
Beberapa petinggi lainnya segera keluar dari ruang rapat. Kini hanya tersisa Saira bersama sekretarisnya dan Aksa juga bersama sekretarisnya. Saira bangkit dan hendak meninggalkan ruangan tersebut. Namun, suara bariton Aksa menghentikannya.
"Nona Saira, apa kita bisa makan bersama?" tanya Aksa.
Saira sedikit terkejut mendengar ajakan itu. Namun, mengingat perlakuan pria itu padanya dulu. Rasa sakit kembali menyelinap masuk ke sanubarinya. Ia menatap datar wajah Aksa yang tampak snagat berharap.
"Mohon maaf Pak Aksa, tapi saya sudah ada janji dengan orang lain! Saya permisi."
Saira segera bangun dari tempat duduknya, "Lusa masih bisa kan?"
Saira tidak menjawabnya. Ia lebih memilih pergi dari sana dengan segera. Amarah sudah merasuki jiwanya. Ia takut jika kemarahannya bisa membongkar semuanya dan ia tidak ingin hal itu terjadi. Di tengah perjalanan, Saira menanyakan sesuatu pada Alyne.
"Apa kerja sama ya tidak bisa dipersingkat, aku sudah merindukan rumah."
__ADS_1
"Berdasarkan kesepakatan kerja serta fakta di lapangan, kemungkinan kita akan lebih lama tinggal di sini, Bu."
Saira mendesah, salahnya juga karena tidak teliti melihat kontraknya. Seharusnya dia tidak mengambil langkah yang gegabah. Namun, mau sampai kapan ia berada di bawah naungan kedua orang tuanya.
"Alyne, aku sangat bosan, kita pergi berbelanja saja."
Saira mengajak Alyne pergi ke Grand Indonesia untuk melepas kerinduannya semasa ia belum menikah. Semenjak menikah, tidak pernah sekali pun ia bisa menikmati keseruan mall dan berkumpul bersama teman-temannya. Kebanyakan dari mereka, memilih menjauh seolah dirinya adalah virus mematikan.
"Bu, apa Anda pernah ke Indonesia sebelumnya?" tanya Alyne.
Alyne menganguk paham dan segera mengambil mobil yang ia parkir di sisi kanan gedung sedangkan jalan keluarnya adalah di sisi kanan. Saira menunggu di depan gedung dengan wajah angkuh luar biasa. Ia segera berjalan mendekat ke arah mobilnya yang dikemudikan oleh Alyne.
"Nona Saira, tunggu!" seseorang berlari kecil dari arah lobi dan memanggilnya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Saira sambil menatap serius gadis tersebut.
"Maaf, Nona. Pak Aksa menyuruh Anda ke ruangannya, ada hal penting yang ingin beliau sampaikan."
Saira menghela napas kasar. Ia menundukkan kepalanya. "Alyne, kamu tunggu di sini sebengar, saya akan segera kembali."
"Baik, Bu."
Setelah itu ia mengikuti langkah kaki gadis tersebut menuju ruangan Aksa.
"Silakan, Bu."
Saira menganguk dan segera masuk ke dalam ruangan Aksa. Pria itu sedang mengerjakan sesuatu yang sangat serius sehingga tidak menyadari kedatangannya. Saira sendiri tidak ingin menghabiskan tenaganya untuk memberitahu kedatangannya. Ia duduk di sofa dengan angkuh dan menatap nyalang pada benda pipih yang sedang ia lihat.
__ADS_1
------