
Saira segera pergi dari sana dengan kemarahan yang menyala bak lidah api yang siap menyemburkan segala rasa panas ke padanya. Alyne melihat kepergian Saira dengan desahan lemah. Baginya, Saira tidak suka dikhianati dan ia sangat tahu akan hal itu. Perbuatan yang dilakukan Elca sudah tidak termaafkan olehnya.
"Elca berdiri dan sebaiknya segera kemasi barangmu dari sini!"
Alyne juga berkata datar dan dingin, tidak ada tempat bagi seorang penghianat di rumah ini. Sama halnya dengan Saira, ia juga tidak suka berteman dengan orang yang tidak bisa dipercaya.
"Alyne, maafkan aku, aku ... aku salah," ucapnya.
"Sekali kau berkhianat, selamanya akan begitu bukan? Pergilah dan selesaikan masalahmu dengan Yudi, kami tidak akan mencampuri urusanmu lagi!"
Alyne segera pergi meninggalkan Elca yang menangis dan bersimpuh di sana. Kenapa ia sangat bodoh termakan ancaman Yudi, Saira benar, pria itu tidak bisa dipegang ucapannya.
Izora yang masih mematung di sana tidak tahu harus bertindak bagaimana. Menurutnya gadis itu memang sangat salah, tapi ia tidak tahu apakah pantas diperlakukan seperti ini atau tidak. Pola pikir mereka memang berbeda. Gadis itu menatap punggung bergetar milik Elca yang perlahan bangkit dan menjauh dari sana. Mata Izora tertuju pada pecahan pot dan segera mengambil sapu untuk membersihkannya.
Di kamar Saira sedang menatap sebuah objek dengan tajam. Alyne mengetuk pintu dan masuk menemuinya.
"Apa kau sudah menyuruh Elca pergi?" tanya Saira kepada Alyne.
"Sudah," jawab Alyne pelan.
__ADS_1
"Gadis itu terlalu polos, aku harus membuat Yudi berpikir kita membuang gadis itu!"
Alyne tampak mengernyit bingung, sebenarnya apa yang sedang direncanakan oleh gadis itu. Ia tidak bisa menjangkau pikirannya.
"Apa maksudmu, kamu sudah mengetahui semuanya?"
Saira menganguk, "Sehari sebelum berkas tersebut hilang, Elca menunjukkan gelagat aneh. Aku sengaja memasang sebuah kamera kecil di sudut ruangan untuk mengetahuinya."
"Apa yang membuatmu curiga?" tanya Alyne.
"Dia selalu memperhatikan ruanganku, beberapa kali sempat kupergoki. Itu saja."
"Aku hanya ingin memberinya pelajaran agar tidak lagi melakukan kesalahan yang fatal. Kau tahu bukan, aku tidak menyukai segala hal tentang penghianatan."
"Apa kita akan membiarkan dia di luaran sana?" tanya Alyne.
"Tentu saja tidak, aku akan menyuruh seseorang untuk mengikuti dan memantau semua kegiatannya."
Dari balik pintu, Elca mendengar semuanya. Ia tidak tahu kalau Saira masih memikirkannya. Jelas-jelas ia sudah mengecewakan mereka berdua. Elca terisak dan segera pergi tanpa pamitan secara langsung. Ia hanya meninggalkan secarik kertas di bawah pintu.
__ADS_1
Izora sudah selesai membersihkan lantai dari pecahan dan sekarang ia menatap Elca yang beranjak dari sana.
"Apa kamu akan benar-benar pergi?"
"Aku harus pergi Zora, kesalahanku sudah sangat fatal, aku tidak bisa lagi dimaafkan."
"Tapi apa tidak ada yang kamu tinggalkan misal salinan atau apa?" tanya Izora serius. Elca menggeleng dan segera pamit dari sana dan gadis itu hanya menatap punggung Elca dengan sedih.
Di rumah lainnya, Yudi merayakan keberhasilannya dalam menghancurkan harapan Saira. Mereka sudah berhasil mengelabui Elca dan sekarang ia akan membuat Elca menyesal atas apa yang sudah ia lakukan. Lagi pula, anak buahnya mengatakan gadis itu sudah ditendang dari kediaman Saira dan hal itu akan dimanfaatkan olehnya.
"Kita akan mengambil kesempatan ini untuk membalas mereka Ayah."
Wira tampak sangat senang mengenai pekerjaan putranya yang tidak mengecewakan. Namun, mereka melupakan satu hal.
"Bukti tersebut bukan yang asli!" Saira menatap Alyne dengan senyum misterius.
--------
Nah, masih mencoba melawan? 🤣🤣🤣🤣
__ADS_1