
Aksa sendiri masih sibuk dengan pekerjaannya. Ia berharap Saira menegurnya atau sekadar memberitahu kehadirannya. Namun, sudah lima menit lamanya gadis itu masih betah diam di tempatnya. Aksa menghela napas pelan dan menghentikan pekerjaannya. Ia menghampiri Saira yang duduk di sofa.
"Maaf, Nona Saira, saya menganggu Anda."
"Katakan saja apa yang Anda ingin bicarakan dengan saya."
Aksa menatap wajah Saira yang tampak tidak pernah bersahabat. Ia yakin gadis itu memang memiliki watak seperti itu. Ia hendak mengutarakan maksudnya. Namun, seseirang masuk ke dalam ruangan Aksa dengan tatapan marah.
"Maaf, Pak. Nona ini menerobos masuk," ucap sekretarisnya dengan sopan.
"Tidak apa-apa, kamu bisa kembali."
__ADS_1
"Baik, Pak."
Saira masih sibuk dengan ponselnya. Ia tidak ingin ambil puding dengan mereka berdua yang seperti kekanakan. Tidak bisakah mereka membedakan antara pekerjaan dengan pribadi. Lalu suara itu membuat Saira mengalihkan tatapannya. Matanya membulat sempurna saat melihat wanit yang kini berdiri di hadapannya dan tampak sedang berbicara dengan Aksa.
"Izora, mengertilah, aku pasti akan ke sana tapi saat ini aku sedang kedatangan tamu."
Izora mengalihkan tatapannya pada Saira yang ditunjuk oleh Aksa. Alisnya mengerut tak suka saat melihat Saira tampak sangat tidak bersahabat. Saira bangun dari sofa dan menghampiri keduanya dengan tatapan datar. Sungguh pemandangan itu membuatnya sangat muak. Rasa sakit yang dulu mereka berikan padanya, tidak akan perna hilang. Ia tahu, dulu pernah berbuat kesalahan fatal dan mungkin Izora ingin membalasnya dengan hal yang sama.
Saira segera pergi dari sana dengan segala kebenciannya. Memangnya apa yang mau Aksa tunjukjan padanya. Apa dia mau mengejek Saira yang dulu, Saira yang lemah, Saira yang tertindas? Itu tidak akan pernah terjadi karena Saira bukanlah gadis yang sama lagi.
"Apa yang dia katakan barusan, apa dia tidak punya sopan santun?" kesal Izora saat melihat keeprgian Saira.
__ADS_1
"Zora, kamu yang nggak punya sopan santun, masuk kemari dengan tiba-tiba." dengkus Aksa.
"Terus aku harus gimana lagi Aksa," ucapnya dan tubuh itu melorot perlahan ke lantai. Aksa menghela napas pelan dan ikut mensejajarkan tingginya dengan Izora.
"Aku harus gimana Aksa, aku sendirian," isaknya terdengar sangat menyakitkan.
"Ssttt, kamu masih punya aku, Tante dan Om. Kenapa bisa kamu merasa sendirian."
"Aku memang sendirian Aksa, semejak kepergoan Saira, tidak ada apa pun lagi yang tersisa di rumah. mama, Papa dan kamu terlena dengan urusan sendiri. Aku sendirian membangun kehidupanku."
Gadis itu terus menangis, Aksa segera memeluknya dan mengajaknya ke sofa. Ia juga tidak tega melihat Izora sekacau ini. Apalagi wanita yang kini di hadapannya, pernah menjadi wanita yang ia cintai. Ia sampai rela menghianati Saira demi bersama Izora. Mengingat hal itu hatinya berdetak tidak tentram. Kesalahannya sungguh tidak bisa termaafkan.
__ADS_1
------