
Wira melempar kesal ponsel tersebut sampai ringsek di pojokan. Gadis itu sudah berhasil membuatnya marah dan sekarang ia akan membaut gadis itu menyesal karena sudah berani mengancamnya. Dia belum tahu siapa Wira yang sebenarnya.
"Lihat saja kau gadis sialan, akan kubuat kau menyesal karena sudah dilahirkan!"
Ia segera pergi untuk menenangkan diri. Terlebih ia harus segera mengurua putranya sebelum kabar mengenainya tersebar ke seluruh media. Reputasi serta seluruh kejahatan yang sudah ia lakukan bisa terbongkar dan mendekam dijeruji besi. Wira tidak mau sampai hal itu terjadi.
"Kalian awasi gadis itu dengan kektat, jangan sampai lepas."
"Baik, Tuan!"
Wira segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Saira sendiri segera menghubungi Romeo yang sedang berada di sebuah tempat segera mendatangi rumah kekasihnya.
"Ada apa?" tanya Wira saat melihat kecemasan sangat kental di wajah Saira.
"Alyne diculik oleh Wira."
"Kurang ajar, pria itu benar-benar menguji kesabaranku!" desis Romeo dan Saira menahan gerakan tangan kekasihnha.
__ADS_1
"Tidak perlu dipikirkan, pria itu sangat mudaj di provokasi, dia tidak sepintar kelihatannya atau memang sedang beepura-pura bodoh untuk membuat kita lengah."
"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang ini?" tanya Romeo.
"Kita hanya perlu mengikuti permainannya, kamu harus bersikap netral, Alyne akan menyebarkan bukti kejahatannya dan aku yang akan membalas semuanya sedangkan Elca—gadis itu yang akan menjebloskan keduanya ke dalam penjara.
"Kekasihku sangat pintar menyusun strategi."
"Tapi bukankah Alyne sedang diculik?" tanya Romeo bingung.
Saira hanya memamerkan senyum misterius di bibirnya. Tidak ada yang bisa memahami artinya selain ia dan Alyne sendiri.
"Tuan, bukankah itu kekasih Den Alvin?" tunjuk seseorang dari balik kaca mobil.
Pria itu memusatkan penglihatannya dan menatap sinis gadia itu.
"Culik dia, lalu paksa Alvin agar mau kembali ke rumah, tapi ingat jangan sampai semua rencanaku gagal!"
__ADS_1
"Baik Tuan." Pria itu segera menghubungi rekannya untuk melaksanakan perintas dari tuannya.
Izora yang awalnya sangat menikmati perjalanan, kini merasa gelisah saat ada dua mobil mengikutinya dari belakang. Jika saja mobil itu tidak berjalan pelan, ia akan merasa aman. Namun, langkahnya selambat dirinya.
"Ya Tuhan, lindungi aku dari mara bahaya ini." bisiknya dengan pelan.
Saat ia hendak berlari kencang, sebuah movil van dari arah samping segera terbuka dan menariknya ke dalam. Gadis itu meronta dan segera diberi obat bius yang disapukan pada sapu tangan dan tubuhnya tergeletak lunglai.
"Kita mendapat dua umpan dan dua mangsa."
Pria itu sangat senang atas pencapaiannya akhir-akhir ini. Alvin si dokter tampan itu adalah putra bungsunya yang memilih pergi karena tidak pernah setuju dan menentang semua kebijakannya. Hanya anak sulung lah yang selalu mendukungnya dan mereka memiliki satu misi.
"Anak sialan itu akan segera tunduk kepadaku, apa katanya dulu? Tidak akan pernah kembali, heh!"
Wira berdecih sinis menngingat ucapan putranya. Padahal ia sangat berharap banyak. Namun, dikecewakan begitu saja. Ia bisa melakukan cara ap pun sampai tujuannya tercapai. Wira mengeluarkan ponselnya lalu mengirim pesan pada Alvin yang sedang bertugas jaga malam.
"Papa, apa yang dia perbuat pada Izora."
__ADS_1
-----