
Teringat kembali kepada kakak lelakinya yang lebih memilih kembali ke luar kota. Mengingat sudah lama meninggalkan pekerjaannya. Izora harus membiayai pengobatan keduanya. Bahkan bibirnya tidak lagi mampu mengumbar senyum seperti dulu.
Lalu sebuah ketukan membuatnya sadar. Dengan segera bangkit, memperbaiki wajahnya agar tidak tampak menyedihkan dan menghampiri pintu.
"Papa, ada apa?" tanya Izora lembut.
"Apa kamu baik-baik saja?"
"Tentu saja, apa Papa membutuhkan sesuatu? Biar Izora ambilkan."
"Tidak, Nak. Papa cuma ingin mengecek kondisi kamu."
Gadis itu tersenyum lembut dan memegang kedua jemari yang mulai menampakkan keriputnya.
"Papa nggak perlu khawatir, Papa fokus aja ke kesehatan ya, supaya kita bisa berkumpul lagi kayak dulu."
Pria itu tahu, banyak luka yang tersimpan di tatapan putrinya. Namun, ia harus percaya bahwa Izora akan selalu ada bersama mereka.
__ADS_1
"Kamu jaga kesehatan, jangan begadang ya Nak. Papa nggak mau kalau kamu sampai ikutan jatuh sakit, Papa dan Mama tidak bisa lagi merawatmu kalau sampai itu terjadi." kalimat lirih terdengar dari bibir yang mulai menghitam.
"Papa, terima kasih atas segalanya, selama ini Papa sama Mama udah sangat berperan sebagai orang tua."
Pria itu segera pergi menuju sebuah kamar yang selalu ia jenguk setiap malam. Berharap sosok putrinya yang satu lagi akan berbaring membelakangi atau setidaknya sedang menatap kaca sambil memakai masker bengkoang kesukaannya.
"Sayang, Papa kangen baget sama kamu. Andai Papa tahu kalau itu adalah pelukan terakhir, tidak akan Papa sia-siakan." tangisnya mulai pecah setiap mengingat memori itu. Betapa bodohnya ia karena tidak mengindahkan permintaan putri kecilnya.
Izora menangis tergugu dari balik pintu, selalu pemandangan ini yang ia saksikan setiap malam. Jiwanya sudah lama mati semenjak Saira kembali kepada sang pencipta. Yang tersisa hanya raga tanpa jiwa. Ia ingin berteriak menumpahkan semua yang menyiksa tanpa henti.
Bahkan tidak memiliki seorang pun untuk tempatnya bersandar. Terkadang ia berpikir mengapa bukan dirinya yang mati saat itu. Pertanyaan yang tidak akan pernah bisa dijawab oleh siapa pun. Ia kembali ke kamar dan membenamkan kepala ke bantal. Ia menangis tergugu.
"Ada apa?" tanyanya dengan suara serak.
"Apa kau sedang menangis?"
"Tidak, suaraku sedang serak karena kurang asupan vitamin c."
__ADS_1
"Zora, aku mengenalmu bukan sehari dua hari, tapi bertahun-tahun. Ada apa?" tanya Aksa.
"Aksa, aku sangat lelah." hanya itu yang mampu ia ucapkan. Setelah itu ia mematikan panggilannya. Namun, beberapa saat kemudian dering ponselnya kembali berbunyi.
"Apa lagi?"
Alvin mengernyit heram mendengar suara Izora serak. Ia yakin gadis itu sedang menangis. Tanpa berpikir panjang ia segera mematikan panggilan. Sampai sebuah notifikasi masuk dan gadis itu membukanya. Kening itu tampak berkerut saat melihat bunyi pesan tersebut.
Tapi tanpa mengabaikan, ia memilih keluar karena Alvin sudah datang jauh-jauh ke rumahnya.
"Mau keluar bersamaku?" tawar pria itu saat pintu terbuka. Ia disambut oleh mata bengkak dan merah. Rambut kusut serta baju yang berantakan.
"Memangnya kau mau keluar dengan orang gila sepertiku?"
"Tetap saja kau sangat cantik, ayo!" ajaknya.
__ADS_1
Kak Izora bakalan sweet nggak ya sama Kang Alvin. Kapan ya mereka menikah 😍😍😍
Jangan minta crazy up karena aku gk punya tenaga kayak popeye. Aku juga garap beberapa naskah dalam waktu bersamaan. Mohon dimengerti ya sayangkuhhhh.... Aku diteror di sana, diteror di sini. Uh dunia sangat indah ya. nyam nyam