
Romeo melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, perutnya sudah keroncongan menahan lapar karena sibuk bekerja. Ia belum sempat mempekerjakan asisten rumah tangga lantaran kesibukannya. Bahkan tidak mengerti bagaimana cara mengambil yang amanah.
"Perutku rasanya mau pecah karena sangat lapar."
Ia menuju sebuah restoran yang tidak jauh dari Woorpecker caffee, tempat Saira makan malam. Ia menjangkau ponselnya yang ia letakkan di dashboard mobilnya. Namun, tanpa sengaja tersenggol karena tangannya gemetar.
Ia mencoba mengambil ponsel itu, setelahnya ia dikejutkan oleh seorang wanita yang berlari pincang. Di belakangnya jugs terlihat dua pria berbadan besar mengejarnya. Untung kakinya dengan cepat menginjak rem.
Karena beberapa tekanan, Saira mengalami syok dan jatuh pingsan. Romeo yang memang sedang dalam kondisi yang tidak menguntungkan untuk adu jotos pun. Segera membawa tubuh Saira dengan susah payah. Ia masuk ke mobil dan segera melaju dengan cepat membelah malam.
"Sial, perutku sudah tidak bisa diajak kompromi."
Ia tidak akan sempat mampir ke restoran dengan kondisi seperti ini. Dengan pelan ia meminggirkan mobilnya dan segera memesan nasi goreng podomoro di rumah makan biasa. Setelah menunggu sekitar 10 menit, ia segera menyantap makanannya di sana.
Setelah selesai Romeo membayar dengan pecahan seratus ribu rupiah dan segera pergi tanpa menerima kembaliannya. Makanan seenak itu saja disajikan dengan harga murah, ia tentu harus memberi harga lebih kepada pemiliki rumah makan.
__ADS_1
"Kemana harus kuantar gadis ini," ucap Romeo berusaha berpikir keras.
"Mungkin ke apartemen aja, sambil nunggu dia sadar."
Romeo segera menjalankan mobilnya menuju apartemennya. Ia segera turun setelah sampai dan membawa tubuh Saira menuju lantai lima belas. Ia segera membaringkan tubuh Saira di sofa. Romeo sedikit terkejut melihat kaki serta lutut gadis itu terluka.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan malam-malam begini, sampai dikejar oleh penjahat."
Romeo menggelengkan kepala melihat luka itu. Ia berjalan ke dapur untuk mengambil air panas beserta seuntai kain untuk mengompresnya. Sesekali dia merasa ngilu saat membersihkan kerikil kecil yang bersemayam di sela-sela lukanya. Selesai dengan itu, ia segera mengambil sebuah kain beserta bantal untuk gadis itu. Namun, ia terpana melihat wajah itu.
Ia mencoba membongkar ingatannya dan satu memori tentang gadis itu berputar di kepalanya.
"Bukankah dia gadis yang dulu diperkenalkan oleh Bibi Halena kepadaku?"
Ia kembali mengingatnya dengan baik, lalu menggeleng. Seingatnya gadis itu berada di Australia bukan di Indonesia. Tapi ia baru menyadari sesuatu.
__ADS_1
"Apa gadis ini, Evellyn?"
Seketika Romeo syok dan kaget. Ia tidak menyangka pertemuannya dengan gadis itu, sangat dramatis.
Tapi ia bersyukur pada perutnya yang meronta. Kalau tidak, mungkin Saira sudah celaka.
Di lain tempat, Alyne sedang menunggu kepulangan Saira dengan cemas. Ia sempat memanggil nomor Saira. Namun, tidak ada jawaban sama sekali. Ia melihat jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Sesekali ia menguap dan menahan kantuk yang menyerang. Malam itu Alyne tertidur di sofa ruang tamu hingga pagi menjelang.
Saira membuka matanya pelan, tepat jam dua dini hari. Ia melihat ke sekeliling dan begitu asing dengan tempat ia berada saat ini. Kakinya hendak menyentuh lantai, tetapi sebuah ringisan kecil berhasil keluar dari bibirnya.
"Siapa yang menolongku tadi malam," ucap Saira penasaran.
------
Guys maaf aku baru update wkakakwk... sengaja nggak update karena jaringanku pulkam tadi. Saweran jangan lupa, jangan lupa saweran. lupa saweran jangan. lupa jangan saweran.
__ADS_1