Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Terharu pada Romeo


__ADS_3

Saira mendapat sebuah pesan dari seseorang mengenai jadwal operasi ibunya yang akan dilaksanakan pada minggu ini. Saira tersenyum senang mengetahuinya.


"Setidaknya sekarang rasa sakitku sudah terobati seiring berjalannya waktu." bisiknya.


"Kau tahu apa yang kurasakan setelah mengetahui identitasmu?"


Saira menggeleng, ia akan menerima apa pun yang akan diputuskan oleh Romeo bahkan jika pria itu memilih menjauh, karena menurutnya ia tidak cukup baik sebagai wanita.


"Kau sosok nyata dari gadis kuat yang ada di muka bumi ini, aku senang karena bisa mengenalmu."


"Terima kasih, kupikir responmu akan berlawanan."


"Bagaimana mungkin aku begitu, bagiku kau adalah segalanya. Yang kucintai dari dirimu bukan wajah Eve atau pun tubuhnya tapi jiwa yang mendiami tubuh Eve saat ini."


Saira tertawa mendengarnya. Perasaan keduanya masih sama, tidak berubah sama sekali meski rahasianya sudah terungkap.


"Bagaimana kalau kita pacaran sekarang."


Saira menoleh dengan mulut menganga lebar ke arah Romeo. "Apa sekarang kau sedang menembakku sekarang?"


"Memangnya kenapa? Intinya kita pacaran," ucap Romeo dengan wajah polos.

__ADS_1


"Dasar nggak romantis," ejek Saira tapi ia tetap tersenyum melihat pria itu dengan wajah polosnya.


Romeo adalah pria yang pandai memanipulasi keadaan, terkadang kelihatan polos tapi dia tidak begitu. Ada sosok lain yang bersemayam dalam dirinya, sosok yang tidak diinginkan oleh siapa pun. Ia berusaha untuk tetap mengontrol agar tidak kelepasan.


Pria itu tersenyum dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.


"Aku tidak ingin ada pria lain yang mendahuluiku mengatakan hal ini, tapi mungkin kata pacaran tidak akan cocok untuk kita berdua mengingat kita sudah sama-sama berusia matang. Jadi maukah kau menikah denganku Saira."


Untuk kedua kalinya, Romeo memanggilnya dengan nama Saira. Jantungnya berdegup kencang dan menatap cincin berlian dengan satu mahkota yang berkilau indah.


"Apa kau mau menjadi istriku dan ibu dari keturunanku kelak?" tanya Romeo dengan mata berbinar.


"Terima kasih karena sudah menerimaku, sayang."


Keduanya tersenyum bahagia. Mungkin inilah awal dari sebuah kebahagiaan yang akan dijalani Saira. Kebahagiaan yang tidak pernah diberikan oleh Aksa kepadanya dulu. Rasa takut membangun biduk rumah tangga sering menghantui, tapi kini rasa itu perlahan berganti dengan kekuatan.


Romeo segera memacu kenderaannya menuju kediaman gadis itu dan mengantarnya dengan selamat.


"Besok tidak perlu masuk kantor, kakimu bisa membengkak kalau terus diajak beraktivitas sayang. Mulai sekarang aku akan bersikap layaknya calon suami yang perhatian."


Saira terkekeh mendengarnya. Pria itu tidak pernah cocok jika merecokinya. Tapi ada baiknya ia mendengarkan ucapan Romeo mengenai kondisi kakinya. Membayangkan terjadi pembengkakan membuat ia ngilu.

__ADS_1


"Baiklah Pak Bos, saya tidak akan datang besok tapi jangan sampai merindukan saya."


"Aku pasti akan sangat merindukanmu sayang, tapi kesehatanmu jauh lebih penting bagiku. Kalau kamu sudah sembuh nanti, aku akan mengajakmu ke suatu tempat."


"Kalau begitu, aku akan istirahat total besok," ucap Saira dengan semangat. Romeo bahkan tertawa melihat gadis itu.


"Aku akan mengantarmu ke ruang tamu."


Romeo segera menggendong Saira menuju ruang tamu dan mendudukkannya pelan.


"Kamu nggak mau minum dulu?"


"Kasih asupan nutrisi aja dari sini." tunjuk Romeo pada bibirnya.


"Jangan aneh-aneh, pergi sana!" usir Saira membuat pria itu tertawa.


--------


Guys jaringan ku sekarang susah banget ya ampun.


---------

__ADS_1


__ADS_2