Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Akhir?


__ADS_3

Wira tertunduk lesu di atas kursi yang mengikat kedua tabgan serta kakinya. Napasnya tercekat saat melihat tatapan langsung dari keluarganya melalui ponsel. Kekecewaan dan kemarahan tampak mendominasi dan mereka bahkan tidak pernah menginginkan sosoknya hadir sampai menjadi seorang iblis. Kehadirannya bahkan tidak lagi diharapkan oleh siapa pun termasuk istri kesayangannya.


"Kenapa? Apa kau membuat mereka kecewa?" tanya Saira datang sembari membawa sebotol air mineral.


"Apa pedulimu!" sarkas Yudi dari sisi kanan.


Saira ikut mendekat dan menatap Yudi dengan senyum mengejek. "Apa wajahku terlihat peduli?"


Gadis itu menggeleng lalu tertawa sejenak sebelum tatapan tajamnya memusat pada pria itu. Kebenciannya terlihat sangat tidak terkira lagi. Ia menendang kursi Yudi sampai tersungkur ke lantai.


"Aku ingin sekali membunuh kalian berdua, tapi itu tidak akan membuatku bahagia! Bagaimana kalau salah satu dari bagian tubuh kalian dihilangkan? Pasti akan menarik bukan?"


Mendengar kalimat tersebut lidah Yudi dan Wira terasa kelu. Gadis itu bisa melakukan apa pun bahkan hal yang paing mereka takuti sekali pun. Bagaimana nantinya mereka akan bertahan jika gadis itu melakukan hal gila bahkan lebih gila dari apa yang mereka pikirkan.


"Kenapa wajah kalian terlihat sangat murung, ah tidak perlu takut, aku hanya akan mematahkan apa yng perlu dipatahkan. Tidak akan memutilasi karena itu tidak akan seru." kekehnya.

__ADS_1


Mendengar kata mutilasi, membuat jatung keduanya berdetak kencang. Gadia yang dihadapan mereka memang sangat gila.


Saira pergi dari sana dan menghampiri dua orang. "Patahkan kaki dan tangannya tapi jangan sampai mereka mati. Selesai itu, kalian harus membuatnya menjadi bisu sehingga tidak akan ada yang bisa membuka suara. Kalau sudah selesai segera hubungi Riko."


Selesai dengan itu semua, Saira segera pergi meninggalkan tempat tersebut dan pergi menenangkan diri untuk beberapa hari setelah semua yang ia alami selama ini. Kehilangan Romeo menjadi pukulan paling telak dalam hidupnya. Hidup hanya diisi oleh kekosongan tanpa tujuan. Saira memutuskan kembali ke Autralia setelah sekian lama.


Tanpa terasa bulan kian berganti, kini tepat dua bulan semenjak Romeo menghilang. Sampai hari itu, belum juga membuahkan hasil. Saira tergeletak lemah di kamar mandi. Untungnya Alyne melihat dan segera memanggil dokter. Ia lebih memilih tinggal bersama Alyne dan kedua orang tuanya mengerti.


"Eve, kamu kenapa akhir-akhir ini sering lemas." pikir Alyne khawatir.


"Persilakan dia masuk," ucap Alyne tersenyum.


Asisten rumah tangganya berlalu ke pintu dan membawa pria itu masuk sampai ke kamar Saira yang sedang terbaring lemah.


"Dokter, dia sudah beberapa kali seperti ini." terang Alyne.

__ADS_1


"Saya akan memeriksanya terlebih dahulu."


Tangannya mengambil stetoskop dan mulai melakukan pemeriksaan dasar. Memeriksa di beberapa titik dan wajah dokter tersebut tersenyum.


"Tidak perlu khawatir, dia hanya kelelahan dan hal itu biasa dialami oleh wanita hamil."


"Baiklah dok ... tunggu, hamil?" tanya Alyne bagai disambar petir.


"Iya benar, Nona ini sedang hamil dua bulan." terangnya sekali lagi.


Alyne tidak tahu harus memberi reaksi seperti apa. Jika Saira hamil, apa itu artinya bayi itu berasal dari Romeo. Gadis itu menutup kedua mulutnya seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Bagaimana mungkin Saira hamil dan sekarang harus berpisah dengan Romeo.


----


Naskahnya memang panjang gais.

__ADS_1


__ADS_2