
"Sebenarnya apa yang sudah kamu alami?" tanyanya pelan.
Letupan emosi yang tidak mampu ditahan, menguar menjadi sebuah bumerang untuk Saira. Kembali mesin EKG menampilkan garis yang awalnya naik turun, kini perlahan rendah dan bergerak naik turun sampai garis horizontal. Beberapa suster dan dokter terlihat sibuk melakukan tugas mereka untuk menyelamatkan pasiennya. Namun, ikhtiar berhenti saat suara nyaring mesin itu berbunyi.
Tiiittttttt
Saira pun mengembuskan napas terakhirnya pukul 11:27 WIB. Suster yang menangani pasien pun menghela napas pelan. Dokter terlihat sedih. Seutas kain putih kini menutup wajah pucat pasi milik Saira.
di tempat lain, Aksa membuka perlahan surat yang ia temukan di atas nakas. Setiap bait kata ia baca dengan perasaan was-was.
Teruntuk suamiku...
Ketika pertama kali melihatmu, jantungku tak bisa berhenti berdetak.
Senyummu sangat menenangkan sanubariku.
Namun, aku mengacaukannya dengan menjebakmu.
Kak...
Maaf ya, aku sudah menanamkan kesengsaraan dalam hidupmu.
Tapi sebelumnya izinkan aku untuk memelukmu meski hanya dalam angan.
Kak...
Kejarlah cintamu, bahagialah bersamanya.
__ADS_1
Seperti janjiku, aku akan melepasmu untuk hidup bahagia bersama Kak Izora.
Deritan nyeri perlahan menghantam ulu hatinya. Aksa menatap nanar surat tersebut. Ia mulai mengingat hari terakhir mereka bertatap muka yakni tiga hari yang lalu.
Di ruang rawat Izora, gadis itu terlihat gelisah entah disebakan oleh apa. Hatinya berdenyut nyeri seolah akan ada kabar buruk yang menimpanya.
"Sayang, kamu kenapa Nak?" tanya Wawa lembut.
"Ma, entah kenapa aku merasa was-was."
"Sayang, kamu jangan berpikir aneh-aneh dulu ya. Kamu butuh istirahat yang cukup." saran Wawa lembut.
Izora menurut, ia kembali berbaring dan mencoba mengalihkan rasa cemasnya. Lalu seorang dokter memasuki ruangan.
"Selamat siang, Bu. Saya dokter yang menangani operasi Mbak Izora." terangnya sambil tersenyum kecil.
"Bu, kedatangan saya kemari untuk memberikan surat terakhir dari pendonor ginjal untuk putri Ibu." dokter tersebut menyerahkan satu lembar pada Wawa.
"Kalau begitu, saya permisi Bu. Mari!"
Wawa menganguk lalu perlahan membuka surat tersebut. Matanya mulai berair saat bait demi bait menghiasi coretan tersebut.
"Saira...," ucapnya tanpa sadar.
"Ma, ada apa dengan Saira?" tanya Izora bingung.
Tangan Wawa bergetar hebat, bibirnya tidak mampu berucap sepatah kata pun. Semua hal tentang Saira terekam di otaknya bagai kaset rusak. Perlakuan buruknya bahkan ia ingat, putrinya hanya meminta sebuah pelukan terakhir yang tidak ia sadari. Rasa sesal memeluknya erat sampai sulit mengembuskan napas. Izora mengambil alih surat tersebut lalu matanya terpaku pada isi dari suratnya.
__ADS_1
Untuk keluargaku yang sangat aku cintai...
Ma, kapan ya terakhir kali Ai meluk Mama. Ai ingin mengadu tapi menjangkau Mama begitu sulit. Maafkan Ai ya Ma, terlepas dari apa yang sudah Ai lakukan. Maaf karena hanya menghadirkan kekecewaan.
Pa, terima kasih banyak untuk semua kasih sayang Papa selama ini buat Ai. Maaf karena belum bisa menjadi anak yang baik buat Papa.
Kak Danu, aku ingat dulu kita kejar-kejaran di pantai. Kakak merebut mainanku, huh dasar kakak menyebalkan saat itu. Tapi semua kenangan ini sangat berharga untukku. Terima kasih, Kak.
Kak Zora, mungkin ribuan maaf tidak bisa menghapus kesalahanku pada Kakak. Maafkan aku yang membuat kakak seperti ini. Maaf atas semua perbuatanku yang sudah menyakiti Kakak. Aksa kini milik Kakak. Aku sudah melepasnya. Untuk pertama kalinya aku melakukan hal yang tepat dan aku bahagia melakukannya.
I love you my sister
Jaga ginjalnya dengan baik.
Jangan pernah meneteskan air mata jika aku pergi jauh dari dunia ini. Karena aku sangat bahagia sekarang.
Wawa dan Izora menangis, seorang dokter masuk sambil menatap keduanya dengan sedih.
"Bu, pasien yang mendonorkan ginjalnya pada putri Ibu. Baru saja meninggal dunia."
"Saira," ucap Izora menangis.
"Belum pernah saya menemukan pasien sebaik dirinya. Meski penyakit ginjal yang dideritanya sudah sangat parah tapi dia selalu tersenyum. Saya ingat saat dia mendatangi saya, menangis dan memohon agar dia bisa berguna bagi semua orang sebelum dia meninggal. Beruntung sekali orang tua yang memiliki anak seperti dirinya. Kalau begitu, saya permisi."
Kalimat itu bagai hantaman batu besar yang menghimpit paru-paru keduanya. Wawa jatuh pingsan. Sedangkan Danu menatap nanar surat tersebut. Jantungnya berdenyut nyeri. Ini kah kata pepatah, semua akan berharga saat sudah tiada.
__ADS_1