Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Terikat Janji


__ADS_3

Aksa terpegung melihat sebuah email yang berasal dari sekretaris Saira. Ia tidak tahu jika gadis dengan tatapan sedingin antartika bisa melakukan apa saja jika rekan kerjanya mengecewakan. Aksa menghela napas pelan.


Tuan Aksa, Nona Evellyn memutuskan untuk kembali ke Autralia karena urusan mendesak yang tidak bisa dialihkan. Kami akan kembali secepatnya.


Ia membalas email tersebut dan segera menutup surelnya. Ia mendesah beberapa kali. Sebuah ketukan terdengar dari luar ruangannya. Pintu terbuka dan menampilkan sekretarisnya yang sedang membawa sebuah dokumen.


"Pak, ini dokumen yang Bapak minta tadi," ucapnya sambil menyerahkan dokumen tersebut.


"Baik, terima kasih."


Sekretaris tersebut berlalu dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Aksa segera mengecek dokumen tersebut. Sejak kemarin banyak masalah yang menimpa perusahaannya. Tidak cukup dengan runtuhnya beberapa pondasi bangunan, tadi malam terjadi lagi hal yang sama. Bagaimana ia akan menjelaskan semua ini. Aksa memijat kepalanya yang berdenyut nyeri.


Suara bunyi telpon berdering, Aksa mengambil benda pipih yang tergeletak di laci mejanya. Ia segera mengambil dan mendesah saat melihat sebuah nama tertera di sana.


"Ada apa?" tanya Aksa dengan malas.

__ADS_1


"Apa! Kenapa bisa?"


"Saya segera ke sana, tolong jaga Mama saya dengan baik."


Aksa segera mengambil kunci mobil dan segera pergi dari sana menuju sebuah rumah sakit tempat sang ibu berada. Sudah lama ia tidak berkomunikasi semenjak meninggalnya Saira. Ia mendesah lelah saat masalah bertubi-tubi menghampirinya. Di tengah perjalanan sebuah panggilan kembali datang dari nomor yang tidak dikenal. Ia berusaha tidak mengacuhkan. Namun, panggilannya terus berlangsung sampai beberapa kali.


"Siapa ini!" Aksaenjawab dengan nada tinggi lantaran kesal.


"Halo Pak Aksa yang terhormat, bagaimana kondisi Anda?" tanyanya dengan basa basi.


"Hm, saya adalah orang yang menunggu kehancuran Anda Pak Aksa." suara berat itu tertawa nyaring di seberang telpon.


Aksa yang mendengar itu terpancing emosi. "Jangan main-main dengan saya!"


"Hoho, Pak Aksa, saya sedang tidak main-main. Anda lah yang jangan macam-macam dengan saya!" tawanya kembali membahana membelah pekatnya malam.

__ADS_1


Aksa melempar ponselnya ke dashboard setelah mematikan panggilannya. Ia akan menganggap orang tadi hanya iseng. Aksa memacu kenderaannya dengan kecepatan sedang. Ia harus segera sampai ke rumah sakit. Sang Ibu sedang sangat membutuhkan bantuannya saat ini.


------


William merenung panjang di ruang kerjanya. Ia menatap lama semua dokumen serta kunci mobil yang dikembalikan oleh putrinya. Jika dulu Evellyn tidak beraninbahkan untuk membantahnya, tapinsekarang bahkan mengancamnya dengan berani. Ia memegang keningnya yang berdenyut nyeri. Halena mengetuk pintu dan segera masuk.


"Will, sudah waktunya istirahat, kamu sudah lama berada di sini, ayo!" ajak Halena dengan lembut.


William tersenyum dan menyuruh Halena duduk di sampingnya dan wanita itu menuruti suaminya. "Menurutmu apa yang harus kulakukan, kamu tahu kan selama ini putri kita tidak pernah melakukan hal yang seperti tadi."


Halena mendesah pelan. Ia paham, sebagai seorang ayah yang selalu dituruti perkataannya, hal ini pasti sangat menyakitkan tapi putrinya benar, tidak seharusnya William mengambil keputusan dengan sepihak.


"Bagaimana menurutmu Will, apa kamu menyukai putrimu yang dulu?" tanya Halena lembut.


"Entahlah, hanya saja sebagai ayah, aku belum pernah berada dalam posisi seperti sekarang. Kamu tahu kan, Tasma dan Chloe sudah diamahkan oleh suaminya, bagaimana bisa aku mengingkari janjiku pada suaminya. Dia adalah temanku dan Tasma adalah adikku meski hanya adik tiri tapi aku meyayanginya."

__ADS_1


-----+


__ADS_2