
Saira terlihat melamun di kamarnya. Apa yang dilakuan Romeo masih terbayang dan bergentayangan di kepalanya. Bahkan Aksa yang nota bene suaminya dulu tidak pernah sudi menyentuhnya apalagi mengecup bibir. Lagi-lagi ia teringat pria itu.
"Eve, ayo ceritakan bagaimana rasanya kencan dengan pria tampan."
Alyne menggedor pintu dari luar karena rasa penasaran aku yang sedang ia derita. Saira sengaja tidak menggubris gadis itu karena ia masih diselimuti rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Penghargaan, istimewa, seolah tersemat tanpa disengaja.
"Bahkan jantungku masih berdegup kencang hanya dengan memikirkannya." Saira membenamkan kepala ke bantal.
"Kenapa masih terbayang-bayang," ucapnya. Jika Alyne tahu soal ini maka gadis itu akan heboh.
"Dia tidak boleh tahu, bisa-bisa nanti dia mengolokku atau menggodaku siang malam." Saira memutuskan tidur karena ia sangat mengantuk.
Berbeda dengan Alyne yang tampak putus asa di luar kamar. "Aku yakin, pasti terjadi sesuatu pada keduanya." ia pun memutuskan kembali ke kamarnya dan tidur.
Di sudut kamar lainnya, Romeo juga mengalami hal yang sama, ia masih bisa merasakan jantungnya berdebar dengan ritme tidak beraturan. Senyum terus menghias wajah tampannya. Tidak sabar rasanya ingin kembali bertemu dengan Saira. Gadis itu sudah berhasil mencuri sebagian dari hatinya.
Langit keorenan perlahan mulai menghiasi langit. Yang tadinya gelap kini mulai terang dan memberi hawa sejuk yang mendamaikan. Saira membuka mata dan melihat atap kamarnya. Adegan tadi malam terbayang di sana bagai sebuah bioskop besar yang membentang.
__ADS_1
"Sepertinya kepalaku mulai dipenuhi hal-hal aneh."
Ia bahkan menggeleng beberapa kali sampai tidak terhitung. Entah apa yang akan dia lakukan jika bertemu dengan Romeo. Ia segera keluar kamar menuju dapur.
"Kau sudah bangun?" tanya Saira basa basi. Jelas-jelas Alyne memang selalu bangun lebih pagi. Satu hal lagi, Saira tidak pernah basa basi dengannya.
"Kenapa menanyakan hal yang sudah jelas jawabannya. Tunggu, sejak kapan kamu basa basi denganku?" selidik Alyne dengan mata memicing curiga.
"Memangnya tidak boleh?" tanya Saira dengan cuek.
"Bukan itu masalahanya, tapi kamu tidak pernah melakukannya."
Alyne menggeleng kepala, "Apa terjadi sesuatu kemarin malam saat kalian dinner?"
"Ti ... tidak ada," ucap Saira sedikit gugup.
Kecurigaan Alyne semakin menjadi, apalagi Saira terlihat gugup seperti tadi. Setahunya gadis itu tidak pernah menunjukkan ekspresi sekonyol itu. Bahkan sampai tidak berani menatap matanya.
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu sangat gugup?"
"Memangnya tidak boleh?" Kesal Saira dan berjalan ke kulkas mengambil air dan meneguknya.
"Lihat! Bahkan kamu meneguk air dingin di pagi hari, kamu tidak pernah melakukannya."
Pada akhirnya Saira mengalah, jika terus dibiarkan maka Alyne akan terus bertanya tanpa berkesudahan. "Dia mengecup bibirku!"
"Apa? Kenapa romantis sekali!" teriak Alyne dengan wajah memerah.
"Kenapa wajahmu memerah seperti kepiting rebus."
"Aku terharu, akhirnya atasanku bisa merasakan cinta. Lihatlah wajahmu sangat berseri. Aku yakin bayangan dia menciummu terus terbayang. Iya kan?"
"Sok tahu kau!" dengkus Saira. Lihat, sekarang gadis itu sudah mulai menggodanya.
"Jangan berbohong," ucap Alyne dengan nada mengejek. Hal itu sangat membuat Saira dongkol.
__ADS_1
-----