
"Elca, kamu harus terlihat benar-benar dipecat oleh manajermu. Tapi ingat, kamu harus bisa menampilkan hal yang natural."
Elca menganguk paham, jika sampai harus sejauh itu, ia akan melakukannya untuk kebaikannya sendiri.
"Terima kasih, Evellyn. Kamu sudah sangat membantuku sejauh ini. Aku senang karena Tuhan masih mempertemukanku dengan orang-orang seperti kalian."
"Tidak perlu dipikirkan, aku tidak suka ada temanku ditindas!"
Saira mengeluarkan ponselnya dan menghubungi kedua orang tuanya. Sudah lama ia tidak mendengar ceramah atau wejangan dari keduanya.
"Halo, sayang ada apa?" tanya William berhasil membuat Halena merebut ponselnya.
"Kau ini bagaimana, anak menelpon bukannya menanyakan kabar malah bertanya ada apa." omel Halemna membjat William tertawa.
Interaksi keduanya tidak bisa dimengerti oleh Elca. Pasalnya mereka menggunakan bahasa dari negara asalnya.
"Mama, Papa aku bersama Alyne akan segera kembali ke Australia."
Mendengar kalimat tersebut, Halena tampak bersorak ria. Ia sangat senang mendengarnya. Sudah sangat lama ia menunggu momen tersebut. Rumahnya seperti peti mati tanpa kehadiran putri mereka.
"Mama sangat senang mendengarnya sayang."
__ADS_1
"Tapi, Ma. Aku harus menyelesaikan sebuah urusan dulu di sini untuk beberapa minggu ke depan."
"Tidak masalah, Sayang. Mendengar kepulanganmu saja Mama sudah sangat senang. Rasanya sudah satu abad kita tidak bertemu."
"Halena, kita baru saja kembali dari Indonesia beberapa bulan yang lalu."
"Kau ini tahunya menganggu keromantisan antara anak dan ibunya."
Saira kembali tertawa melihat semuanya. Ia ingin menapaki jejak penuh kebahagiaan seperti mereka berdua. saling melengkapi satu sama lainnya.
"Sayang, Alyne kemana?" tanya Halena. Ia sudah menganggap gadis itu seperti putrinya sendiri.
"Lalu siapa gadis cantik di sebelah kananmu itu?" tanya Halena penasaran.
Saira melirik ke arah Elca yang masih bingung. "Namanya Elca Ma."
Gadis itu tahu jika Saira sedang membahas mengenai dirinya saat ini. Ia masih sebagai pendengar yang baik. Lalu wanita itu beralih kepada Romeo yang sedang menikmati majalah bisnis yang ada dihadapannya.
"Calon menantu Mama sehat?" tanya Halena. Saira mengarahkan ponselnya kepada Romeo yang sedang sangat serius. Halena tertawa.
"Ya sudah, Mama tutup dulu panggilannya. Kirim salam pada temanmu yang bernama Elca, namanya bagus sekali."
__ADS_1
Setelah panggilan berakhir, Saira segera menyampaikan salam ibunya dan Elca merasa sangat terharu. Ia menyadari jika orang terlahir kaya sejak lahir, berbeda dengan orang kaya mendadak. Penuh kesombongan dan merasa di atas segalanya. Contohnya Yudi.
"Mamaku menitip salam padamu dan katanya namamu indah."
"Salam kembali," ucap Elca senang dan terharu.
Izora mengusap air matanya yang jatuh tanpa di komando. "Adikku ternyata sangat menyukai dirinya. Kami semua tidak ada yang mengetahui hal ini."
"Lalu?" tanya Alvin pada akhirnya.
"Saat kami ke puncak, Saira sudah menyiapkan rencana untuk merebutnya dariku."
Mendengar hal itu entah kenapa ada rasa amarah timbul dalam diri Alvin. Apa ada gadis sejahat itu kepada kakaknya sendiri. Ia akan mengutuk jika gadis itu sampai bertemu dengannya.
"Semua terjadi begitu cepat, malam itu mereka melakukan hal yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Mereka melakukan hubungan suami istri. Itulah yang selama ini kami ketahui."
---------
Hari ini Otor lagi badmood, jangan macam-macam atau kalian otor tendang ke dua dunia 🥴🥴🤓🤓
mau kalian? mau? mau? mau tambah? oh nggak ternyata, ya sudah. 🤣🤣
__ADS_1