tersebut dan tersenyum melihat nama yang tertera di sana. Ia menggeser tombol hijau pada panggilan wattsap nya.
"Halo, Ma. Ada apa pagi-pagi sudah menelpon."
"Sayang, Mama kangen sama kamu, kapan kamu pulang kemari?" tanya Halena.
"Ma, Eve masih sepuluh hari lagi di sini," ucap Saira sambil tertawa pelan.
"Kenapa lama sekali, rasanya kamu sudah pergi setahun Sayang. Rumah ini sepi kalau nggak ada kamu."
Saira tertawa pelan mendengar ucapan ibunya dari benua seberang. Sejujurnya ia juga merindukan wanita itu, tapi pekerjaannya belum juga usai. Setidaknya selama ia di sini, hal yang oaling utama ialah bisa melihat makamnya sendiri. Ia tidak berharap sekali pun bisa bertemu dengan orang-orang dari masa lalunya sampai dia kekbali ke Autralia. Karena semua terlihat akan sangat menyakitkan untuk diingat apalagi dikenang.
"Ma, Eve harus segera pergi karena ada rapat di kantor kliennya. Nanti Eve hubungi lagi, da Ma."
Saira segera mematikan ponselnya lalu meletakkan kembali ke dalam tas yang ia pakai. Alyne sendiri segera mengunci rumah dan mereka segera beranjak menuju perusahaan Aksa.
__ADS_1
"Alyne, pulang dari kantor saya mau mampir ke makam tempo lalu."
"Baik, Bu."
Ia menjalankan mobilnya dan sesekali melihat ke arah belakang. Di sana wajah Saira tampak sangat murung. Alyne tidak tahu apa yang terjadi, hanya saja ia tidak ingin bertanya lebih jauh karena itu semua bukan porsinya untuk bertanya. Mobil yang dia kemudikan juga sudah sampai di depan kantor. Saira segera turun dan berjalan memasuki kantor tersebut dan langsung menuju ruangan metting diikuti oleh Alyne yang setia berjalan di belakangnya.
"Selamat pagi, Pak. Rapatnya sudah siap dilaksanakan." beritahu sekretarisnya dengan sopan.
"Baik, terima kasih."
Aksa bangkit dari kursi kebangaannya dan berjalan menuju ruang meeting untuk membahas lebih lanjut pekerjaan mereka. Saira sudah duduk di kursinya. Ia menatap semua orang yang hadir di sana dan rata-rata adalah wanita dengan penampilan yang mencolok. Baginya gaya bukan hal yang utama jika pekerjaan tidak seberapa.
"Kita mulai saja rapatnya, untuk pembangunan gedung hotel di Jakarta Utara dengan konsep alam sudah disetujui dan sedang dalam masa pemantauan lokasi yang tepat."
Aksa menatap Saira yang duduk dengan tegal. Wajah dingin yang tidak pernah menampilkan senyuman membuat Aksa penasaran dengan sosoknya. Seolah gadis itu tidak ingin disentuh oleh siapa pun dan cenderung menutup akses untuk mengenalnya. Hal ini sangat menarik bagi Aksa.
__ADS_1
"Lebih cepat lebih baik untuk pengerjaannya, saya tidak ingin terlalu berlama-lama di sini."
Saira menatap mereka semua dengan datar, "Rapat selesai bukan?"
"Sudah, Bu Saira, Anda boleh pergi jika ada kepentingan lain." sekretaris Aksa menimpali sambil tersenyum.
Saira segera bangun dari duduknya dan Alyne mohon pamit. Mereka berdua meninggalkan ruangan tersebut bersamaan dengan beberapa karyawan yang tampak tidak senang dengan tindakan Saira.
"Nggak sopan banget sih ya, padahal dia dari luar negeri."
"Iya, kau benar. Ternyata attitudenya sangat minus."
Mereka terus saja berbisik-bisik mengenai Saira yang menurut mereka tidak pantas sama sekali. Aksa sendiri mwmilih segera pergi dari sana. Ia memutuskan menyusul Saira untuk menemui gadis itu. Selama ini tidak ada srorang pun yang mampu membuatnya tertarik.
Is segera menyusul ke lobi tapi mobil Saira baru saja meninggalkan perusahannya. Ia mendesah pelan dan kembali berjalan ke ruangannya.
__ADS_1
"Kenapa sosokmu sangat membuatku tertarik, Evellyn. Kamu mengingatkanku pada seseorang yang sudah kusia-siakan sampai akhir hayatnya."
-----