
Kondisi kesehatan Wawa semakin memburuk. Hal itu membuat Izora marah pada gadis yang tadi ia jumpai di makam. Andri sangat mencemaskan keadaan istrinya. Wanita yang sudah menemaninya selama tiga puluh tahun lebih.
"Kenapa kondisi Mamamu kembali drop?" tanya Andri sangat khawatir.
"Pa, semua ini karena gadis yang waktu itu datang melayat ke rumah Aksa. Dia ada di makan Saira dan mengatakan hal tidak-tidak pada Mama."
Danu yang baru pulang dari luar kota segera menuju ke rumah sakit. Ia membuka pintu dan segera menghampiri ayahnya.
"Papa, bagaimana kondisi Mama. Kenapa bisa seperti ini?"
"Kak, ini semua karena gadis itu. Dia penyebab Mama seperti ini." Izora tampak sangat membara, kemarahan berkoar di matanya.
"Kurang ajar! Aku akan memberinya perhitungan." geram Danu dan segera keluar dari ruangan tersebut.
Izora mengejarnya, "Kak, sudahlah. Biarkan saja, aku memang marah dengan apa yang dia katakan tapi semuanya fakta."
__ADS_1
"Meski pun begitu, dia harus diberi pelajaran Zora. Bukan haknya mengakan hal buruk pada Mama. Sekarang tunjukkan yang mana orangnya."
Izora dengan ragu menunjukkan sesuatu pada Danu. Kemarin ia sempat memotret dengan secara diam-diam. Danu menerimanya dan segera mencari gadis itu.
"Jaga Mama sampai Kakak kembali!"
Izora mengangguk dan menatap kepergian Danu dengan tatapan lesu. Kakaknya orang yang emosian dan gampang marah. Ia takut, hal itu akan menimbulkan masalah.
Aksa menatap Saira dengan intens. Entah kenapa hatinya damai saat menatap mata sebiru samudra. Meski manik itu selalu menatapnya dengan datar dan dingin. Kadang tidak bersahabat sama sekali. Saira menyadari tatapan Aksa tanpa mengambil pusing.
"Jangan menatapku seperti itu!"
"Jangan bilang mirip denganku!"
"Tidak, dia jauh lebih cantik darimu. Hanya saja kamu mengingatkanku padanya." Aksa tersenyum dan Saira terpana melihatnya.
__ADS_1
Dulu ia menginginkan senyum itu. Namun, tidak pernah diwujudkan oleh Aksa. Jangankan tersenyum, tatapannya selalu menebar amarah saat melihatnya. Saira mengusap air mata yang tanpa sadar mengalir membasahi pipinya. Kenangan itu selalu muncul.
"Kamu tahu, dulu aku sangat ingin melihat senyumannya. Tapi selalu hardikan dan hinaan yang kudapat. Entahlah, saat aku menginginkannya ia menjauh dan membangun benteng tinggi. Tapi saat aku pergi, dia mendekat seolah ingin berdamai."
Aksa mendengarkan dengan serius. Entah kenapa kisah Saira mirip dengan istrinya. Ia tertunduk lesu dan Saira tersenyum miring melihatnya. Ia sengaja memancing memori menyakitkan agar rasa bersalah selalu tertanam dalam diri Aksa. Terlihat pria itu kini sangat sedih.
"Sepertinya sudah sore, aku pulang dulu!"
Saira beranjak dari tempatnya dan tersenyum pada Aksa. Ia akan membuat pria itu mencintainya dan membalas rasa sakit yang dulu pernah ia terima.
"Terima kasih sudah menemaniku di sini!"
Saira melambaikan tangan lalu menghilang di balik mobilnya. Aksa menatap kepergian Saira dengan tatapan sendu. Ia seperti melihat Istrinya dalam diri Saira. Entahlah, padahal yang ia ketahui Saira sosok yang lembut dan tidak pernah menatapnya dengan tajam. Kecuali pada saat terakhir dia menghinanya. Ia memegang jantungnya dan tersenyum lirih.
----
__ADS_1
Gais demi kalian aku akan berkorban, demi kalian aku akan tetap update. Doakan semoga aku selalu mempunyai mood yang bagus. Hanya demi kalian, biarlah level 5. terserah mereka mau gimana, aku udah bodo amat. duh air mataku jatuh gais, aku antara terharu sama kalian dan sedih.
tapi aku yakin, Allah gk akan membiarkanku tetap di level 5. Allah maha tahu segalanya, ini takdir kali ya wkwkwkwkw. Ya sudah suka-suka hati kalian lah bolak balik levelnya. balik sekalian jadi 0 biar gigiku kering seneng kalian kan. eh ini bukan buat kalian wahai pembacaku wkwkwkwkw. Aku akan sering meluapkan uneg-unegku biar nggak stres. Kalian gk masalah kan aku ngoceh di tiap bab 🤣🤣🤣🤣🤣