
Perlahan bayangan singkat dan kurang jelas bermain di kepala Romeo. Namun, semua tampak buram. Ia memegang kepalanya sampai meringis kesakitan membuat Marry tidak tega melihatnya.
"Dokter anak saya kenapa?" tanyanya khawatir, sangat jelas dari pancaran wajahnya.
"Putra Anda mencoba mengingat masa lalunya Nyonya."
"Dokter, tolong jangan sampai dia menyiksa diri seperti ini."
"Nyonya, semua hanya bergantung pada putra Anda. Saya tidak bisa berbuat apa pun."
Mendengar kalimat tersebut, Marry bertekad untuk benar-benar menjauhkan putranya dari Evellyn. Gadis itu bisa membuat putranya kehilangan akal. Cukup sekali dia hampir kehilangan Romeo, tidak akan untuk kedua kalinya.
"Sayang, jangan mengingat dengan paksa, Mama tidak akan siap jika harus kehilangan kamu." tangisnya pecah.
"Mama, Dom melupakan sesuatu yang sangat penting, yang paling berharga tapi tidak mengetahui apa itu. Rasanya Dom akan mati jika kehilangan itu."
Romeo marah dan kesal karena sampai saat ini, ia belum bisa mengingat apa pun mengenai masa lalunya. Hanya bagian samar yang melintas. Perkataan Alyne selalu membekas dalam ingatannya. Lalu pikirannya melayang pada saat ia bersama Saira hendak melakukan penyatuan dan ia jatuh pingsan. Ia tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi karena dia jatuh pingsan.
"Mama, setelah Dom pingsan minggu kemarin, apa yang terjadi?"
__ADS_1
"Kamu langsung dibaringkan di sofa. Mama lalu menelpon dokter pribadi dan ...."
"Maksudku bagaimana dengan ngan gadis itu, Ma."
"Dia ... dia langsung pergi dari sana dengan terburu-buru. Bahkan tidak mengatakan apa pun."
"Dia melakukannya, Ma?"
"Iya, lalu ia tidak datang selama satu minggu. Mungkin malu karena ketahuan menggodamu, Nak. Kamu lihat kan, dia bahkan tanpa segan mau disetubuhi. Dia itu pelacur."
Mendengar ucapan ibunya entah kenapa Romeo tidak setuju dngan ucapan ibunya. Dia merasa ada sesuatu yang terjadi dan tidak ia ketahui tapi entah apa semua itu. Romeo menatap ibunya sambil tersenyum kecil. Ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi pada hari itu. Apakah benar seperti ucapan ibunya atau tidak.
"Nak, tapi kondisimu sedang tidak fit. Kamu istirahat saja biar Angelina yang menghandle semuanya."
"Dom mampu kok Ma," ucapnya membuat Marry tidak bisa berbuat apa pun. Putranya sangat keras kepala jika menyangkut perusahaan. Ia tersenyum saja tanpa tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikiran Romeo.
"Ma, Dom pergi dulu."
"Hati-hati sayang."
__ADS_1
Romeo mengangguk dan segera pergi dari sana menuju kantor. Sekitar tiga puluh menit kemudian, ia sudah sampai di sana dan segera pergi ke ruang cctv.
"Selamat datang, Pak Dominic. Ada yang bisa saya bantu?" tanya penjaga tersebut dengan sopan.
"Saya mau melihat cctv satu minggu yang lalu."
"Baik, Pak. Saya akan mencarinya. Mohon ditunggu," ucapnya.
"Nah tanggal itu, Pak. Saya mau lihat."
Penjaga tersebut segera menggerakkan kursor menuju video yang dimaksud oleh Romeo. Di sana terlihat sangat jelas apa yang terjadi dengan gadis itu dan alasan dia tidak ada kabar selama satu minggu.
"Terima kasih, Pak. Bisakah Anda menyalinnya ke ponsel saya?"
"Tentu bisa, Pak."
Romeo segera pergi setelah selesai dengan semua itu. Ia sangat kecewa dngan ibunya yang sudah berbohong. Apa sikap ibunya ada hubungan dengan gadis itu. Apa mereka sebenarnya memiliki hubungan di masa lalu sampai setiap kali melihatnya, sang ibu kerap bertingkah aneh.
-----
__ADS_1