
"Mama, jangan seperti ini, Mama bisa sakit." isak Izora menenangkan ia menatap benci ke arah Saira yang sedang menatap mereka dingin.
"Memangnya kau siapa hah? Beraninya melakukan ini pada Mama saya."
"Saya hanya sahabat Saira, tapi setidaknya dia bisa menganggap saya sebagai sandarannya. Bahkan di saat kalian semua membuangnya, merasa tidak berharga. Aku datang dan memeluknya, mengatakan hidupnya sangat berharga tapi kalian semua! Hanya terpaku pada satu titik permasalahannya. Cih, bahkan tangisan tidak pantas untuknya!"
Saira segera pergi meninggalkan keduanya di sana. Emosi yang meledak-ledak membuat ia tidak kuasa menahannya. Kemarahan membawa diri ke sebuah pantai dan berteriak kencang meluapkan segala yang mengganjal. Ia menangis, marah dan dendam pada masa lalu yang menjadikan hidupnya seperti di neraka.
"Kenapa Saira, setelah kamu mati! Mereka berlagak baik padamu, kemana mereka saat kamu membutuhkan dukungan!" Saira tertawa mengejek, ia tidak percaya dengan apa yang mereka perbuat setelah kematian.
"Mereka lucu sekali, seolah kepergianku sangat menyakiti mereka semua, mereka sungguh sangat lucu Saira!" ia kembali tertawa, setelah itu kembali menangis.
Aksa yang saat itu sedang ingin cuci mata, melihat Saira yang sedang menangis membelakangi tubuhnya. Dengan pelan ia menghampirinya. Ia mengenali sosok tersebut, keheranannya tampak jelas saat melihat bahu itu bergetar hebat.
"Nona Eve!" panggilnya.
Saira mendengar namanya dipanggil, ia segera melihat ke sisi kiri dan melihat Aksa berdiri di sana. Ia segera menghapus air matanya.
"Apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Aksa sedikit khawatir melihat kondisi Saira yang jauh dari kata baik. Namun, ia tidak berani bersikap lancang.
__ADS_1
"Anda sendiri sedang apa di sini?" tanya Saira enggan berbalik. Ia memunggungi tubuh Aksa.
"Saya sedang mencoba cuci mata, tapi ternyata ada yang sedang menangis di sini."
"Memangnya tidak boleh menangis!" sarkas Saira.
"Bukan begitu, Anda bisa menangis di mana pun dan kapan pun."
"Ngomong-ngomong apa yang membuat Anda menangis?" tanya Aksa dengan penasaran.
"Hanya teringat sedikit luka dari masa lalu. Jangan memanghilku Anda, panggil saja namaku." Saira mengalihkan tatapannya pada Aksa. Ia melihat dengan datar.
Aksa terlihat menarik napas dengan panjang dan ikut duduk bersama Saira menghadap lautan.
"Aku pernah, tapi terlambat menyadarinya!"
Saira tersenyum mengejek, "Pria memang begitu, terlalu banyak keinginan sehingga melupakan siapa yang sebenarnya dia butuhkan."
Aksa seperti tertohok dengan kalimat Saira barusan. Ia memang sangat bodoh karena menyia-nyiakan wanita seperti istrinya. Semua hanya karena kesalahan. Ia melupakan sebuah takdir yang sudah ditulis untuknya.
__ADS_1
"Apa dia pergi bersama pria lain yang lebih mencintainya?"
Aksa menggeleng meski pun ia tahu Saira tidak melihatnya. "Tuhan lebih menyayanginya."
Saira kembali tersenyum mengejek. Bahkan pria yang kini di sampingnya seolah sangat kehilangan.
"Mungkin Tuhan membawanya agar kamu menyadari perasaanmu yang sebenarnya. Kamu tahu, terkadang sesuatu baru disadari kehadirannya saat sudah tiada."
"Kamu benar Eve, andai waktu bisa diputar kembali." desahnya.
"Itulah kenapa Tuhan tidak menyediakan tombol untuk memutar waktu." kekeh Saira dan kembali menatap lautan.
"Ya, kamu benar," desahnya.
"Lalu apa kamu pernah mencintai pria?" tanya Aksa penasaran.
Saira menganguk, "Aku mencintai dirinya seolah tidak ada lagi pria lain di dunia ini. Aku tahu itu adalah kebodohan terbesarku."
Entah kenapa kalimat Saira barusan sangat menusuk di hati Aksa. Ia seolah ditikam benda tak kasat mata dari depan.
__ADS_1
-----------