
Alvin segera meminta izin pada salah satu temannya dan segera menemui pria itu di tempat yang sudah mereka janjikan.
"Papa!" teriak Alvin setelah sampai di sana.
"Akhirnya anak Papa datang juga, bagaimana kabarmu selama ini?" tanya Wira basa basi.
"Langsung ke intinya saja, apa yang papa lakukan pada Izora!" tanya Alvin pada Wira penuh penekanan.
"Sabar, jangan terburu-buru. Papa akan melepaskan kekasihmu jika kamu mau kembali ke rumah."
Wajah wira menunjukkan gurat penuh keseriusan, tidak ada hal yang terdengar sebagai candaan di sana.
"Aku tidak akan pernah melakukannya!" teriak Alvin dengan tegas.
"Baiklah kalau begitu, kekasihmu akan terus berada di tangan Papa dan ya, mungkin gadis itu tidak akan pernah utuh lagi saat kembali padamu!"
"Apa maksud Papa!"
__ADS_1
"Kamu sangat tahu apa maksud Papa, Alvin. Berpikirlah dengan cerdas."
Selesai dengan kalimatnya, Wira segera pergi dari sana meninggalkan Alvin yang bimbang. Ia sangat muak dengan kelakuan papanya sampai memilih keluar dari rumahnya. Namun, bagaimana dengan Izora, apa Alvin tega membiarkan gadis itu berada di tangan pria bejat seperti ayahnya. Bahkan ibunya juga meninggal di tangan sang ayah. Ia duduk terpekur di sana dan menjambak rambut asal. Ia kesal pada dirinya yang tidak memiliki kekuatan apa pun untuk melawan Wira.
Keesokan harinya, Saira segera menghubungi Alyne yang memakai sebuah chif kecil yang selalu dia tempelkan di bajunya karena hal ini akan ia alami kapan pun dan hal itu sudah datang sekarang ini.
"Bagaimana keadaanmu di sana?" tanya Saira sedikit khawatir. Tidak ada seorang pun yang mengetahui akan hal itu.
"Tidak pernah lebih baik selain berada di rumah," kekeh Alyne membuat Saira tertawa.
"Aku akan segera membebaskan diri sekarang juga," ucap Alyne.
"Semoga berhasil tapi kau harus berhasil."
"Doakan aku kalau begitu," ucap Alyne dan segera mematikan panggilannya. Sedangkan Saira tersenyum mendengarnya.
"Gadis itu ada-ada saja." kekeh Saira.
__ADS_1
Ia akan membuat Wira merasa di atas awan terlebih dahulu, baru nanti ia akan menghempasnya menuju jurang terdalam sampai tidak bisa lagi bernapas dengan tenang. Saira menyukai permainan yang sedang ia mainkan, jika pria itu merasa sangat pintar maka ia sudah menyalahi kodratnya sebagai penjahat. Seharusnya ia lebih sigap dalam bertindak.
"Wira, kau tidak mengetahui hal apapun mengenai diriku, kau hanya mengetahui aku sebagai anak dari William sang miliuner, tapi aku tahu banyak mengenai semua mengenai dirimu. Bahkan semua kejahatannya sudah ada dalam genggamanku."
Bunyi ponsel terdengar di telinga Saira, pria yang ia bayar sebagai mata-mata mengabarkan sesuatu padanya sampai membuat Saira mengepalkan kembali tangannya.
"Kurang ajar kau Wira! Aku akan memberimu pelajaran!"
Saira segera menghubungi Romeo dan memberi kabar mengenai penculikan Izora yang didalangi oleh pria yang membuat Saira sangat muak. Ia akan memberikan sebuah ganjaran yang setimpal dan tidak akan bisa dilupakan oleh siapa pun.
"Yudi, kau akan menerima segala yang dilakukan oleh ayahmu!"
Saira segera menghubungi seseorang. "Culik pria bernama Yudi."
"Kau belum tahu siapa aku Wira, aku bisa melakukan apa pun untuk keluarga yang sangat aku cintai!"
---------
__ADS_1