
Saira menguap panjang saat berada di ruang tamu. Romeo tertawa melihat ekspresi gadis itu. Sesekali ringisan keluar dari bibir Saira membuat Romeo tidak tega.
"Pak Romeo, bisakah membawanya ke kamar."
"Tentu saja bisa," ucapnya dengan semangat.
"Tapi jangan coba macam-macam." peringatnya membuat wajah Saira memerah. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa puluh menit yang lalu.
"Aku bisa ke kamar sendiri, tidak perlu di temani."
"Yakin?" goda Romeo membuat Saira kesal.
"Minggir! Aku mau lewat." dengkusnya.
Tanpa sengaja ia malah menabrak kaki sofa dan teriak kesakitan terdengar jelas di telinganya, bahkan Alyne yang sedang mengerjakan pekerjaannya terlihat kaget dan berlari menuruni tangga. Namun, kakinya berhenti di anak tangga terakhir dan tersenyum. Saira menangis membuat Romeo terenyuh. Raut kesakitan sangat menganggunya. Ia menyandarkan tubuh Saira pada kepala sofa dan menyelonjorkan kaki gadis itu ke pangkuannya.
__ADS_1
"Tahan sebentar, ya."
Saira masih terisak pelan, sesekali meringis saat tangan kekar Romeo menyentuh area yang terkena kaki sofa. Ia meniupnya dengan penuh kelembutan. Perlahan rasa sakitnya menghilang, digantikan oleh sesuatu yang menghangat di hati Saira.
"Masih sakit?" tanya Romeo.
Saira menggeleng pelan dan menghapus air matanya. Alyne mengusap dadanya karena lega, dengan adanya Romeo barusan mampu membuat gadis itu tidak kesakitan lagi.
"Pak Romeo sangat perhatian, terlihat jelas cinta di mata dan setiap apa yang dia lakukan, semuanya terlalu tulus untuk dikatakan sebagai modus."
"Kuantar ke kamar saja ya, nanti kakimu membengkak kalau dibiarkan berjalan, meski memakai tongkat sekali pun."
Dengan penuh kehati-hatian, Romeo meletakkan tubuh Saira ke ranjangnya. Pertama ia meletakkan kaki agar tidak tersenggol, kemudian baru kepala Saira.
"Terima kasih," ucap gadis itu dengan lembut.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya Romeo dibuat terpana akan sisi lain dari gadis yang selama ini ia kenal judes, sedatar papan seluncuran dan sedingin es di kutub utara.
"Sama-sama," ucap Romeo dan menutup kaki Saira menggunakan selimut serta menyalakan pendingin ruangan dengan suhu tertentu agar gadis itu tidak terlalu kedinginan.
"Selamat malam, Evellyn."
Romeo pamit dan hendak menutup pintu. Namun, suara Saira menghentikan langkahnya sejenak.
"Selamat malam juga," ucap Saira dan tersenyum.
Romeo juga ikut tersenyum, sebelum pergi ia mematikan cahaya utama kamar itu dan menghidupkan lampu tidur yang berada di samping tubuh Saira. Ia sedikit menunduk sehingga pandangan keduanya kembali bertemu. Detak jantung Saira tampak mulai kembali merasakan sesuatu yang sudah lama hilang darinya.
Ia memegang tengkuk Romeo dan mengecup bibir pria itu setelahnya ia menutup mata hendak tidur. Tapi ranjangnya tampak bergoyang dan membuka mata saat Romeo mendekatkan kembali bibir mereka. Ia ******* dengan lembut kedua lipatan yang selalu membuatnya candu. Ruangan itu kembali dipenuhi suara ciuman keduanya yang tampak membara.
Seolah hasrat yang sempat padam, kembali bangkit memenuhi raga keduanya. Jemari Saira menjambak lembut rambut hitam legam milik Romeo dan mendesah beberapa kali saat tangan pria itu kembali menjamah dua bukit kembarnya. Pautan keduanya terlepas saat stok oksigen mulai menipis.
__ADS_1
Jangan dibayangkan, jangan jangan